Keluarga Bom Bunuh Diri Surabaya Baru Pulang ‘Belajar’ dari Suriah

Keluarga Bom Bunuh Diri Surabaya Baru Pulang ‘Belajar’ dari Suriah

TEROR - Kapolri Jendral Tito Karnavian, menyatakan ada 500-an orang yang baru pulang belajar strategi teror dari Suriah, termasuk keluarga pelaku bom bunuh diri Surabaya ini. (Ist)

SHNet, JAKARTA – Luar biasa, satu keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja: Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Surabaya, Jawa Timur memang baru pulang ‘belajar’ dari Suriah.

Satu keluarga pelaku bom bunuh diri Surabaya itu terdiri dari Dita Priyanto (ayah), yang bunuh diri di GPPS Arjuna dengan mobil Avanza, Puji Kuswati (Istri Dita), di GKI Diponegoro, berjalan kaki ke gereja dan memakai cadar, Fadila Sari (anak berusia 12) jalan kaki memakai cadar, Pamela Rizkita (anak berusia 9) jalan kaki memakai cadar di GKI Diponegoro, Yusul Fadil (anak usia 18, pakai motor di Gereja SMTB, Firman Halim (anak usia 16) juga pakai motor di Gereja SMTB.

Menurut Kapolri Jendral Tito Karnavian, satu keluarga ini baru pulang dari Suriah. Di Suriah mereka belajar strategi teror. “Masih ada 500-an orang lagi yang masih berkeliaran.Yang kembali dari Suriah 500, termasuk di antaranya keluarga Dita Priyanto ini,” kata Tito yang menyatakan hasil investigasi tim Polri, dalam konferensi pers mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5) malam.

Tito juga menambahkan kalau mereka ini ke Suriah bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia. Mereka di ISIS belajar strategi teror, kemiliteran dan membuat bom. Ketika kembali ke Indonesia, UU Teroris Indonesia tidak bisa menghukum tindakan tersebut sehingga itulah yang mereka lakukan.

“Revisi UU jangan terlalu lama, sudah 1 tahun ini. Kita tahu sel-sel mereka tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. UU 15/2003. Kita akan bisa bertindak kalau mereka melakukan aksi, jadi kita menunggu aksi dulu baru bisa bertindak. Begitu undang-undangnya,” ujar Tito sesal.   (Nonnie Rering)