Kades Ohoinol diminta Nomorsatukan Kepentingan Warga Desa

Kades Ohoinol diminta Nomorsatukan Kepentingan Warga Desa

TERBATAS - Sarana air bersih yang notabene untuk keperluan sehari-hari warga desa Ohoinol, Maluku Tenggara, dan juga kebutuhan pertanian sangat terbatas. (Ilustrasi)

SHNet, JAKARTA – Hingga memasuki paro 2018, kecamatan Kei Kecil Timur relatif masih terdiskriminasi. Padahal wilayan ini tak terlalu jauh dari ibukota kabupaten. Termasuk wilayah subur pertanian. Tapi karena tak didukung infrastruktur jalan yang memadai, kecamatan ini terus saja masuk wilayah terdiskriminasi.

Sarana air bersih yang notabene untuk keperluan sehari-hari warga dan juga kebutuhan pertanian sangat terbatas. Mirisnya, Pemda Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) seolah tutup mata akan hal ini.

Dari pantauan SHNet beberapa waktu lalu, sarana jalan menuju wilayah pertanian memang belum terakses jalan Hotmix dan masih berupa jalan aspal berkerikil kasar dan banyak sekali jalan berlubang di sana sini. Proyek Pembangunan Air Bersih dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PANSIMAS) pada 2017 yang kabarnya didukung Bank Dunia, juga belum bisa dinikmati warga setempat.

Adalah desa Ohoinol yang sudah merancang pekerjaan untuk sumber air bersih ini sejak 2017.  Ada satu menara air yang sudah selesai dikerjakan, pada Juni 2017 lalu. Anehnya, tetap saja tak ada air bersih masuk ke rumah-rumah seperti yang dijanjikan dari program ini.

Tak heran, lantaran pipa yang terhubung ke rumah-rumah warga, masih dikerjakan secara sembarangan. Ada pipa paralon yang menuju rumah warga, tapi saat dihubungkan ke pipa besi induk hanya cukup dicolok ke lubang pipa besi induk tersebut. Alhasil, pipa paralon patah tepat di lobang colokan itu.

Menariknya, Dinas PU Kabupaten Malra kerap berkoar-koar menyangkut klasterisasi pembangunan air bersih untuk daerah-daerah di pesisir dan pinggiran kota. Seolah-olah mereka peduli dan sudah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat setempat yang kesulitan air besih selama ini.

Seharusnya Program air bersih di Pulau Kei Kecil yang masuk dalam wilayah Kabupaten Malra tak bermasalah karena sumber air di Efu cukup besar yakni 1.435 liter/detik, mampu melayani 90 persen warga di Pulau Kecil, sedangkan untuk kebutuhan air di Kei Besar belum semuanya terpenuhi.

Meski begitu, Pejabat Kepala Desa Ohoinol, Thomas Lefubun seperti menutup mata dan seolah berjalan beriringan dengan Dinas PU Kabupaten Malra.

Saat dikonfirmasi media, Kades sama sekali tak membela masyarakatnya yang kesulitan air bersih, tapi ia terkesan menutupi borok yang dilakukan Dinas PU selama ini. Sebaliknya, ia justru tak berdiri di belakang rakyatnya dengan menekan Dinas PU maupun pihak yang terlibat dalam pekerjaan ini, tapi malah menjadi juru bicara untuk membela pihak-pihak tertentu.

Saat dihubungi media, Thomas mengaku pekerjaan itu sementara berjalan. Kenyataannya, bukti yang ada di lapangan dari pantauan langsung menunjukkan kalau pekerjaan sudah mandek sejak Juni 2017 lalu.

Ketika hal ini kembali di konfirmasi, ia hanya berujar pendek “Oh iya karena memang masih diusahakan,” ujarnya beberapa waktu lalu. Kamis (24/5) ketika akan dikonfirmasi lagi, ponsel Kades sudah off.

Salah satu warga desa Ohoinol yang tak mau disebutkan identitasnya, ketika dihubungi media, berharap Kades Ohoinol bisa segera merubah pola pikirnya untuk lebih pro rakyat dengan menomorsatukan kepentingan warga desa ketimbang ikut kongkalikong dengan Dinas PU.   (Nonnie Rering)