Buku Baru Tentang Gestapu 1965

Buku Baru Tentang Gestapu 1965

Jakarta, 22 Mei 1973 – Perpustakaan ilmiah tentang peristiwa Gestapu 1965 telah diperkaya lagi oleh karya seorang sarjana ilmu politik Belanda Mr. A. Dake yang berjudul “In the Spirit of the Red Banteng”. Buku tersebut dikeluarkan oleh badan penerbit Mouton di Den Haag.

Mr. Dake dulunya adalah seorang wartawan dan bukunya setebal 479 halaman itu merupakan disertasinya di Freie Universitas di Berlin dan berhasil menggondol gelar Doctor cum laude.

Ulasan van Gastel
P. van Gastel, Redaktur masalah Indonesia pada mingguan Belanda “NRC Handelsblad” (edisi luar negeri tanggal 8 Mei yang lalu) menyoroti karya Mr. Dake itu sebagai berikut :

Buku tentang Indonesia biasanya terlalu tebal. Itu dapat dimengerti karena mereka yang memperdalam diri dalam permasalahan Indonesia memperoleh bahan yang amat menarik sehingga ceritanya pun susah diakhiri, apalagi kalau si pengarang merasa terlibat dalam cakupan bahannya.

Lagipula perkembangan di Indonesia ditinjau dari berbagai sudut sungguh “lain” sehingga perlu menguraikan keseluruhan faktor geografi, klimatologi, tekhnis, budaya, ekonomi dan kemasyarakatan. Dengan demikian pembaca dapat diyakinkan bahwa cerita tentang Indonesia bukan sekedar kumpulan anekdote saja tapi memang punya ciri khas yang satu sama lainnya ada sangkut pautnya.

Buku Mr. Dake menguraikan perkembangan PKI yang pada mulanya berkiblat ke Moskow tapi kemudian merupakan pengaruh dominan yang mengarah ke Peking. Klimaks dari buku ini adalah analisa dari kup yang gagal pada tanggal 30 September 1965 yang kemudian mengakibatkan tamatnya karir politik Soekarno.

Buku ilmiah
Perlu diingat dua hal dalam menilai hasil galian ilmiah ini.
Pertama, buku ini merupakan suatu sorotan khusus dan bukanlah penulisan sejarah secara integrasi.
Soal yang penting seperti pemikiran politik di kalangan tentara dan kedudukan kaum Islam secara relatif kurang diperhatikan.
Kedua, harus diingat bahwa pertentangan Peking – Moscow adalah masalah yang bukan – Indonesia.

Karena persoalan pokok di Republik Indonesia adalah komponen mana dari gerakan nasiolistis yang punya peranan memimpin PKI bukanlah barang impor dari sebuah negara komunis tetapi salah satu dari gerakan kebangsaan yang dicetuskan sejak awal abad ini.

Pergeseran perhatian dari Moskow ke Peking yang terjadi pada PKI sebenarnya lebih merupakan suatu akibat dan bukanlah sebab dari perkembangan di dalam negeri yang serba kompleks.
Karya Mr. Dake ini antara lain memuat keterangan mantan seorang staf Soekarno.

Intinya, bahwa Soekarno sendirilah yang memerintahkan aksi kup tersebut dan memang dapat dicari keterangan serasi yang dapat menerangkan hal yang masih samar. Misalnya bahwa Soekarno sehari penuh secara tenang berada di kalangan pemberontak kiri. Adapun yang mengherankan ialah bahwa PKI amat kurang persiapannya.

Keterangan yang disimpulkan Mr. Dake ialah, bahwa pihak yang terlibat menunggu sampai Soekarno sendiri menangani situasi revolusioner yang baru itu.
Demikian P. van Gastel dalam NRC baru-baru ini. (SH/Asp)