Anwar Ibrahim Keluar Penjara , Mahathir Mohmmad dan Mimpi Buruk Malaysia

Anwar Ibrahim Keluar Penjara , Mahathir Mohmmad dan Mimpi Buruk Malaysia

Mahatir Muhammad (tengah)

Oleh Aju

SHNet, JAKARTA – Otoritas berwenang di Federasi Malaysia, melaporkan, mantan Deputi Perdana Menteri Datuk Anwar Ibrahim yang sekarang berusia 70 tahun, dibebaskan dari penjara terhitung, Senin, 11 Juni 2018.

Kepastian jadwal pembebasan Datuk Anwar Ibrahim, disampaikan langsung oleh istri Datuk Anwar Ibrahim, yaitu Wan Azizah, sebagaimana dilansir laman Utusan Malaysia.com, Sabtu pagi (12/5).

Datuk Anwar Ibrahim, korban kriminalisasi politik Datuk Mahathir Mohammad yang sekarang berusia 92 tahun, saat menjadi Perdana Menteri Federasi Malaysia, 1988 – 2003.

Namun, situasi memang berubah. Dalam berpolitik, tidak ada kawan abadi. Kepentinganlah yang abadi, karena berhadapan dengan pragmatisme dan realitas kehidupan berpolitik.

Dulu, Datuk Anwar dipecat dari Wakil (Timbalan) Perdana Menteri Malaysia oleh Mahathir Mohammad, karena elektabilitasnya di publik dinilai terus membaik, sehingga bisa mengancam kedudukannya.

Usai dipecat, kemudian muncul tuduhan sodomi atas Datuk Anwar Ibrahim terhadap mantan ajudannya yang sampai sekarang tidak pernah terbukti. Kendati tidak pernah terbukti, Datuk Anwar Ibrahim, keburu dijebloskan ke dalam penjara, setelah upaya bandingnya ditolak tahun 2014, dan resmi masuk penjara selama lima tahun pada Februari 2015.

Dalam menghadapi Pemilihan Raya Umum ke-14 Tahun 2018, Rabu, 9 Mei 2018, Partai Harapan besutan Mahathir Mohammad berkoalisi dengan Partai Pakatan Rakyat besutan Anwar Ibrahim, sehingga mampu menumbangkan petahana Perdana Menteri Malaysia, Datuk Najib Tun Razak yang kini berusia 64 tahun dari United Malays National Organization (UMNO).

Janji Suksesi Mahathir

Hanya beberapa jam usai dilantik kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia, Kamis malam (10/5/2018), Mahathir Mohamad, menegaskan, Raja Malaysia, setuju memberikan pengampunan bagi Datuk Anwar Ibrahim.

Langkah ini memperkuat analisis berbagai pihak, materi koalisi mengikat Pakatan Rakyat (Mahathir Mohammad) dan Partai Harapan (Anwar Ibrahim), di dalamnya harus menyangkut status hukum Datuk Anwar Ibrahim.

Utusan Malaysia.com, melaporkan, Yang di-Pertuan Agong, Sultan Muhammad V menyatakan kesediaan memberi pengampunan kepada Penasihat Partai Pakatan Rakyat, Datuk Seri Anwar Ibrahim selepas pemimpin tertinggi Pakatan Harapan menghadap Seri Paduka, Jumat malam (12/5).

Banyak spekulasi muncul, pasca kembali berkuasanya Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Terutama soal manifesto politik Mahathir Mohammad, Kamis malam, 10 Mei 2018, sebelum dilantik Menjadi Perdana Menteri Malaysia, dengan menegaskan, dimana membongkar kasus korupsi 1Malaysia Development Berhard (1MDB) sebuah bank milik negara yang diklaim merugikan negara Rp142 triliun, dan dituding di antaranya masuk kantor Najib Tun Rajak senilai Rp9,3 triliun.

“Tangkap MO1,” teriak Mahathir Mohamad, dalam manifesto politiknya yang disambut tepuk tangan riuh ribuan pendukungnya. Tak ayal lagi, materi rekaman pidato manifesto politik Mahathir, begitu cepat menyebar di seantero dunia, lengkap dengan terjemahan dari Bahasa Malaysia ke Bahasa Inggris dan China.

MO1 singkatan dari Malaysia Officer One (1), artinya para pengendali utama di 1MDB, badan usaha milik negara di sektor perbankan terbesar di Malaysia. Tentu Najib salah satu maksud Mahathir. 1MDB dibangun Najib Tun Razak tahun 2009, dalam rangka menggenjot pertumbuhan ekonomi mikro di Malaysia.

Tapi aset perusahaan 1MDB senilai Rp13, triliun, kemudian disita di Amerika Serikat atas dugaan praktik pencucian uang, sebagaimana dilaporkan Reuters.com, Jumat, 22 Juli 2016.

Mengutip mstar.com.my, Rabu, 11 Maret 2015, Mahathir Mohammad kemudian menuding komplotan Datuk Najib Tun Razak patut diduga sembunyikan uang 1MDB di Kepulauan Cayman, Britania Raya, senilai RM4 bilion.

Beberapa saat kemudian, sejak Jumat tengah malam (11/5/2018), muncul rekaman visualisasi di berbagai media sosial, divisualkan tumpukan uang dan perhiasan mewah diklaim milik keluarga Datuk Najib Tun Razak, telah disita aparat kepolisian. Disebutkan pula, paspor Najib dan istrinya telah disita polisi, sehingga tidak bisa berpergian ke luar negeri.

Manifesto Mahathir yang lain berimplikasi kepada ketidakpastian alam investasi di Malaysia, karena disebutkan, meninjau ulang seluruh kontrak karya yang merugikan Malaysia.

Ini dimaknai pula meninjau ulang proyek investasi China yang sebelumnya diklaim Mahathir Mohammad tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat banyak di Malaysia, karena tenaga kerjanya selalu menggunakan warga China.

Soal kelanjutan karir politik Datuk Anwar Ibrahim, sekarang menjadi tidak jelas, usai dibebaskan dari penjara. Karena Mahathir Mohammad menyebutkan, kalau Anwar Ibrahim masuk kabinet butuh proses, karena harus ikut Pemilihan Raya Umum terlebih dahulu, dan kalau dalam Pemilihan Raya Umum dipilih menjadi anggota parlemen, baru bisa masuk kabinet.

Tentang janji Mahathir Mohammad, jika terpilih hanya mau jadi Perdana Menteri hanya buat dua tahun saja, pun sekarang menjadi bahan pertanyaan, apakah nanti diserahkan kepada Wan Azizah, istri Datuk Anwar Ibrahim, atau diambil dari kalangan internal partai yang didirikan Mahathir Mohammad sendiri dan atau dari partai politik beraliran opoisisi yang sebelumnya sudah lama bergabung dengan Mahathir.

Inilah hal-hal teknis politis pragmatis yang menjadi krusial selama pemerintahan Mahathir Mohammad di masa mendatang, dan bisa saja dalam takaran tertentu, berimplikasi mimpi buruk bagi masyarakat di Federasi Malaysia.

Posisi Anwar Ibrahim

Karena saatnya nanti, apabila kubu Anwar Ibrahim, jika tidak hati-hati di dalam mencermati irama gaya kepemiminan Mahathir Mohammad yang otoriter, anti kritik terhadap kepemimpinannya yang rasis (anti investasi China), bisa menjadi mimpi buruk bagi stabilitas politik di dalam negeri Federasi Malaysia.

Mengapa? Karena berkaca pada Mahathir Mohammad saat menjadi Perdana Menteri periode 1988 – 2003,  dikenal sebagai figur seorang politisi yang otoriter, sehingga tidak segan-segan menghabiskan lawan politiknya dengan berbagai cara.

Di antaranya pencopotan Anwar Ibrahim dari Deputi Perdana Menteri, hanya lantaran elektabilitasnya melonjak naik, dan Anwar Ibrahim terlalu banyak bicara di publik di luar penggarisan Mahathir Mohammad.

Semua orang paham, salah satu kunci kemenangan Mahathir Mohammad untuk mengalahkan Najib, faktor Anwar Ibrahim yang bersedia bergabung, lewat istrinya, Wan Azizah.

Mahathir tahun 2015 keluar dari United Malays National Organization (UMNO) dan mendirikan partai baru berhaluan pemangkang, yaitu Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM).

PPBM kemudian membuat koalisi baru bernama Partai Harapan, beranggotakan partai oposisi lainnya, yaitu Partai Keadilan Rakyat, Partai Amanah Negara, Partai Aksi Demokrasi. Mahathir Mohammad melalui Partai Harapan, kemudian berhasil merangkul Partai Pakatan Rakyat, besutan Anwar Ibrahim.

Matahari kembar

Saat Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak, melalui kewenangan dimilikinya membubarkan PPBM, partai politik besutan Mahathir Mohammad, Kamis, 5 April 2018, tapi Mahathir Mohamad tetap maju sebagai Calon Perdana Menteri Independen.

Karena di dalam Partai Harapan, masih ada partai oposisi lain sebagai pendukung, yaitu Partai Keadilan Rakyat, Partai Amanah Negara, Partai Aksi Demokrasi, serta ditambah Partai Pakatan Rakyat (Anwar Ibrahim).

Itulah sebabnya, partai politik yang berkuasa di bawah Datuk Najib Tun Razak, yaitu UMNO, beranggotakan Malaysian Chinese Association (MCA), Malaysian Indian Congress (MIC) yang berkuasa sejak 1962, berhasil dikalahkan kalangan oposisi, pimpinan politisi gaek Mahathir Mohammad.

Berangkat dari kenyataan ini, bukan hal yang mustahil, jika pada saatnya nanti publik di Federasi Malaysia dipertontonkan praktik perseteruan terbuka antara Mahathir Mohammad dan Anwar Ibrahim.

Datuk Anwar Ibrahim, memang sejak awal dikenal publik sangat moderat, dengan tata kata dan tata bahasa yang santun apabila bicara di publik.

Tapi Mahathir Mohammad, dipastikan menjadi tidak senang, apabila Anwar Ibrahim, terlalu banyak bicara dipublik. Langkah paling aman dilakukan Datuk Anwar Ibrahim, setelah ke luar dari penjara, menunggu momen yang tepat untuk berkiprah secara konkret terjun di bidang politik.

Paling tidak menunggu sampai tingkat kesehatan Mahathir Mohammad sudah tidak memungkinkan lagi berkiprah di bidang politik, mengingat sekarang usianya sudah mencapai 92 tahun.

Mahathir Mohammad akan melakukan langkah politik yang menghalalkan secara cara, apabila terbukti ada matahari kembar (Mahathir Mohammad dan Anwar Ibrahim) di Malaysia.

Setelah duduk di tampuk kekuasaanya, terhitung Kamis, 11 Mei 2018, pada dasarnya musuh politik utama dari Mahathir Mohammad, bukan mantan Perdana Menteri Federasi Malaysia, melainkan kualitas penerimaan publik dan atau respons positif publik di Federasi Malaysia terhadap figur Datuk Anwar Ibrahim.