Warganegara RRT Adakan Demonstrasi Di Ibukota

Warganegara RRT Adakan Demonstrasi Di Ibukota

  Tunjukkan Kekuatannya Di Depan Masyarakat
 – Yi Direktur Federasi Umum China Dan Ketua Serikat Buruh Shantung

Jakarta, 21 April 1967 – Suatu demonstrasi para hoakiau atau perantauan warganegara RRT telah terjadi hari Kamis siang kemarin sewaktu mereka mengantarkan jenazah seorang agen mata-mata RRT bernama Yi Hsiao Yu yang di sini dikenal sebagai Ling Siang Yu yang telah bunuh diri sewaktu dalam tahanan polisi di Jakarta.

Sebagai disiarkan harian “SH” hari Selasa dengan nama “Li Shien Yu”, ditahan oleh pihak kepolisian karena dituduh menjalankan kegiatan subversi.

Para China perantauan itu mengadakan semacam demonstrasi untuk menunjukkan kepada masyarakat akan kekuatannya sewaktu mengantar jenazah Yi Ke Jelambar. Diduga sikap itu dikendalikan oleh Kedutaan Besar RRT di Jakarta dengan maksud mengeruhkan suasana.

Demonstrasi itu telah menimbulkan insiden dengan para petugas ABRI yang akan mengadakan penjagaan ketika mereka tiba di sekitar gedung kedutaan besar RRT di Jakarta Kota.
Akibat serbuan mereka terhadap petugas keamanan yang bermaksud menertibkan barisan telah dilepaskan tembakan peringatan ke atas, tapi tidak dihiraukan sehingga insiden itu semakin luas.

Sikap congkak itu menimbulkan kemarahan pemuda-pemuda Indonesia. Korban manusia tidak ada, tetapi ada beberapa luka-luka dan diangkut ke gedung kedutaan besar RRT.

Beberapa diantara mereka dengan menaiki berbagai jenis kendaraan bermotor beroda dua telah menyebarkan pamflet berhuruf China dan potret-potret Yi Hsiao Yu disepanjang jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk serta teriak-teriak berbahasa China.

Demonstrasi dimulai sekitar jam 14:00 di daerah Slipi melalui Tanah Abang dan berakhir kira-kira tiga jam kemudian di Jakarta Kota.

Bunuh diri, takut diketahui
Pusat penerangan AKRI menerangkan, bahwa Yi Hsiao Yu telah diciduk kepolisian untuk diperiksa karena sudah sejak lama melakukan kegiatan subversi yang merugikan pemerintah Indonesia.

Pada pemeriksaan pertama kali kurang lebih dua jam ia telah menyatakan bersedia untuk menerangkan jaringan rahasia mata-mata RRT di Indonesia.
Untuk itu ia minta waktu beristirahat, tapi ternyata digunakan untuk percobaan bunuh diri.

Ia ditangkap tanggal 8 April disuatu tempat di Ibukota, tapi tanggal 9 April mencoba bunuh diri dengan jalan membenturkan kepala ke tembok penjara Departemen AKRI.

Waktu itu ia masih dapat diselamatkan dan dirawat di sebuah rumahsakit karena luka-luka tidak berbahaya ia dikembalikan ke penjara.

Tapi tanggal 11 April sekali lagi ia mencoba bunuh diri dengan jalan menyiram badannya dengan air panas mendidih dan akhirnya meninggal di rumahsakit tanggal 14 April jam 12:30.
dijelaskan, bahwa oknum ini ternyata seorang anggota militer China.

Sudah dipesan
Didapat keterangan, bahwa mayat Yi Hsiao Yi mula-mula diserahkan oleh yang berwajib kepada keluarganya dengan pesan resmi, bahwa mereka boleh melakukan upacara pemakaman biasa, tetapi tidak melakukannya secara demonstratif.

Tapi kesempatan ini digunakan untuk melakukan demonstrasi besar-besaran pada Kamis siang, seolah-olah hendak mengadakan show of force. Ini berarti suatu pelanggaran dengan senagja terhadap larangan tersebut.

Sementara itu mereka telah mengedarkan pamflet gelap yang berbunyi seperti ini :
“Ling Siang Yu ditangkap pemerintah dengan liar dan disiksa 14 April 1967 dimatikan. Ling Siang berjiwa gagah berani dan jujur dan tidak takut apa-apa dan sosial terhadap masyarakat, di samping itu dalam usaha persahabatan Tiongkok dan Indonesia telah menyumbangkan tenaganya.

Ia lebih suka menolong orang yang susah dan tidak mengenal lelah. Perantauan China harus menghormatinya dan atas kejadian kematian Ling Siang Yu harus balas budinya. Mayat Liang tanggal 18 April 1967 berada di RS Slamet untuk menyelanggarakan tempat berduka cita. Hari pemakaman dipilih dan belum ditentukan. Panitia kematian Ling Siang Yu”.

7 pucuk senjata pistol dan enam potong emas murni telah berhasil disita oleh rakyat dan ABRI di dalam aksi pembersihan terhadap orang China didaerah tempat tinggal keturunan China di Gang Kancil, Jakarta, Kamis siang.

Aksi pembersihan tersebut dilakukan sebagai kelanjutan dan jawaban spontan dari rakyat bersama-sama ABRI terhadap tindakan dan hinaan yang dilakukan oleh WNA China ketika melakukan demostrasi liar pada hari yang sama dalam rangka penguburan mayat Ling Siang Yu (Yi Hsiao Yu) yang diduga adalah mata-mata RRT. Demikian berita Antara.

Diantara senjata yang dapat disita tersebut diketahui mempunyai ijin dari yang berwajib, antara lain seperti Khie Siong memiliki Colt Pistol No. 803690 dengan ijin Kodim Kebayoran Baru, John. D memiliki Vicker Pistol No. 9888 dengan ijin Kodam V Jaya, Dj. Guntur Colt No. 204166 dengan ijin Skogar.

Di samping itu sebuah Honda No. B 5125, telah pula disita karena pemiliknya bernama Sj memliki sepucuk senjata pistol tanpa ijin.
Dalam pada itu diperoleh keterangan, bahwa kira-kira jam 20:00 Kamis malam di depan Gang Kancil, RW 8, Jakarta Kota, telah berhenti sebuah Mazda yang berisi tiga orang China.

Seorang diantaranya turun dan tiba-tiba melepaskan tembakan yang tidak tentu arahnya.
Hansip Hanra setempat yang melihat kejadian tersebut bersama-sama rakyat segera turun tangan dan melakukan pengejaran, seorang diantaranya berhasil ditangkap sedangkan dua orang lainnya melarikan diri bersama-sama Mazda-nya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, China yang tertangkap tersebut diserahkan kepada yang berwajib.
Pemerintah RRT telah menyampaikan protes keras kepada Departemen Luar Negeri RI di Jakarta mengenai tuduhan bahwa seorang warganegaranya telah ditangkap polisi “dan dianiaya sampai meninggal di dalam penjara”.

Protes tersebut menurut Radio Peking yang dikutip kantor berita Reuter di Hongkong, telah diajukan hari Selasa yang lalu oleh kedutaan besar RRT di Jakarta.
Warganegara RRT itu ialah Yi Hsiang Yu, direktur organisasi apa yang disebut federasi umum China diperantauan dan ketua serikat buruh Shantung yang dikabarkan sudah tinggal di Indonesia selama 30 tahun.

Protes RRT itu meminta pemerintahan Indonesia “supaya minta maaf, menghukum mereka yang bersalah dan memberikan ganti rugi kepada keluarga Yi serta menghentikan pengejaran terhadap warganegara China”.

“kalau tidak pemerintah Indonesia akan bertanggung jawab atas segala konsekwensi yan gakan timbul”, demikian nota. (SH)