Tani Pekarangan sebagai Solusi Kemiskinan

Tani Pekarangan sebagai Solusi Kemiskinan

Tani Pekarangan (Ist)

Oleh Khoiril Anwar

SHNet – Kita tidak akan bisa menjawab problem mengolah lahan luas manakala tidak mampu mengolah lahan terbatas.

Jutaan buruh tani. Jutaan anak-anak mereka mengikuti arus kehidupan orangtuanya. Rumahtangga yang rapuh dalam ekonomi. Lemah dalam urusan sosial. Tidak memiliki visi hidup. Tidak tahu arah kesejatian hidup sebagai manusia. Tidak memiliki cara untuk mengubah keadaan diri sendiri.

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia seperti itu mudah dideteksi dari istilah-istilah baku negara pada “keluarga pra-sejahtera (sangat miskin), keluarga sejahtera I (Miskin), rendah partisipasi usia wajib belajar, rumah tidak layak huni, sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) tidak layak pakai, berebut jatah beras miskin. Tidak memiliki tanah untuk usaha. Belepotan mencari penghasilan. Perkawinan usia dini terus berjalan. Kualitas gizi bayi rendah bahkan buruk, dan seterusnya.

Modernisasi telah membawa kita untuk lebih cerdas dalam banyak hal. Tetapi faktanya, problem keterbelakangan atau marjinalisasi  akibat kesenjangan sosial itu tidak teratasi secara tepat sehingga menjadi beban negara.

Kami di Yayasan Odesa-Indonesia sadar bahwa untuk mengubah keadaan itu, seyakin-yakinnya bukan semata karena anggaran. Sebab fakta anggaran selalu ada, tetapi keadaan tetap nihil. Bahkan di banyak tempat, perubahan-perubahan kualitas hidup manusia yang terjadi justru bukan karena peran anggaran negara, melainkan karena peran konkret tindakan-tindakan kecil yang tepat sasaran.

Ilmu usaha Tani Pekarangan misalnya, adalah sesuatu penting dilakukan. Orang-orang terpelajar bisa membangun pengetahuan lebih cepat melalui internet, tetapi cepat mengetahui bukan berarti bisa mengubah keadaan, karena keadaan itu hanya bisa diubah manakala pengetahuan terwadahi dalam proses “penggorengan” di medan kehidupan konkret di lapangan. Tani pekarangan adalah usaha paling memungkinkan untuk menjawab rendahnya kualitas kehidupan rumahtangga, terutama di pedesaan. Bahkan selagi ada tanah beberapa meter persegi, usaha tani bisa diterapkan di perkotaan. Dan peran orang-orang berpendidikan mesti memainkan hal ini untuk pendampingan keluarga lapisan bawah.

Tani Pekarangan bisa menjadi pintu masuk mengatasi problem para petani yang lahannya sempit atau hanya memiliki pekarangan mini. Tani Pekarangan adalah usaha pembangunan ekonomi yang berkarakter kewirausahaan dan sekaligus berkarakter untuk kemandirian pangan, serta juga sangat berguna menekan konsumerisme kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan berdampak baik untuk kebersihan lingkungan rumah tangga. Telah terhampar fakta bahwa hanya dengan lahan terbatas model pertanian modern Square Foot Garden/ing banyak orang bisa meraih penghasilan yang baik.

Model konkret

Di Yayasan Odesa-Indonesia perbaikan ekonomi rumahtangga pertanian ini berjalan selama dua tahun melalui pembentukan kolektif kerja. Ada Kelompok Tani Pondok Buah Batu (KTPB) yang dipimpin oleh Ustad Nanang Muhammad Yusuf di Kampung Pondok Buahbatu Desa Mekarmanik. Ada Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani) yang dipimpin oleh Toha Odin di Kampung Waas Desa Mekarmanik. Ada Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) yang dipimpin oleh Ujang Rusmana di Kampung Cisanggarung Desa Cikadut, dan ada juga grup gerakan khusus Tani Pekarangan Cimenyan (Tapeci) yang dipimpin oleh Ansor Muzakir di Pasir Impun Desa Cikadut.

Khoiril Anwar

Pendamping kegiatan Ekonomi pertanian adalah Basuki Suhardiman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengawal kegiatan ini dengan melihat para petani bergerak dalam konteks peasant, atau keluarga petani kecil, dan bukan farmer yang memiliki lahan luas.  Kebanyakan petani Cimenyan sampai sejauh ini lebih memilih usaha tani sayur, dan tidak terkelola secara modern. Sebagian memanfaatkan usaha penggalian batu templek dan itu keadaannya tidak mencukupi sebagai matapencaharian. Budidaya tanaman pangan berkualitas dan tanaman obat digagas melalui lingkup kecil di pekarangan dan sebagian dijalankan di lahan-lahan terbatas para petani.

Inovasi menghadirkan tanaman baru dan penambahan tanaman-tanaman yang sudah ada seperti kopi juga dilakukan. Budidaya tanaman penghasil pangan penting seperti Padi Gogo, Sorgum, Bunga Matahari, dan lain-lain digagas karena pertimbangan lahan pertanian di Cimenyan sangat mendukung. Demikian juga tanaman penghasil gizi unggul seperti Kelor (Moringa Oleifera), Jeruk Nipis, Bidara, Binahong, Pegagan, Buah Tin, Rambutan, Daun Afrika, Parijoto, dan sejumlah buah jenis lain juga dibudidayakan.

Khoiril Anwar, Pendamping Keluarga Pra-Sejahtera Yayasan Odesa Indonesia Bandung.