Rencana Pembangunan Bendungan Lambo Terkendala Pembebasan Lahan

Rencana Pembangunan Bendungan Lambo Terkendala Pembebasan Lahan

SHNet, KUPANG-Masyarakat adat tiga desa yakni Butowe, Labolewa, dan Ulupulu di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum setuju melepas lahan seluas 431 hektar untuk pembangunan proyek strategis nasional (PSN) di wilayah itu.

Karena itu, maka rencana pembangunan Bendungan Lambo di Mbay hingga saat ini masih terkendala pembebasan lahan.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mohon dukungan semua pihak agar rencana pembangunan bendungan Lambo dapat terealisir.

“Saya minta dukungan kita semua agar segera wujudkan pelaksanaan proyek Bendungan Lambo,” kata Lebu Raya, Rabu (18/4/2018).

Provinsi NTT mendapat jatah tujuh bendungan melalui PSN dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ketujuh bendungan itu, lima bendungan berada di Pulau Timor, yaitu bendungan Raknamo, Temef, Rotiklot, Kolhua dan bendungan Manikin. Sedangkan dua bendungan lainnya di Pulau Flores, yakni bendungan Napun Gete dan bendungan Lambo.

“Bendungan terbesar di NTT yang sementara dikerjakan adalah bendungan Temef di Kabupaten TTS dengan kapasitas 77 juta meter kubik,” kata Lebu Raya.

Bendungan Lambo dengan kapasitas terbesar kedua di NTT, masih bermasalah pembebasan lahan memiliki daya tampung 50 meter kubik, Raknamo 4 juta meter kubik, bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu dalam waktu dekat akan diresmikan memiliki daya tampung 4 juta meter kubik dan bendungan Napun Gete di Sikka dengan kapasitas 14 juta meter kubik.

Ia berharap kerelaan semua pihak supaya pembangunan dapat berjalan baik demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat. “Mohon dukungan bagi terealisir pembangunan bendungan Lambo,” harap Lebu Raya.(DA)