Presiden Anjurkan Pers “Tepo Sliro”

Presiden Anjurkan Pers “Tepo Sliro”

Tingkatkan Mutu Dan Sadari Posisi Dan Fungsi

Jakarta, 5 April 1972 – Presiden Soeharto menekankan agar pers di Indonesia meningkatkan mutunya dan menyadari posisi serta fungsinya. Dikatakan oleh Presiden bahwa prajurit pena kalau menulis tidak kalah tajamnya dibanding dengan prajurit apabila tidak pandai maka tulisan pers tersebut tidak saja menusuk kulit melainkan masuk sampai dihati. Untuk itu Presiden minta agar dalam memberikan ulasannya serta laporannya pers selalu “mengukur baju diri sendiri” dalam arti “tepo sliro”.

Dalam pertemuan ramah tamah dengan anggota Dewan Pers di Istana Merdeka Rabu Siang, menurut Drs. Jacob Utama selaku sekretaris Dewan Pers, Presiden Soeharto menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan pers, oleh karena dilihat manfaatnya sebagai bagian dari sarana dalam proses pembangunan.

Dalam pembicaraan dari hati ke hati yang dilakukan dengan Presiden tersebut salah satu anggota menyatakan keberatannya atas syarat yang dibebankan oleh pemerintah dalam rangka PMDN dimana hal itu menyangkut pembangunan fisik pers, misalnya tentang percetakan.

Presiden menyatakan bahwa meskipun tidak ada keistimewaan yang diberikan pada perusahaan pers dalam rangka PMDN tetapi Kepala Negara menyatakan keterbukaannya bahwa usul perpanjangan periode pengembalian kredit dapat dipelajari dan dibicarakan lebih jauh.

Presiden juga menaruh perhatian atas pembangunan dalam bidang idiil dengan perlunya peningkatan mutu yang masih kurang dengan penataran dan pendidikan serta seminar, sehingga makin lama orientasi pers sendiri dapat tanggap terhadap orientasi pembangunan.

Lebih jauh Jacob juga menjelaskan bahwa atas pertanyaan salah satu anggota pers. Presiden telah menjelaskan tentang persoalan pewarisan nilai 45 terhadap generasi muda bukan hanya menjadi tanggung jawab ABRI saja tetapi merupakan tanggung jawab nasional termasuk komponen lain antara lain pers perlu memikirkannya.

Tetapi dipesankan oleh Kepala Negara agar dicegah jangan sampai terjadi simpang siur sehingga perlu dicari mengenai apa saja nilai 45 yang harus diwariskan agar tidak membingungkan.

Atas pertanyaan pers, Jacob menyatakan bahwa keputusan terpenting yang diambil dalam sidang pleno ke-X Dewan Pers adalah diakui perlunya membangun tubuh sendiri dan perlu pembangunan pers tersebut tidak secara sektoral tetapi secara menyeluruh. (SH)