Potensi Wisata Desa Keraya yang Tak Dikelola

Potensi Wisata Desa Keraya yang Tak Dikelola

SHNet, PANGKALAN BUN – Anda mungkin sudah terbisa rekreasi di air terjun yang bening dengan alam yang dingin. Di pegunungan, jauh dari pantai. Di kelilingi hutan yang hijau. Akses yang bagus, tidak kesulitan ketika ingin jajan. Meski hanya segelas kopi, air mineral atau jagung rebus, atau kelapa muda.

Tidak demikian halnya dengan air terjun yang satu ini. Hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai. Airnya tidak bening. Berwarna hitam kemerah-merahan. Anda mungkin akan khawatir dengan warna airnya yang jatuh dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Khawatir airnya beracun atau bertanya-tanya mengapa airnya hitam kemerah-merahan.

Air terjun Patih Mambang! Terletak di Desa Keraya, Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng). Lokasinya memang cukup jauh dari Kota Pangkalan Bun, sekitar 100 km, 1,5 jam dengan kendaraan roda empat.

Perjalanan dari Kota Pangkalan Bun menuju Air Terjun Patih Mambang akan membuat Anda takjub dan terpesona. Jalannya lumayan mulus. Di sepanjang jalan terdapat bangunan-bangunan tinggi empat hingga lima lantai. Bangunan-bangunan itu terbuat dari tembok atau sink yang tidak berjendela. Tidak diterangi lampu. Di dalamnya gelap gulita. Hanya ada lubang-lubang kecil. Namun, full musik!

Yaa, itu bukan rumah tinggal warga. Itu sarang burung walet. Lubang yang dibuat sebagai ventilasi, hanya tiga hingga empat kali ukuran burung walet. Sarang-sarang walet tersebut banyak ditemukan di hamparan padang-padang kecil yang indah dan menawan sepanjang jalan. Bahkan Anda dibuat rugi kalau mengedipkan mata.

Jalan akses Air Terjun Patih Mambang. (Foto: SHNet)

Anda juga akan melewati Pantai Keraya dan Tanjung Bogam. Sepanjang Pantai Keraya, terdapat rumah-rumah asli Suku Banjar. Tidak saja arsitektur rumah kayu ulin yang membuat terheran-heran, juga halaman yang luas dan asri.

Namun, banyak rumah-rumah tersebut tak diditempati karena pemerintah daerah meminta warga untuk perlahan-lahan pindah lokasi pemukiman. Permintaan pindah ini karena lokasi pemukiman di pinggir pantai rawan abrasi, terutama pada musim hujan. Tak heran jika di sepanjang Pantai Keraya lebih banyak ditemukan warga berusia lajut dari pada anak-anak muda.

Sementara di Tanjung Bogam, Anda akan menjumpai hamparan pasir putih yang rata sekalipun tidak cukup luas. Namun, sangat nyaman untuk bersantai sambil minum air kepala muda serta memandang kapal laut dan perahu nelayan yang lalu lalang.

Di Tanjung Bogam terdapat kuburan warga Vietnam, Onc Tian Sie dan tiga rekannya. Konon, mereka adalah nelayan yang diusir warga setempat namun keempatnya tidak ingin kembali ke negara asal mereka.

Rumah waga di Pantai Keraya (Foto: SHNet)

Kembali ke Air Terjun Patih Mambang. Menurut Mariani, warga Pangkalan Bun, air yang berwarna hitam kemerah-merahan disebabkan karena akar-akar kayu. Air Patih Mambang memang melewati lahan gambut yang penuh dengan jutaan akar kayu. Umumnya air di Borneo sama. Kayu yang dilintasi aliran air mulai dari yang berusia muda hingga yang tidak diketahui usianya.

“Indahnya di situ. Daya tarik wisatanya di warna airnya. Selain karena kayu yang hijau dan teduh. Berwarna tapi tidak beracun. Kalau diteliti, malah bisa saja ada kandungan obat-obatannya,” kata Mariani kepada SHNet berberapa waktu lalu di Pantai Keraya.

Sayangnya wisata Desa Keraya belum dikelola dengan sebagaimana mestinya. Bahkan tak disentuh oleh pemerintah daerah. Eti, warga yang bermukim tak jauh dari Air Terjun Patih Mambang menuturkan, sebenarnya banyak wisatawan lokal yang mengunjungi lokasi wisata itu. Terkadang juga dari manca negara. Namun, tidak ada pihak yang mengelola.

Pantai Keraya (Foto: SHNet)

“Kalau liburan sekolah banyak yang datang berkunjung. Ada juga yang berkemah sampai dua malam,” kata Eti. Semuanya berjalan begitu saja dan hanya meninggalkan sampah usai berkemah. Namun, ia tak bisa melakukan apapun selain memandang pengunjung yang datang dan terkadang larut dalam keramaian yang terjadi sesaat jika ada yang berkemah dekat rumahnya saat liburan sekolah. (IJ)