Pola Hidup Sederhana Mulai Dari Lingkungan Keluarga Masing-Masing

Menhankam Jenderal Panggabean

Pola Hidup Sederhana Mulai Dari Lingkungan Keluarga Masing-Masing

Jakarta, 17 April 1974 – Janganlah pola hidup sederhana dijadikan isu politik, marilah kita mulai melaksanakannya di lingkungan keluarga kita masing-masing terlebih dahulu.
Demikian ditegaskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Panggabean, Selasa Siang di Aula Hankam pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-X Dharma Pertiwi.

Pada kesempatan itu telah diserahkan oleh Menhankam/Pangab Panji Dharma Pertiwi kepada Ketua Umum Dharma Pertiwi Ny. Panggabean yang dihadiri antara lain oleh Ny. Tien Soeharto, Kepala Staf Angkatan dan Kapolri, pejabat tinggi Hankam serta undangan lainnya.

Lebih lanjut Panggabean katakan, disamping adanya proses pemantapan kehidupan nasional, dimana ABRI merupakan salah satu kekuatan dinamis – integratif maka dalam tahun 1973/1974 telah terjadi pula gejolak sosial di tanah air kita terutama yang meletus tanggal 15 dan 16 Januari 1974 di Jakarta.

Di belakang gejolak sosial masyarakat yang dalam mengemukakan keinginan serta melakukan kegiatan politiknya tidak mau menyalurkan melalui Lembaga demokrasi yang ada tetapi yang ingin mencapainya dengan cara destruktif, menyalah gunakan hak demokrasi yang sesuai dengan aspirasi orde baru untuk menegakkan kehidupan konstitusi, demokrasi dan hukum.
Sebagai akibat daripada peristiwa tersebut stabilitas nasional dalam bidang politik dan keamanan ekonomi digoncangkan, kewibawaan pemerintah tergoyangkan, kewibawaan lembaga Kepresidenan terganggu, integrasi antara pemerintah dan rakyat direnggangkan dan lain-lain.

Oleh karenanya kata Panggabean, Presiden telah menginstruksikan kepada alat negara dan alat penegak hukum untuk mengusut dan menindak tegas sumber penyulut kerusuhan itu. Tindakan ini semata-mata dilakukan demi keselamatan rakyat, keutuhan negara dan kelanjutan pembangunan.

Terhadap instruksi an kebijaksanaan Presiden tersebut maka Menhankam/Pangab mengambil langkah dengan tujuan agar peristiwa yang terjadi di Bandung 5 Agustus 1973 dan di Jakarta 15 dan 16 Januari tidak akan terulang lagi. (SH)