Peti Misterius Dengan Tulisan “Royal Afghan”

Disita P2 Bea Cukai Priok

Peti Misterius Dengan Tulisan “Royal Afghan”

Ali Said : Pemerintah Minta Seorang Pejabat Kedubes Asing Di Jakarta Ditarik

Jakarta, 5 April 1972 – Empat peti ukuran 3 x 2 meter yang dilaporkan ditujukan kepada salah satu perwakilan asing di Jakarta yang tiba di Tanjung Priok tanggal 24 Februari 1973 yang lalu ternyata berisikan senjata api.

Menurut pengecekan “SH” Kamis siang di Tanjung Priok, peti tersebut bertuliskan “Royal Afghan”, Jakarta.
Dalam “Cargo manifest” (dokumen pengiriman) barang itu dikirimkan tanggal 15 Februari 1973 dari Singapura oleh Universal Corporation 171 Robinson Road Singapore 1.

Pihak yang berwajib setelah melakukan pemeriksaan dengan detektor ternyata di dalam peti itu ada senjata tetapi dari bagian luarnya dibungkus dengan lapisan tekstil yang bernilai mahal.
Padahal dalam dokumen pengiriman tercantum jenis barang 4 cases sanitary ware (alat saniter).

Pengiriman peti itu melalui kapal “Cindee” milik dari perusahaan PT. Perusahaan Pelayaran Nusantara “Bahari Bahtera” dan tujuan pengiriman kepada Royal Afghan Embassy, jalan Tosari No. 15, Jakarta.

Sewaktu barang itu dilaporkan sebagai barang pecah belah dalam “cargo manifest” tetapi sewaktu diangkat ternyata sangat berat, dan dari luar kelihatan berisi tekstil.

Karena kecurigaan atas barang yang dilindungi kekebalan doplomatik ini pihak Kantor Besar Bea Cukai meminta bantuna kepada protokol Departemen Luar Negeri mendampingi pemeriksaan dan ternyata pihak kedutaan yang bersangkutan yang mempunyai barang itu menolak.

Sumber “SH” menjelaskan selanjutnya bahwa pihak Deparlu melaporkan hal ini kepada pihak Kopkamtib dan Bakin untuk melakukan penyelidikan yang lebih ketat.

Sebelum pemeriksaan yang dilakukan Bea Cukai Priok, pihak Pemberantasan Penyelundupan Bea Cukai Jakarta telah mendapat informasi langsung dari Singapura yang menyatakan bahwa keempat barang tersebut perlu dicurigai, karena isinya tidak sesuai dengan apa yang tercantum dalam manifest.

Pihak Kedutaan yang terlibat telah menghubungi Bea Cukai meminta supaya barang itu di re-ekspor tetapi ditolak, demikian sumber “SH”.

Sementara itu pihak Pemberantasan Penyelundupan menjelaskan bahwa selama ini telah ada 4 Kedutaan asing di Indonesia yang dicurigai karena itikad yang tidak bersahabat.
Pihak Kedutaan Afghanistan yang dihubungi “SH” Kamis siang sehubungan dengan tulisan yang tertera di peti tersebut tidak bersedia memberikan keterangan.

Keterangan Ali Said
Pemerintah Indonesia akan minta kepada sebuah kedutaan besar di Jakarta untuk segera menarik seorang pejabatnya karena orang itu terlibat dalam peristiwa penyelundupan.

Jaksa Agung Ali Said SH memberikan keterangan tersebut kepada pers hari Rabu di Jakarta sesaat setelah ia dilantik oleh Presiden Soeharto.

Dia mengungkapkan, beberapa peti barang yang diselundupkan oleh salah satu negara sahabat Indonesia telah berhasil disita di Tanjung Priok beberapa waktu yang lalu.
Isinya antara lain 10.000 meter tekstil halus yang telah dikembalikan lagi ke negara yang bersangkutan.

Barang lainnya telah disita oleh pemerintah Indonesia Jaksa Agung belum bersedia menerangkan kepada pers meskipun dia tidak membantah barang yang diselundupkan itu berisi senjata.
Peristiwa tersebut masih dalam pengusutan dan untuk kepentingan pengusutan saya belum bersedia mengungkapkannya, demikian Ali Said.

Dia juga tidak bersedia menjelaskan negara yang terlibat dalam peristiwa penyelundupan itu, yang menurut dia adalah “demi menjaga persahabatan dengan negara yang bersangkutan”.

Permintaan pemerintah Indonesia agar pejabat dari Kedubes yang terlibat itu ditarik dari tugasnya di sini, adalah demi menjaga hubungan baik antara negara tersebut dengan Indonesia, kata Jaksa Agung yang berbadan kecil itu.

Melalui prosedur diplomatik
Panglima Kopkamtib yang ikut bersama-sama Jaksa Agung menghadapi serbuan pers mengatakan bahwa seandainya peristiwa tersebut melibatkan suatu negara, kita akan menyelesaikannya melalui saluran diplomatik.

Jenderal Soeharto mengingatkan akan politik luar negeri Indonesia yang tidak mau mencari musuh dan ikut aktif menciptakan perdamaian.

Apakah Indonesia akan memprotes peristiwa tersebut ?, menjawab pertanyaan pers itu Jenderal Soemitro mengatakan, “itu adalah soal Menlu Adam Malik”.

Yang terang Kopkamtib percaya kepada aparatur negara yang bisa mengontrol keadaan, demikian Jenderal TNI Soemitro. (SH)