Perdesaan Butuh Sekolah Informal yang Selaras dengan Kultur

Perdesaan Butuh Sekolah Informal yang Selaras dengan Kultur

Anak Sekolah Dasar (Foto : Ida. www.odesa.id)

SHNet – Idealnya pendidikan adalah kebutuhan. Maka, sekolah menjadi wajib, bahkan sekolah ideal pun harus diwujudkan. Harus bagaimana jika hal hal itu belum menjadi kebutuhan?

Ini adalah perkara yang belum tuntas di masyarakat perdesaan Indonesia. Partisipasi sekolah rendah karena sebab ketertinggalan. Ketika sekolah dibangun, mendekat kepada masyarakat sekalipun belum tentu pendidikan secara otomatis berjalan. Bahkan di perdesaan Cimenyan, yang jaraknya hanya 5-15 km dari Kantor Gubernur Jawa Barat, masih mudah sekali menemukan anak tidak melanjutkan SMP, jarang sekolah SMA, dan pada setiap kampung selalu ada anak-anak putus Sekolah Dasar.

“Sebagian memang disebabkan oleh jarak sekolah yang jauh dan juga faktor ekonomi. Namun juga ada faktor kultural, seperti memandang sekolah tidak perlu karena tidak menghasilkan ekonomi atau tidak memperbaiki keadaan hidup,” kata Khoiril Anwar, pendamping kegiatan belajar Yayasan Odesa Indonesia, Senin, 23 April 2018.

Menurut Khoiril, kehadiran sekolah di masyarakat sendiri terkadang tidak menjanjikan sebagai terobosan untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan. Sebab sistem sekolah konvensional terkadang juga tidak menyenangkan peserta didik.

“Didukung oleh orang tuanya yang juga tidak bersekolah dan tidak memahami pentingnya pendidikan tinggi sebagai cara mengatasi persoalan hidupnya, di situlah kemudian putus sekolah mudah terjadi,” jelasnya.

Fakta lapangan yang ditemukan relawan Odesa Indonesia di Kecamatan Cimenyan ini merupakan bagian dari gunung es atas kelemahan negara dalam mengurus warganya. Kelemahan itu antara lain, pemerintah daerah tidak melakukan terobosan khusus terhadap sekolah-sekolah di perdesaan. Bahkan sering bersikap abai dengan tidak memikirkan tenaga pendidik yang berkualitas.

“Seharusnya daerah tertinggal seperti beberapa desa di Cimenyan ini mendapatkan perhatian khusus, eh malah banyak guru berkualitas rendah ditempatkan. Itu terlihat dari para siswa yang mengikuti pendidikan luar sekolah bersama Yayasan Odesa Indonesia,” paparnya.

Model lain

Mengingat sekolah formal adalah jawaban mendasar, menurut Khoiril pemerintah Kabupaten Bandung harus serius memperjuangkan masalah ini. Di luar itu, dengan pertimbangan problem kultural, Yayasan Odesa Indonesia juga akan lebih serius menajamkan bidang pendidikan luar sekolah. Pasalnya, jika bergantung pada sekolah formal yang konvensional dan mutu rendah, persoalan kemiskinan dan keterbelakangan pemikiran warga Desa Cimenyan tidak akan teratasi.

“Itulah mengapa kami melakukan tindakan masuk ke kampung-kampung dengan edukasi secara informal. Mengajarkan pentingnya membaca dan menulis, pentingnya bersikap sosial, dan mendorong pengertian tentang pentingnya pendidikan,” katanya.

Foto: Ida/ www.odesa.id

Pendidikan untuk petani dan anak-anaknya yang mengalami keterbelakangan menurut Khoiril bersifat mendatangi, bukan membangun gedung. Dengan membawa pemahaman-pemahaman baru melalui interaksi personal kepada siswa dan orangtuanya, banyak anak-anak yang bisa menerima pentingnya belajar bersama, apalagi disertai kegiatan ekonomi.

“Kalau modelnya informal saya yakin cepat maju. Buktinya lebih dari 100 anak yang berkegiatan aktif selama satu tahun menunjukkan perubahan-perubahan yang nyata, termasuk orang tuanya,” (IDA/odesa.id )