Pengamat Intelijen: Dialog Bantal, bukan Sekedar Skenario Film Hollywood

Pengamat Intelijen: Dialog Bantal, bukan Sekedar Skenario Film Hollywood

 

 

 

 

SHnet, Jakarta – Tahukah kita, intelijen yang identik dengan dunia laki-laki juga erat kaitannya dengan perempuan. Ada trik-trik intelijen yang hanya dapat dilakukan perempuan, salah satunya adalah  dialog bantal.

Dialoh bantal adalah cara intel atau agen rahasia mengorek informasi di tempat tidur. Penggemar film-film FBI dan CIA pasti kenal dengan adegan seperti ini, saat agen rahasia yang biasanya perempuan tidur dengan sang target dan perlahan-lahan mendapatkan informasi yang diperolehnya. Adegan di film tersebut tidak hanya rekaan, namun juga  bagian kecil dari dunia intelijen yang sesungguhnya.

Yang juga kandidat doktor dari Universitas Indonesia dalam acara peluncuran buku Intelijen dan pilkada di Gramedia Matraman berbagi cerita tentang dunia yang digelutinya sejak 1 dekade terakhir ini. Stepi adalah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang berkecimpung di dunia intelijen.

Di hadapan wartawan, 200 tokoh dan komunitas, ibu satu anak ini di dalam bukunya menjelaskan intelijen didefinisikan dalam 7 bidang. Yaitu informasi, pengetahuan, produk, kegiatan, proses, organisasi dan profesi. “Bahkan, trik-trik intelijen dapat diaplikasikan sebagai strategi dalam pemenangan pilkada,” ujar Stepi.

Melalui Buku Intelijen dan Pilkada, Stepi dengan tegas mengatakan persoalan klasik “money politic” yang masih yerjadi hingga saat ini dapat diatasi dengan strategi intelijen. “Apabila timses partai atau paslon mau mempelajari strategi-strategi dalam dunia intelijen, maka kemampuan tersebut dapat diterapkan untuk memenangkan pemilu,” ungkap Stepi.

Buku Intelijen dan Pilkada yang diterbitkan ole Gramedia ini mengulas lengkap mengenai intelijen sebagai tulang punggung keamanan nasional. Isi buku berisi bahasan dari banyak sudut pandang. Diantaranya sebagai informasi, pengetahuan, proses, kegiatan, organisasi, dan profesi yang penggunaannya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang universal.

Permasalahan klasik yang hingga saat ini masih terjadi adalah money politic. Hal menarik melalui buku ini, Stepi berbicara bahwa sangat mungkin melepaskan kebiasaan money politic dari pemilihan umum. Salah satunya dengan menerapkan strategi-strategi intelijen. “Apabila timses partai atau paslon mau mempelajari strategi-strategi dalam dunia intelijen, maka kemampuan tersebut dapat diterapkan untuk memenangkan pemilu,” ungkap Stepi.

Stepi saat ini aktif sebagai pengamat intelijen di sejumlah organisasi yang concern terhadap kebijakan publik. Dosen Sekolah manajemen Analisa Intelijen (SMAI)  ini pernah melakukan studi pada Wilayah Perbatasan Kota Jayapura Papua-Papua Nugini. (Kurnia)