Masyarakat Minta Keamanan Perbatasan RI-TL Diperketat

Masyarakat Minta Keamanan Perbatasan RI-TL Diperketat

SHNet, KUPANG-Kejadian demi kejadian yang terjadi selama ini seperti kasus pencurian ternak, motor dan penyanderaan warga negara Indonesia di perbatasan Laktutus, Kecamatan Nanaet-Dubesi oleh warga negara Timor Leste (TL) menyebabkan kehidupan masyarakat tapal batas sangat tidak aman dan nyaman.

“Kedaulatan negara direndahkan, martabat bangsa ini dilecehkan. Kasus macam ini terjadi berulang kali,” kata Romo Yohanes Kristo Tara, OFM, Pastor Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/4/2018).

Masalah keamanan tapal batas Laktutus sangat serius dan mengancam kenyamanan warga. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak keamanan harus memberi jaminan keamanan kepada masyarakat tapal batas dengan meningkatkan patroli tapal batas.

“Keamanan tapal batas harus diperketat demi keamanan dan kenyamana masyarakat di daerah perbatasan,” tegas Kristo.

Pastor aktivis ini juga berharap agar Pemerintah Indonesia mesti memberi tekanan serius kepada pemerintah Timor Leste untuk menjamin keamanan tapal batas.

Pemerintah Indonesia mesti melakukan diplomasi dan tekanan yang serius kepada Pemerintah Timor Leste agar masyarakatnya segera hentikan tindak kejahatan di tapal batas yang sangat merugikan warga negara Indonesia.

Diplomasi antara kedua negara harus mengedepankan kedaulatan masing-masing negara dengan tujuan perlindungan secara maksimal kepada warga negaranya.

Mengingat tingginya tingkat kerawanan kejahatan dan keamanan perbatasan Laktutus, masyarakat berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Belu segera mengusulkan ke kementerian terkait agar Pos Lintas Batas (PLB) Laktutus segera dibangun.

Ia menjelaskan, sudah lama masyarakat merindukan agar PLB Motaain dan Motamasin segera dibangun. Ini penting untuk memperlancar komunikasi dan relasi warga antara negara yang disatukan oleh budaya yang sama.

“Selama ini, warga masuk secara ilegal untuk acara-acara adat, misalnya kematian, rumah adat, atau acara lain,” katanya.

Selain itu, Baltasar Mali warga Laktutus juga mengeluhan hal yang sama yakni masalah pencurian ternak di daerah itu terus bertambah.

“Hingga sekarang sapi kami sudah lebih dari 600-an ekor dicuri oleh warga sebelah (Timor Leste). Kami hanya kerja untuk masyarakat di sebelah. Kami juga tidur tidak nyenyak, kerja tidak tenang, bahkan ke gereja pun tidak aman karena harus pikir kami punya ternak takut dicuri,” kata Baltasar.

Ia menegaskan agar sebelum ada jaminan keamanan dari pemerintah kedua negara, perbatasan Laktutus harus ditutup total.

Jika perbatasan Laktutus ditutup total maka tidak ada lagi warga Negara Timor Leste yang masuk ke Indonesia atau sebaliknya secara ilegal.

“Kami minta tutup total perbatasan Laktutus. Tidak boleh ada warga negara Timor Leste yg masuk Indonesia, juga sebaliknya. Jika ada warga negara Timor Leste yang memasuki wilayah NKRI secara ilegal, pihak keamanan harus mengambil tindakan tegas,” tegas Baltasar.(Dis Amalo)