Kemungkinan Terjadinya Revolusi Apabila Pembangunan Tidak Dinikmati Rakyat

Presiden Peringatkan

Kemungkinan Terjadinya Revolusi Apabila Pembangunan Tidak Dinikmati Rakyat

Jakarta, 11 April 1972 – Presiden Soeharto mengingatkan supaya pengetrapan teknologi modern jangan mengakibatkan pengurangan lapangan kerja.

Lapangan kerja adalah merupakan problem di Indonesia dan tujuan pembangunan adalah untuk menciptakan lapangan kerja, kata Presiden.

Memberikan petunjuknya kepada peserta Konferensi Persatuan Insinyur Indonesia di Istana Merdeka, Senin siang Kepala Negara memperingatkan pula kemungkinan terjadinya suatu revolusi sosial apabila pembangunan tidak dapat dinikmati dan meningkatkan taraf hidup rakyat dan pembangunan itu hanya secara fisik saja terlihat kegemerlapannya oleh rakyat.

Pemerintah, demikian Kepala Negara dalam melaksanakan pembangunan mengutamakan untuk meningkatkan tarad hidup rakyat menuntut agar pembangunan itu dapat dirasakan oleh mereka.

Modal dan skill
Peserta konferensi yang diterima oleh Kepala Negara berjumlah 85 orang dipimpin oleh ketuanya Ir. Tampubolon. Mereka melaporkan hasil konferensinya di Jakarta pada tanggal 4 – 6 April yang lalu.

Menyinggung tekad pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dalam pembangunan, Presiden mengatakan bahwa pemerintah selalu waspada agar dalam memperoleh modal dan skill untuk pembangunan itu jangan sampai bertentangan dengan tujuan pembangunan itu sendiri yaitu untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.

Pemerintah dalam hal ini mengadakan seleksi terhadap modal dan skill yang ingin menanamkan investasinya di Indonesia. Dalam hal ini kita hanya akan menerima kredit yang ringan dengan bunga yang rendah dan pengembalian dalam jangka waktu yang panjang.

Kredit jangka menengah dan pendek tidak akan diterima oleh pemerintah karena hal ini akan membebankan kepada rakyat, Presiden menegaskan.

Partisipasi masyarakat
Dikatakan, bahwa Pelita sekarang ini masih jauh dari sempurna tapi belum ada rencana pembangunan dimasa yang lalu sebaiknya seperti sekarang ini. Mengenai pembangunan lima tahun tahap kedua yang akan datang kita harapkan akan lebih baik lagi.

Menurut Presiden, sasaran Pelita sekarang ini ternyata tidak ada yang meleset meskipun jauh dari sempurna.
“bahkan”, banyak dari sasaran itu yang melebihi target.

Yang sangat menggembirakan hati dalam hal ini ialah adanya partisipasi masyarakat baik di desa maupun di kota.
Dikatakan bahwa subsidi pemerintah kepada desa Rp. 100.000/desa meskipun dinilai kecil tapi dengan subsidi itu pemerintah telah membangkitkan semangat rakyat untuk membangun.

Maksud pemerintah dengan subisidi itu justru untuk mendorong ke gotong-royongan rakyat di desa yang telah memang sejak lama mereka miliki. Sekarang nilai bantuan itu sampai 10 bahkan 15 kali jumlah Rp. 100.000.

demikian pula dengan bantuan pemerintah kepada daerah kabupaten sebesar Rp. 100/kapita dan 10% dari hasil ADO untuk tingkat provinsi adalah untuk mengikut sertakan rakyat dalam pembangunan.

Dan sekarang ini mulai dari provinsi, kabupaten sampai ke desa tidak ada satupun yang ketinggalan dalam pembangunan. Ini sangat menggembirakan sekali, demikian Presiden Soeharto. (SH)