Kemdikbud Terkesan Membela Diri Soal Sulitnya UN Matematika SMA

Kemdikbud Terkesan Membela Diri Soal Sulitnya UN Matematika SMA

MENGIKUTI - Grace Shella Pasali dan teman-teman kelas 12 Jurusan IPS SMA PSKD 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, usai mengikuti UNBK pada Kamis (12/4). (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Viralnya ratusan komentar para siswa tentang sulitnya Soal mata pelajaran Matematika UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer tahun ini, sontak dijawab oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Pihak Kemdikbud seolah membela diri dengan mengatakan kalau soal ujian Matematika dalam UNBK 2018 ini sudah sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan.

“Menurut pandangan kami, soal-soal yang diujikan sudah sesuai dengan kisi-kisi yang ditetapkan,” kata Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kemdikbud, Muhamad Abduh kepada media di Jakarta, Jumat (13/4).

Menurutnya, hanya saja di mata para siswa itu terlihat seperti soal yang sulit dikerjakan. Padahal soal-soal di UN itu sudah sesuai dengan kisi-kisi UN yang diberikan sebelumnya.

Salah satu siswi SMU Penabur di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Made Ayu Zefanya Octaftania yang akrab disapa Nicky mengatakan kalau ia hanya mampu mengerjakan separuh dari nilai UN matematika itu.

“Asli susah banget. Aku baru baca soal-soalnya aja aku udah puyeng, angka rumit semua. Ada 40 soal, 35 pilihan ganda dan 5 isian singkat. Aku hanya ngerjain sekitar 15-20 soal. Sisanya gak bisa lagi,” jelas Nicky dalam pembicaraan  dengan SHNet, Jumat (13/4) sore yang diamini sahabat dekatnya, Emmanuela Fransisca.

Hal senada diutarakan siswa lain dari SMA PSKD 4 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Grace Shella Pasali. Menurut Grace apa yang dikatakan pihak Kemdikbud itu justru lebih kepada kesan ingin membela diri karena yang ada soal-soal UN itu justru beda dengan kisi-kisi yang diberikan sebelumnya.

“Susahnya gak ketulungan. Aku sih berusaha mengerjakan semua soalnya, tapi soal berapa yang benar, waduh gak tahu deh karena sudah lebih banyak isi ngasal saking susahnya,” tutur Grace yang mengambil jurusan IPS dan berencana melanjutkan kuliahnya di bidang Hukum ini.

Made Ayu Zefanya Octaftania yang akrab disapa Nicky mengatakan kalau ia hanya mampu mengerjakan separuh dari nilai UN matematika. (Dok/SHNet)

Memang mulai tahun ini, Kemdikbud memberlakukan soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS) pada UN 2018. Dengan memasukkan soal HOTS, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari UN.

Dan, menurut Abduh, Soal seperti itu, nantinya akan menjadi standar pelaksanaan UN sampai 2025 sehingga dapat mendeteksi kemampuan siswa. “Tahun ini, baru 10 persen dari jumlah soal untuk yang memerlukan daya nalar tinggi,” katanya.

Sayang sekali, pemberlakuan soal dengan daya nalar tinggi itu justru menuai protes dari peserta UN tingkat SMA. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga menyatakan soal ujian Matematika sangat sulit dan tak sesuai kisi-kisi. Apa yang ditemukan FSGI itu merupakan hasil penelitian pada hari kedua sampai keempat UNBK SMA, baik di Jakarta maupun daerah lain di seluruh Indonesia.

Salah satu pengawas yang tergabung dalam Asosiasi Pengawas SMA Seluruh Indonesia (APSI) yang tak mau disebutkan namanya menyatakan apa yang dikeluhkan para siswa seharusnya menjadi perhatian dan pihak Kemdikbud tak perlu membela diri, tapi lebih kepada memperbaiki untuk tahun mendatang.

“Seharusnya semua keluhan para siswa ini menjadi masukan untuk lebih baik lagi di tahun mendatang, agar tak sampai ada keluhan siswa mau bunuh diri atau sampai muntah-muntah,” kata salah satu pengawas yang tak mau disebutkan namanya ini.  (Nonnie Rering)