DPR Minta Produsen Susu Kental Manis Bertanggung Jawab

DPR Minta Produsen Susu Kental Manis Bertanggung Jawab

SHNet, Jakarta – Anggota DPR dari fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati  meminta produsen susu kental manis bertanggung jawab atas sesat fikir masyarakat terhadap susu kental manis. Hal ini disampaikan Sara – sapaan akrabnya atas ditemukannya balita yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai asupan gizi pengganti ASI. Satu diantaranya meninggal Januari lalu.

“Saya termasuk yang membantu advokasi persoalan ini agar selanjutnya dapat menjadi perhatian di komisi IX DPR RI. Susu kental manis bukan asupan utama, produsen harus bertanggung jawab memastikan dalam beriklan susu kental manis bukanlah asupan yang utama,” ujar Sara, Jumat (20/4).

Lebih lanjut, Sara mengatakan diperlukan tekanan terhadap Kementerian Kesehatan dan BPOM agar dapat lebih memperhatikan persoalan ini. “Ini sudah ada korban jiwa, pemerintah harus menganggap ini hal yang serius sehingga ada action dalam bentuk pengawasan,” tegas Sara.

Terkuaknya konsumsi susu kental manis oleh sejumlah balita di beberapa daerah di Indonesia belakangan telah menimbulkan kekhawatiran publik. Masyarakat, dalam laman sosial media milik salah satu brand susu kental manis populer beramai-ramai mulai mempertanyakan promosi yang dilakukan produsen hingga saling mengedukasi sesama orang tua untuk segera menghentikan pemberian susu kental manis untuk anak. Sayangnya, persoalan yang menjadi kekhawatiran masyarakat tersebut belum mendapat perhatian baik dari produsen maupun pemerintah.

Dalam rilis yang diterima Sinar Harapan kemarin, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Ibnu Sina telah mengadakan survey tentang konsumsi susu kental manis untuk minuman anak di kota Batam. Survey tersebut dilakukan karena sejumlah balita ditemukan menderita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis di beberapa kota di Indonesia, termasuk Batam.

Balita VA (10 bulan) asal Sagulung Kota, Kota Batam, pada Januari lalu dirawat di RSUD Embung Fatimah akibat gizi buruk. VA yang sejak usia 2 bulan sudah mengkonsumsi susu kental manis mengalami gangguan kesehatan. Saat ditemukanpun beratnya hanya sekitar 4 kg. Padahal, merujuk pada grafik tumbuh kembang anak, diusia 10 bulan VA seharusnya memiliki berat 10 kg.

“Kasus yang menimpa VA yang belum genap satu tahun ini merupakan kasus baru yang menjadi perhatian bagi semua khalayak. Besar kemungkinan tidak hanya VA yang mengkonsumsi susu kental manis sejak dini, namun masih ada orang tua lain yang belum teredukasi dan memberikan susu kental manis untuk balitanya. Hal ini dapat menyebabkan anak mereka mengalami status gizi buruk. Untuk itulah penelitian ini dilakukan, agar dimasa mendatang kita dapat melakukan tindakna preventif,” dikatakan Ketua STIKES Ibnu Sina Fitri Sari Dewi SKM. MKKK

(Kurnia Sari)