Dari “Deep Ecology” ke “Deep Economy”

Dari “Deep Ecology” ke “Deep Economy”

Foto: Ist

Oleh : Fransiskus Borgias M.

SHNet – Pada tahun 90an abad duapuluh yang silam para pemikir di bidang ekologi memperkenalkan ungkapan baru dalam wacana filsafat dan teologi ekologi (Lachance and Carroll, 1994). Wacana baru tersebut ialah “Deep Ecology” (yang biasanya diterjemahkan sebagai Ekologi Dalam). Apa itu? Itu adalah paham yang berkata bahwa di dalam segala sesuatu (juga termasuk yang tampak “mati” sekalipun) ada kehidupan, ada dinamika, ada proses, ada gerak (ibid: 226-227).

Paham deep-ecology ini diajukan para ahli sebagai upaya perbaikan pada tingkat wacana dan pemikiran untuk pelbagai akibat negatif karena krisis serta bencana ekologi (seperti efek rumah kaca, bolongnya lapisan ozon, pencemaran air dan udara, deforestrasi, eksploitasi alam, pelbagai efek limbah). Paham ini diajukan bersama dengan gerakan ekoteologi, ekospiritualitas, dan juga ekofeminisme.

Ada sebuah keyakinan dan keprihatinan bahwa krisis ekologi dewasa ini serta isu kerusakan lingkungan disebabkan oleh pelbagai macam faktor penyebab. Tetapi di sini saya hanya mau menggaris-bawahi faktor egoisme manusia yang mengagungkan diri di atas alam dan realitas ciptaan lainnya. Singkatnya, orang terlalu berkutat pada egology dan tidak lagi begitu menaruh per-hati-an pada ecology.

Oleh karena itu, sebagai jalan keluar harus segera dilakukan pergeseran besar dan dramatis, dari egology ke ecology, dari ego-sentrisme ke eko-sentrisme. Dan hal ini tidak boleh ditunda-tunda lagi. Itulah situasi, kondisi, serta tantangan etis manusia pada masa sekarang ini. Dan manusia tidak bisa menghindar dari tantangan itu. Manusia harus menghadapinya dengan berani serta penuh tanggung-jawab.

Selama manusia hidup di dunia ini dan di tengah masyarakat, tentu saja manusia itu membutuhkan makanan, pakaian dan papan (pangan, sandang, papan). Untuk memenuhi kebutuhan itu manusia harus melakukan pelbagai aktifitas ekonomi. Di sinilah manusia berurusan dengan alam dan lingkungan hidup. Manusia harus bekerja. Semula, aktifitas ekonomis (bekerja) itu tidak mendatangkan masalah dalam hubungan manusia dengan alam. Tetapi karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka aktifitas ekonomi itu pun menjadi gelombang eksploitasi maha dahsyat, pertama-tama atas alam dan lingkungan, dan kemudian juga atas sesama.

Demi aktifitas ekonomis yang mengabdi ego (egology, egosentris), manusia menindas dan menghisap alam dan sesama. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, kata Hobbes (dalam bukunya Leviathan, yang terkenal itu, 1985, asli 1651). Manusia menjadi perompak-rakus atas alam dan lingkungan. Itulah perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan. Akibatnya sangat jelas dan kasat mata: Berapa hektar hutan tropis menipis? Berapa sumber alam kita terkuras (Aceh, Papua, Kalimantan, Sulawesi)? Berapa hektar lahan gambut terbakar dan beralih menjadi perkebunan kelapa sawit?

Sebagai jalan keluar orang mengembangkan wacana etiko-filosofis-teologis yang pada dasarnya menyerukan agar orang segera beralih dari aksi ekonomi-sentris ke aksi ekologi-sentris. Orang harus mengembangkan asketisme dan pengendalian diri dalam relasinya tidak saja dengan sesama dan diri sendiri, melainkan juga dengan alam dan lingkungan hidup pada umumnya (tercakup binatang, tumbuhan di dalamnya). Manusia harus mengendalikan diri.

Ia harus berlatih (Yunani – askeow) untuk mencapai dan mewujudkan cita-cita yang luhur tersebut. Sebab, kata Mahatma Gandhi, “There is enough for everybody’s need, but there is not enough for everybody’s greed.” (Cukup untuk kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup untuk kerakusan setiap orang).

Maksudnya ialah bahwa daya dukung alam, cukup untuk memenuhi kebutuhan (need) semua orang. Tetapi sama sekali tidak cukup untuk memenuhi apalagi memuaskan nafsu keserakahan (greed) setiap orang. Maka orang harus kembali ke kebajikan dasar yang diajukan Thomas (seperti pengendalian diri, keugaharian atau hidup sederhana), yang sangat penting bagi etika ekonomi, dan juga etika bisnis manusia.

Dalam rangka itu orang pun menghimbau secara kritis-profetis, untuk beralih dari ekonomi ke ekologi. Aktifitas ekonomis harus dilakukan dengan berbasiskan kepedulian etis terhadap alam dan lingkungan hidup. Dari sana muncullah antara lain wacana ecolabel dalam aktifitas industri dan perdagangan antar bangsa.

Tidak ada produk yang bisa bersaing dan laku di pasar global kalau tidak memakai label ekologis, label yang menyatakan bahwa proses pembuatan produk dagang itu berlangsung secara ramah lingkungan, memperhatikan prinsip-prinsip yang menaruh kepedulian pada kelestarian alam dan lingkungan hidup. Jadi, kini ide keramahan (hospitalitas) diterapkan juga dalam relasi kita dengan alam. Hospitalitas yang tadinya hanya diterapkan dalam relasi antar manusia, sekarang juga diterapkan dalam relasi dengan alam dan lingkungan hidup.

Foto: Ist

Sampai di sini mungkin kita akan bertanya secara kritis: Apakah ada sesuatu yang salah dan tidak beres dalam pelbagai aktifitas ekonomis kita? Perlukah kita meninggalkan aktifitas kerja (dalam arti mengolah alam) kita lalu beralih ke aktifitas lain? Kalau kita melakukan hal itu, apakah kita bertanggung-jawab secara etis? Pertanyaannya ialah, jika kita meninggalkan aktifitas ekonomis ini (yaitu bekerja mengolah tanah) lalu kita hidup dari mana?

Seorang ekonom-ekolog dari Belanda bernama Hans Dirk van Hoogstraten, dalam buku Deep Economy (2001), mencoba menjawab hal itu. Menurut dia, ekonomi dalam pengertiannya yang terdalam (maka disebut “ekonomi dalam”, deep economy), harus terkendali, harus bersifat etis, dan karena itu tidak mendatangkan bencana ekologi. Sebab bukankah ekonomi berasal dari oikos-nomos, yang artinya aturan (nomos) bagi rumah (oikos) kita? Bukankah oikos-nomos ialah seni menata rumah? Jadi, tujuan akhir aktifitas ekonomi ialah keindahan, keteraturan, harmoni, keselarasan dalam artian luas.

Paham dasar oikos-nomos inilah yang perlu dikembangkan sebagai alternatif bagi wacana lama yang telah menjadi grand-narrative dalam politik, ekonomi, dan moral kita. Kita diajak untuk tidak lagi hanya berkoar-koar tentang “ekologi dalam” (deep ecology) melainkan kini saatnya kita bicara tentang “ekonomi dalam” (deep economy). Wacana “Ekologi dalam” sudah lewat. Kini era wacana “ekonomi dalam.”

Kita harus berusaha memberi pandangan alternatif dalam wacana filosofis dan moral kita dalam mengarungi hidup di tengah alam dan masyarakat, di tengah nature dan culture. Dengan cara berpikir seperti itu, kita dapat menjadikan oikos-nomos kita sebagai komponen pokok oikos-logos. Tanpa perubahan dalam oikos-nomos, bencana oikos-logos akan berkepanjangan bahkan berkelanjutan. Jika hal itu terjadi, lalu kita akan ke mana? Pemikir E.Schillebeeckx pernah berkata: extra mundum nulla salus. Di luar bumi tidak ada keselamatan. Kalau bumi hancur, maka hancurlah isinya, termasuk manusia dan segala makhluk hidup di dalamnya. Maka mari kita menata lagi harmoni oikos-logos kita dengan menata ulang lagi secara bertanggung-jawab secara etis dan teologis, oikos-nomos kita.

*Fransiskus Borgias M., Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung