Cek Kesehatan Selagi Muda untuk Bekal di Hari Tua

Cek Kesehatan Selagi Muda untuk Bekal di Hari Tua

Tetap sehat di hari tua. (Ist)

SHNet, Jakarta- Besarnya jumlah populasi usia lanjut di Indonesia saat ini dan di masa mendatang akan menjadi masalah sosial ekonomi dan kesehatan.

Menurut data BPS tahun 2015 jumlah usia lanjut ada sebanyak 21 juta atau 8,2 persen jumlah penduduk Indonesia, dan akan mengalami pertambahan ke depan. Hal tersebut diutarakan oleh Dr Asril Bahar dari Unit Pelayanan Geriatri RS Tebet Jakarta dalam perayaan HUT ke-36 RS Tebet, Selasa (10/4).

Ia mengatakan, usia lanjut usia juga rentan terserang penyakit dan proses penyembuhannya pun lama. Bertambahnya jumlah pasien Geriatri dengan ciri-ciri khas yaitu pasien yang berusia lebih dari 60 tahun, multi-patologi, tampilan klinis tidak khas, fungsi organ menurun, gangguan status fungsional (fisik-mental), gangguan nutrisi dan poli-farmasi.

Penyakit terbanyak mereka yang berusia lanjut yang tertinggi adalah Artritis 49 persen, Hipertensi dan CVD 15,2 persen, Bronkitis/RTI 7,4 persen, Diabetes 3,3 persen dan Jath 2,5 persen, Stroke 2,1 persen.

Untuk itu cek kesehatan perlu dilakukan secara berkala sejak muda sehingga tetap sehat dan mandiri di hari tua. “Yang terjadi di Indonesia umumnya orang peduli sakit daripada sehat. Kalau lagi sehat, jarang ada yang check up secara berkala.  Nanti kalau sudah sakit baru rutin periksa ke dokter minum obat sesuai petunjuk dokter dan sebagainya,” ujar Asril.

Kapan orang mulai melakukan check up? Menurutnya, cek kesehatan bisa dilakukan sejak usia 30 tahun. Karena pada usia tersebut sudah mulai proses generatif.

“Kalau bisa pas ulang tahun, kita cek kesehatan. Pada usia 40 tahun, cek kesehatan bisa dilakukan satu kali setahun. Dia atas 60 tahun, cek kesehatan bisa dilakukan 2 kali setahun,” tuturnya.

Selain rutin melakukan cek kesehatan, kita juga perlu budayakan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Aktivitas apa saja bisa dilakukan, yang penting bergerak. Olahraga juga perlu dilakukan, minimal 3 kali dalam seminggu.

Dari muda, kita juga harus memperhatikan pola makan dengan gizi seimbang. Sebisa mungkin mengurangi konsumsi karbohidrat dan lemak jenuh yang berlebih. “Kalaupun Anda ingin menjalani diet, baiknya lakukan diet Mediteranian dan Okinawa,” ujar Asril.

Mengelola stress juga tidak boleh disepelekan. Bahkan kita harus bersahabat dengan stress.

Dia menambahkan, khusus untuk pasien Geriatri, diperlukan pengkajian paripurna. “Diperlukan pengkajian paripurna pasien Geriatri, artinya bersifat holistik, pendekatan interdisiplin, bio-psiko-sosial, kuratif, rehabilitatif, promotif, prefentif dan lainnya. Pendekatannya harus secara inter-disiplin dengan team terpadu,” katanya.

Tim terpadu ini meliputi internis geriatri, rehabilitasi medik geriatri, psikogeriatri, perawat geriatri, ahli gizi, konsultan terkait seperti neurologi, ortopedi, mata, THT, urologi, kulit, gigi, dan lainnya. Sementara untuk fasilitas geriatri meliputi poliklinik geriatri , ruang rawat akut geriatri, ruang rehabilitasi geriatri, day hospital, nursing home dan fasilitas home care. (Stevani Elisabeth)