Beragam Penelitian Menunjukkan Kelor Pengobat Kanker

Beragam Penelitian Menunjukkan Kelor Pengobat Kanker

Foto: Anis/odesa.id

SHNet – Potensi kanker menjadi ancaman hampir setiap orang modern karena makanan dan lingkungan. Daun, Biji Kelor dan serbuknya sangat baik dikonsumsi harian.

Kelor (Moringa Oleifera) sudah dikenal luas memiliki kemampuan untuk menghambat kanker. Banyak penelitian tentang itu. Bahkan situs NCBI (National Library of Medicine

National Institutes of Health) merilis lebih 30 penelitian tentang Kelor, meliputi daun basah, daun kering, biji dan kulit batang-nya, memiliki kemampuan mengatasi beberapa jenis kanker dalam tubuh hewan dan manusia.

Penelitian Kalkunte S , Swamy N , DS Dizon, Brard L tahun 2006 misalnya, menghasilkan temuan bahwa sebuah molekul yang ditemukan pada Kelor mampu mematikan sel pada sel kanker ovarium yang tumbuh di laboratorium. Berdasarkan temuan ini, peneliti yakin tanaman ini berpotensi untuk mengobati kanker jenis ini. Sebelumnya, Asian Pacific Journal of Cancer Prevention di tahun 2003 menerbitkan sebuah studi tentang kemampuan ekstrak biji kelor pada tikus. Hasilnya, tikus yang mengonsumsi biji kelor itu mengalami penurunan papilloma kulit dan juga terbukti Kelor mencegah kanker.

Para peneliti yakin akan kelor sebagai pembasmi kanker.  Bahkan penelitian Lembaga Menurut ECHO Echo Research and Practice, penelitian pada pasien yang terkena gejala HIV yang mengonsumsi bubur dengan daun Kelor disertai butiran biji bayam banyak mengurangi virus HIV. Peran sayur Kelor dalam hal ini juga mengurangi derita pasien yang mudah lelah, sesak napas, penurunan berat badan dan batuk kronis. Gejala ini serupa dengan penderita kanker paru-paru.

Jauh sebelumnya, saat sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merekomendasikan Kelor sebagai bahan pangan yang bergizi tinggi tahun 2014, ada kegiatan konferensi Internasional AIDS ke-14 di Barcelona, Spanyol tahun 2002 yang merekomendasikan bubuk Kelor sebagai bahan pengobatan alternatif untuk memperkebal tubuh dari gerogotan virus ganas. Peran Kelor saat itu sudah luas diketahui di Afrika untuk pemasok gizi sehingga mereka yang terkena AIDS banyak mendapatkan pertolongan.

Pilihan Daun Segar dan Teh

Daun Kelor dalam hal antioksidan juga dikenal lebih tepat digunakan pada daun basah, daun kering, biji muda dan biji keringnya. Tetapi bubuk Kelor juga bermanfaat karena efektivitasnya untuk penyimpanan dalam waktu lama. Hanya saja karena kita di Indonesia hidup di iklim tropis yang peluang menanam sangat mudah dan bisa memanen kapan saja, sangat dianjurkan mengonsumsi daun basah sebagai sayuran/lalapan harian, atau teh (daun kering) tanpa panas matahari langsung), dan biji kering murni tanpa ekstrak diminum langsung.

Antioksidan dalam kelor jumlahnya mencapai 46 senyawa dengan beragam karakteristik. Deretan kandungan antioksidan yang bisa mengatasi radikal bebas dalam Kelor tersebut antara lain bisa dilihat pada daftar berikut ini: Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E, Vitamin K, Vitamin B, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B3, asam miristat, asam palmitat, Prolamine, vitamin B6, Alanine, Kaempferal, Leucine, Lutein, zeaxanthin, seng. Klorofil, Chromium, Delta-5-Avenasterol, Delta-7-Avenasterol, Metionin, Alpha karoten, Proline, Quercetin, Rutin, Selenium, Arginine, Acid Indole Acetic, Beta karoten, beta-sitosterol, Campesterol, Karotenoid, Xanthophyll, Asam kafeoylquinic, Threonine, Tryptophan, Xanthins, Zeatin, Glutathione, histidin, dan Indoleacetonitrile.

Kandungan-kandungan-kandungan tersebut juga bisa berguna untuk Anti-inflamasi yang berguna mengatasi masalah beragam radang non mikroorganisme yang baik. Belum lagi kalau kita sertakan kandungan Asam Amino, Sepuluh Asam Amino Non-Esensial, Vitamin, Mineral, Seng dan lain sebagainya.

Kanker bisa mengenai siapa saja, apalagi dalam dunia modern di mana kualitas makanan sudah tidak lagi mengandung gizi, belum lagi kualitas lingkungan terutama di perkotaan. Mengonsumsi Kelor setiaphari adalah langkah bijak merawat tubuh kita. (Anis.Odesa.id)