Benarkah, Tides Masih “Mengembara”?

Benarkah, Tides Masih “Mengembara”?

Para sahabat Tides, yang menuliskan kesannya tentang Aristides Katoppo pada Buku Tides Masih Mengembara, menerima buku tersebut dari Sasmiyarsi Sasmoyo (Mimis).[SHNet/whm]

SHNet, Jakarta – Benarkah Tides masih mengembara? Demikian antara lain pertanyaan yang mengemuka pada acara Jamuan Minum Teh bersama Aristides Katoppo (Tides), yang berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/4).

Acara Jamuan Minum Teh ini, rupanya sekaligus merupakan ajang bincang-bincang mengenai Buku “Tides Masih Mengembara”, Hadiah Ulang Tahun Ke-80 Aristides Katoppo dari istrinya, Sasmiyarsi Katoppo (Mimis) pada 14 Maret 2018 lalu.

Pertanyaan apakah Tides masih mengembara, terlontar dari salah satu pembahas buku Tides Masih Mengembara, yakni kakak ipar Tides, Saswinardi Sasmoyo. Menurut Saswinardi, hingga saat ini, Tides memang masih aktif memikirkan banyak hal terkait negeri ini. Namun, ia mempertanyakan, apakah “pengembaraan Tides” tentang kondisi saat ini, juga telah tergambar buku Tides Masih Mengembara?

Terkait pertanyaan ini, Prof Dr Meutia Hatta, antropolog terkemuka dan mantan menteri Pemberdayaan Perempuan memberikan komentarnya.

“Benar, Tides Masih Mengembara. Ini saya lihat dari pikirannya yang masih mengembara, saat saya bertemu beliau pada tahun 2016, 2017, 2018. Saya banyak bertemu Tides, karena dokter kami sama. Di ruang dokter kami punya kesempatan berbicara banyak, dan memang pikirannya masih mengembara,” kata Meutia Hatta. Ucapan Meutia ini pun langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Pemotongan Kue Ulang Tahun Ke-80 Aristides Katoppo, Senin (16/4). Tides berulang tahun pada 14 Maret yang lalu. [SHNet/whm]

Teladan Kaum Muda
“Saya melihat Tides itu sangat konsisten, untuk bicara dan peduli kepada masyarakat, serta peduli kepada berbagai hal di negara ini, dari politik sampai seni budaya. Tentu saya tidak mengharapkan pada usia ini, Tides sama seperti pada jaman dia bisa naik gunung dulu. Tapi, Beliau selalu mempunyai keinginan untuk belajar terus dan mengetahui banyak tentang masyarakat kita,” tambah Meutia.

Meutia Hatta yang menuliskan kesannya pada Buku Tides Masih Mengembara (halaman 148) mengatakan, dirinya salut pada Tides, yang pikirannya masih selalu kreatif dan tanggap tentang berbagai aspek seputar ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan nasional, yang pada masa Orde Baru dulu, umum disingkat sebagai Ipoleksosbudhankamnas.

“Inilah yang harus menjadi teladan bagi yang muda-muda. Orang harus tetap kreatif sampai usia lanjut, terus berkarya dan belajar hal-hal baru yang selalu akan kita temukan hingga akhir hayat. Untuk itu, memang Tides bisa jadi teladan,” demikian kata Meutia.

Jangan Mengada-Ada
Sementara itu, dari kalangan muda, mantan wartawan CNN, Rosmiyati Dewi Kandi (33), menyampaikan kesannya setelah mengenal Tides. Menurutnya, Tides merupakan sosok yang asyik dan terbuka, kendati mereka berdua memiliki rentang usia yang jauh berbeda, dan pengalaman Tides telah jauh lebih banyak dari pengalamannya.

“Berbicara dengan Tides tidak seperti berbicara dengan orang tua, tapi seperti berbicara dengan teman. Tides pengalamannya sangat jauh dari saya, tapi menghargai pendapat saya,” kata Kandi.

Menurutnya, Tides adalah orang yang mau menerima perubahan, serta banyak bertanya soal media massa di masa sekarang, antara lain soal beda koran dan media daring. Kendati demikian, Kandi mengungkapkan bahwa dirinya banyak belajar jurnalisme dari Tides.

Aristides Katoppo melayani permintaan tanda tangan dari para hadirin. [SHNet/whm]

“Yang saya ingat itu sangat sederhana, tapi menurut saya kata-kata Tides yang ini merupakan inti dari jurnalisme. Kata Tides, jadi wartawan dan jadi manusia secara umum itu harus apa adanya dan jangan mengada-ada,” tutur Kandi.

Sejumlah hadirin menyampaikan komentar dalam acara ini, mulai dari Mantan Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) di era Presiden Soeharto, Emil Salim; Mantan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu; mantan ratu kecantikan, Dewi Motik; serta beberapa aktivis organisasi, antara lain dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang hukum, dan dari Lingkar Budaya Indonesia (LBI).

Sebagai koordinator penulisan, Eka Budianta menutup acara dengan membacakan epilog dari Buku Tides Masih Mengembara:

“Dalam usia 80 tahun, Tides masih mengembara. Ia masih setia dengan cita-cita, apa saja dan siapa saja yang dicintainya. Inilah sekilas kenangan untuk Aristides Katoppo, wartawan sejati, pencinta lingkungan dan pejuang kemanusiaan. Di atas semuanya Tides adalah pahlawan yang akan selalu hidup dalam hati keluarga, teman-teman dan masyarakat yang mencintainya.” (whm)