Angka Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba Di NTT Terus Menurun

Angka Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba Di NTT Terus Menurun

SHNet, KUPANG-Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi
(BNNP) Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigadir Jenderal Polisi Muhammad Nur mengatakan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di daerah itu terus menurun.

Meski demikian, upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara menyeluruh tetap dilaksanakan.

“Walaupun angka prevalensi penyalahgunaan narkoba mengalami penurunan tetapi upaya P4GN secara menyeluruh tetap di laksanakan,” kata Muhammad dalam rapat koordinasi tingkat kabupaten/kota dengan instansi terkait bidang rehabilitasi BNNP NTT periode April 2018 di Kupang, Jumat (6/4).

Khusus Provinsi NTT angka, prevalensi pengguna narkoba populasi penduduk usia 10 – 59 tahun pada tahun 2015 sebanyak 49.816 org (1,42 %) dan pada tahun 2016 turun menjadi 49.329 org (1,40 %) dan selanjutnya pada tahun 2017 turun menjadi 36.022 (0,99%).

Sampai dengan saat ini, NTT baru memiliki tiga Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) yakni Rote Ndao, Belu dan Kota Kupang dari 22 kabupate/kota di daerah itu.

Muhammad menegaskan, meski baru tiga kabupaten yang terbentuk, namun BNNP NTT dan BNNK tetap bekerja maksimal dalam memerangi kejahatan narkoba dengan tetap melakukan kerjasama/koordinasi dengan instansi terkait atau mitra kerja.

Hal itu dilakukan mengingat BNNP NTT bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program P4GN dalam empat Pilar Pencegahan, Pemberantasan, Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat.

“Kegiatah Rakor ini bertujuan utk mengurangi suplly dan demand dari dampak buruk penggunaan Narkoba di masyarakat, karena tupoksi BNNP NTT adalah melaksanakan program P4GN,” ujarnya.

Kegiatan rehabilitasi merupakan salah satu pilar tanggung jawab BNNP NTT yang mana saat ini sudah dilaksanakan berbagai upaya pelayanan rehabilitasi medis dan sosial serta penguatan lembaga instansi pemerintah dan komponen masyarakat dan kegiatan pasca rehabilitasi melalui raker, rakor, sosialisasi, terapi dan rehabilitasi pecandu.

Ia menyampaikan, pada tahun 2017 jumlah pecandu narkoba yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi 24 orang dari target 240 orang. Sedangkan untuk program pasca rehabilitasi telah diberikan layanan rehabilitasi kepada 41 orang dari target 180 orang.

“Tidak tercapainya target tersebut karena sedikitnya penyalahgunaan yang di rehabilitasi dan yang melapor diri di instansi penerima wajib lapor maupun di BNNP, BNNK,” katanya.(Dis Amalo)