Abraham Samad Akui Kasus Century Terbesar dalam Sejarah KPK

Abraham Samad Akui Kasus Century Terbesar dalam Sejarah KPK

KASUS - Mantan Ketua KPK, Abraham Samad mengatakan lewat kasus Bank Century marwah dan kredibilitas KPK ditentukan. (Ist)

SHNet, JAKARTA – Beragam kasus korupsi dari yang kecil hingga yang besar terus mencuat di permukaan. Tapi, Abraham Samad sebagai mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan kalau kasus dugaan korupsi dana talangan Bank Century merupakan ujian terbesar yang harus bisa dilalui KPK.

“Kasus Century ini adalah ujian terbesar dalam sejarah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan KPK harus lulus dari ujian ini,” kata Abraham Samad seperti dilansir Antara di Yogyakarta, pada Minggu (15/4) malam.

Menurutnya, lewat kasus Bank Century inilah kredibilitas KPK ditentukan. Jika KPK sampai tak lulus dalam ujian tersebut, tentu saja akan jadi preseden buruk yang berdampak pada pemberantasan korupsi di Indonesia. “Kalau tak lulus berarti terjadi arah balik pemberantasan korupsi,” katanya lagi.

Ia juga berharap dugaan keterlibatan mantan pimpinan atau pejabat tinggi negara dalam kasus Bank Century itu tak menghambat langkah KPK untuk menuntaskan kasus Century dengan menjunjung asas “equality before the law” atau persamaan di hadapan hukum.

“Sesungguhnya inilah yang harus menjadi fokus kita. Kita tak boleh membiarkan ada seseorang yang kebal hukum karena jabatannya,” kata Abraham.

Ia juga optimistis kasus Century bisa ditindaklanjuti dan tak akan ditelantarkan oleh KPK.

Putusan praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sudah jelas memerintahkan KPK untuk segera menetapkan mantan wakil presiden yang juga mantan Gubernur BI Boediono sebagai tersangka kasus Century.

Tapi, Abraham memprediksi, keterlibatan Boediono dalam kasus itu karena dalam kondisi terpaksa.

“Saya percaya keterlibatan Boediono bukan keterlibatan tunggal.  Mungkin keterlibatan itu karena dia berada dalam rezim yang tak terlalu tepat sehingga terkadang ia pun terpaksa melakukan itu,” katanya.

“Tapi keterpaksaan itu pun tak bisa dijustifikasi dan tak boleh dibenarkan karena ia seorang guru besar,” kata Abraham.  (Nonnie Rering)