Wawancara Imajiner Dengan Bung Karno

10 Maret Empat Tahun Yang Lalu

Wawancara Imajiner Dengan Bung Karno

Oleh : Arief Budiman

Sinar Harapan, 12 Maret 1970 –

Tanya : Selamat pagi, Bung Karno.

Bung Karno : Selamat pagi. Siapa kau dan apa mau mu ?.

Tanya : Saya wartawan. Maksud saya datang kemari mau tanya kepada Bung Karno tentang beberapa pengalaman pribadi Bung Karno waktu dulu berkuasa.

Bung Karno : O, ya. Baik. Memang aku akhir-akhir ini sering sakit, tapi aku selalu memperhatikan perkembangan politik yang terjadi di tanah air ini.

Tanya : Sekarang tanggal 10 Maret. Pada tahun 1966 dulu, pada permulaan bulan Maret, sedang terjadi secara hebat-hebatnya demonstan mahasiswa. Apakah bapak masih ingat saat itu ?.

Bung Karno : O, tentu, tentu. Hari ini adalah hari yang tidak bisa aku lupakan. Waktu itu, para mahasiswa yang dibiayai CIA sedang hebat-hebatnya ngamuk, mereka menduduki beberapa departemen, mereka merusak departemen luar negeri hingga dokumen penting dibuatnya berserakan di lantai. Ini sungguh kurang ajar. Aku marah sekali. Ini anak-anak muda yang masih ingusan mau ngacau, mereka tidak tahu bahwa Nekolim tertawa lebar-lebar karena aksi mereka yang tidak tentu arahnya itu.

Tanya : Lalu, apa yang bapak lakukan waktu itu ?.

BK : Kepada ABRI, sebagai Pangti ABRI, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, aku keluarkan perintah harian pada tanggal 8 Maret. Coba tunggu (dari lacinya mencari selembar kertas, lalu BK mulai membaca). Begini bunyinya perintah harian tersebut.

1. Pertinggi kewaspadaanmu untuk menghadapi segala macam hasutan dan setiap penyusupan jarum subversi dan kontra-revolusi yang selalu berusaha memecah belah kesatuan dan persatuan antara rakyat/ABRI/PBR serta terhadap segala usaha yang membelokkan jalannya revolusi kita ke kanan.

2. Tingkatkan kesiap-siagaanmu untuk menghancurkan setiap usaha yang langsung maupun tidak langsung yang bertujuan merongrong terhadap kepemimpinan, kewibawaan atau kebijaksanaan Presiden/Mandataris MPRS/Pangti ABRI/PBR.

3. Pupuklah rasa kesatuan dan persatuan nasional yang progresif revolusioner serta pegang Sumpah Prajurit dan Sapta Marga untuk menegakkan kesatuan antara rakyat/ABRI/PBR.

4. Jadilah Bhayangkara Negara dalam membentuk “Barisan Soekarno” sejati, baik dalam ari fisik maupun mental, yang setiap saat sanggup dan berani mengamankan dan menyelamatkan Presiden/Mandataris MPRS/Pangti ABRI/PBR serta secara konsekwen melaksanakan ajarannya.

5. Jauhkan dirimu dari tindakan liar di luar hukum, fitnah-memfitnah dan tetap jalankan komando saya.

6. Perketat pengganyangan kita terhadap Nekolim serta proyek British “Malaysia” dan dengan bersenjatakan Panca Ajimat Revolusi, kita sukseskan Conefo yang akan datang. Camkan dan laksanakan perintah saya ini. Tuhan beserta kita.

Tanya : Wah, pada saat ini, perintah harian itu kedengarannya aneh juga. Siapa yang mendukung perintah harian semacam itu ?.
BK : Eh, kau jangan sinis, coba kau dengar ini (mengambil secarik kertas dari laci dan mulai membaca) :

Kebulatan tekad parpol
1. Tidak dapat membenarkan cara yang dipergunakan para pelajar, mahasiswa dan pemuda itu yang akibatnya langsung ataupun tak langsung dapat membahayakan jalannya revolusi Indonesia dan merongrong kewibawaan PBR Bung Karno.

2. Menyadari keadaan sangat gawat dan adanya aksi subversi dari pihak Nekolim.

3. Berketetapan hati dan bertekad bulat untuk melaksanakan tanpa reserve (Bung Karno tampak emosional ketika membacakan kata-kata ini, tampak dari suaranya yang sedikit bergemetar) Perintah Harian Presiden/Mandataris MPRS/Pangti ABRI/PBR tanggal 8 Maret 1966.

Nah, apa pendapatmu tentang ini ?.
Tanya : Ya, tentunya ini kebulatan tekad pemimpin parpol jaman orla yang kerjanya hanya jadi yes-man bapak saja ketika itu. Saya kira ini juga salah bapak sendiri yang membiarkan parpol itu dipimpin oleh para penjilat yang selalu menyokong tanpa reserve segala apa yang bapak katakan. Pemimpin partai jaman orba tidak begitu sekarang.

BK : Apa kamu bilang ?. Kamu sungguh main sembarang tuduh saja. Coba dengarkan saya baca nama pemimpin partai yang menandatangani ikrar kebulatan tekad itu (BK mulai membaca lagi, setelah memakai kacamatanya):

Dari IPKI : Ny. H. Aminah Hidayat, A. Sukarnawidjaya, Brigjen Drs. A. Sukendro.
Dari Muhammadiyah : Marzuki Jatim, Letjen Mulyadi Djojomartono, Ir. Sanusi.
Dari NU : KH. A. Dahlan, KH. A. Syaichu, Subehan ZE.
Dari partai Khatolik : IJ. Kasimo, RG Duriat, FC Palaunsuka.
Dari Parkindo : M. Siregar, JCT Simorangkir, A Wenas.
Dari Partindo : Asmara Hadi, Moh. Supardi, Ismuwil.
Dari Perti : Rusli Holil, H. Abdurrachman, TS Mardjonan.
Dari PNI : Ali Sastroamidjojo, Ir. Surachman, J. Lumingkewas.
Dari PSII : Arudji Kartawinata, Harsono Tjokroaminoto.

Tanya : Ah, yang benar nih. Apakah bapak tidak salah baca beberapa nama atau bapak sengaja menambahkan dalam rangka kebencian bung kepada orba. Beberapa nama yang bapak bacakan itu adalah orang yang dari pidatonya sekarang dan juga dari sikapnya sungguh 100% bahkan barangkali 200% anti orla.

Mereka benar-benar orba, tampak dari kebenciannya yang hebat kepada orla, karena itulah mereka sekarang memegang jabatan penting dalam lembaga negara. Masakan orang seperti ini dalam momen yang menentukan ketika para mahasiswa dan pelajar mau menegakkan orba, masakan mereka bapak katakan menyokong tanpa reserve kepada bapak yang menjadi ketua umum orla ini tentunya gerpol yang bapak mau jalankan kepada saya.

BK : Hei, wartawan aku tidak mau berdebat dengan kamu, kalau tidak percaya, kamu periksa saja lagi koran-koran pada waktu itu.

Tanya : Baiklah, kalau seandainya benar mereka yang menadatangani pernyataan tersebut, barangkali itu disebabkan karena bapak mengancam mereka dengan kekerasan.

BK : Wartawan, aku menyangkal kalau dikatakan bahwa mereka menandatangani pernyataan itu di bawah ancaman kekerasan. Bahwa mereka takut padakku, meskipun aku tidak mengancam apa-apa, itu adalah lain soal.

Aku toh tidak bisa mencegah orang itu menjadi takut kepadaku dan selalu berusaha menyembah aku, seperti halnya aku tidak bisa mencegah orang seperti Mohammad Matsir, Sutan Sjahrir, Mochtar Lubis atau Zulkifli Lubis berani menentang aku.

Soalnya bukanlah aku mengancam atau aku tidak mengancam. Soalnya apakah mereka orang yang berani memperjuangkan prinsip atau tidak. Coba lihat para mahasiswa dan pelajar yang demonstrasi waktu itu. Apakah kurang akku mengancam mereka ?. Bahkan sudah akuk suruh tembak beberapa tapi mereka terus saja membandel.

Tanya : Tapi, bukankah parpol itu pada keesokan harinya meralat pernyataan kebulatan tekad yang mereka tandatangani sehari sebelumnya itu ?

BK : Ya, benar. Tapi tahukah kau apa isi ralatnya, baiknya aku bacakan saja (BK mengambil guntingan daru surat kabar dan mulai membaca). Coba dengar ini. Kata parpol itu, bahwa mereka tidak dapat membenarkan cara yang dipergunakan para pelajar, mahasiswa dan pemuda yang akibatnya langsung ataupun tidak langsung dapat membahayakan jalannya revolusi Indonesia dan merongrong kewibawaan PBR Bung Karno, itu berarti bahwa “dibenarkan cara yang tidak membahayakan jalannya revolusi dan seterusnya”.

Selanjutnya parpol itu menyadari sepenuhnya bahwa sebab dari aksi yang dilakukan mahasiswa, pemuda, pelajar dan buruh adalah sesuai dengan hati nurani rakyat/parpol/ormas, yaitu :

a) Membubarkan PKI beserta ormas/afiliasinya secara yuridis formil.

b) Membersihkan kabinet dari unsur/simpatisan pembela Gestapu/PKI

c) Menanggulangi kesulitan ekonomi secara sungguh-sungguh dan jujur agar dapat dihasilkan penurunan harga.

Sambil menyadari hal tersebut diatas, parpol/ormas bertekad bulat untuk mengganyang infiltrasi dan subversi Nekolim serta golongan kontrev siasat Gestapu/PKI bersama dengan ABRI dibawah PBR Bung Karno.

Menegaskan sekali lagi mutlak persatuan Tri Abdi Ampera, yakni PBR Bung Karno ABRI-Rakyat/Parpol-Ormas progresif revolusioner Manipolis sejati.

Kau lihat, ini bukan ralat. Ini adalah akrobatik politik. Apa artinya “dibenarkan cara yang tidak membahayakan jalannya revolusi” kalau dibawahnya mereka menyokong revolusiku, revolusi orang manipolis sejati.

Dan kau harus tahu juga, ralat itu dikeluarkan pada tanggal sesudah 11 Maret, meskipun barangkali dibuatnya sebelumnya. Tentunya mereka juga mendengar sedikit tentang usaha Jenderal Soeharto untuk mendapatkan kekuasaan dari padaku.
Jadi logis juga kalau mereka agak takut sedikit dan mengeluarkan ralat itu.

Tanya : Jadi menurut bapak, mereka pada dasarnya setia kepada bapak, hanya karena takut pada Jenderal Soeharto, maka mereka buat ralat itu yang isi sebenarnya juga menyokong bapak.

BK : Ah, wartawan, kau ini masih terlalu hijau untuk mengerti politik. Mereka tidak setia kepada siapa-siapa, mereka hanya mengurus kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak perduli apakah yang berkuasa Orla atau Orba. Bagi mereka satu-satunya yang penting adalah diriinya sendiri. Sebelum tahun 1966, mereka betul-betul berada dipihakku. Mereka, kalau menurut istilah sekarang, adalah Orla 24 karat.

Ketika tahun 1966 pada saat Orla dan Orba sedang bertanding, mereka main dua perahu, satu kakinya menginjak perahu Orla, satu lagi diatas perahu Orba. Mereka tinggal tunggu saja mana yang tenggelam. Kebetulan yang tenggelam adalah perahu Orla, maka pergilah sekarang mereka dengan perahu Orba.

Tanya : Ah, bapak ini memang berbahaya. Bicara dengan bapak membuat iman saya kepada tokoh orba yang sekarang menjadi goyah. Apakah bapak tidak tahu bahwa mereka adalah orang yang boleh kita pilih nanti dalam pemilihan umum untuk menjadi wakil kita, wakil rakyat jaman Orba.

Bagaimanapun juga mereka adalah orang yang bersih, yang tidak pernah terlibat dalam pemberontakan yang manapun juga, tidak pernah terdaftar dalam partai terlarang, tidak pernah……

BK : Ya, mereka memang orang yang tidak pernah apa-apa untuk negara ini kecuali mematuhi siapa saja yang berkuasa.

Tanya : Sudah. Jadi rusak wawancara ini. Saya sekarang baru mengerti yang selalu diteriakkan oleh Jenderal Amir Machmud supaya kita waspada terhadap orang yang mau menyabot Pemilu. Bapak rupanya orang yang dimaksudkan, sebaiknya saya pergi saja dari sini.

BK : Terserah. Kan bukan aku yang mencari kau, tapi kau yang mendatangi aku. Tapi tolong saja peasan kepada Jenderal Soeharto, Presiden yang sekarang supaya dia jangan sampai mengulangi nasib yang aku alami. Sakit rasanya digigit anjing yang dulu kita pelihara karena sekarang kita sudah tidak bisa lagi memberi tulang kepadanya. Sakit sungguh.