Warsimin: LPDB Buat Kami Dipercaya Lembaga Keuangan Lain

Warsimin: LPDB Buat Kami Dipercaya Lembaga Keuangan Lain

Ist

SHNet, SEMARANG – “Saya percaya sistem ekonomi koperasi banyak membantu dan menguntungkan masyarakat. Saya tidak mau teori, lakukan saja.”

Bertahun-tahun Warsimin membangun dan mengembangkan Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Sejahtera, Semarang, Jawa Tengah. Saat ditemui di kantornya, Jl. WR Supratman III No.16-K, Kalibanteng Kidul, Kota Semarang, Warsimin dengan semangat membara menceritakan perjalanan KSU Karya Sejahtera.

Ia merasa tak perlu menyebutkannya satu persatu keunggulan berkoperasi karena sudah banyak yang mengulasnya dari berbagai sudut teori ekonomi dan politik yang ada. “Saya menjalankan saja, sudah ada aturan tentang koperasi dan selalu ada perubahan sesuai tuntutan zaman,” katanya.

KSU Karya Sejahtera berbadan hukum: 9879/BH/VI Tanggal 17 November 1983. Usia yang tidak muda lagi bagi koperasi. Ada lebih dari 200.000 koperasi di Indonesia, bahkan menjadi negara dengan jumlah koperasi terbanyak di dunia. Banyak di antaranya mati tak mau, tapi enggan hidup. Sebagaian besar memang masih sehat (walafiat).

KSU Karya Sejahtera termasuk salah satu koperasi yang sehat. Menurut Warsimin, hal terpenting dalam mengelola koperasi adalah pengurusnya bekerja secara profesional. Ketika ada anggota meminjam dana ke koperasi, pengurus sedapat mungkin memastikan dana itu untuk keperluan yang benar.

Hal itu mencegah terjadi non performing loan (NPL) atau gagal bayar, yang mengakibatkan koperasi tidak berjalan lancar. Selain itu, sistem pencatatan keuangan harus teliti. Terkadang orang kebanyakan menganggap remeh nilai uang yang kecil, tapi lupa kalau keuangan yang besar terdiri dari yang kecil-kecil juga.

Mengelola koperasi adalah soal konsistensi dan passion. Jika koperasi diyakini mampu mengembangkan ekonomi anggota dan dijalankan secara konsisten, hal itu akan terwujud. Jika dijalankan secara asal, koperasi pun hanya asal-asalan saja.

Sejak berdiri tahun 1983, KSU Karya Sejahtera telah mengalami perubahan anggaran dasar (PAD) sebanyak dua kali. Pertama tahun 1996 dan kedua tahun 2010 lalu. Dalam waktu dekat, kata Warsimin PAD mungkin akan segara dilakukan lagi untuk menjawab tantangan dan perubahan zaman yang terus terjadi. PAD selalu dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dan melihat peluang ada di depan. Selain juga memperkuat organisasai dan cara kerja.

Ada banyak tantangan dalam mengelola koperasi. Warsimin mencontohkan soal keanggotaan yang pasang surut. Sebelum menerima dana dari Lembaga Penjamin Dana Bergulir (LPDB) tahun 2010, KSU Karya Sejahtera hanya memiliki sekitar 200-an orang anggota. Saat ini sudah lebih dari 650 orang.

“Namun, yang jadi anggota ada yang keluar masuk. Ketika hendak memerlukan pinjaman ia masuk koperasi. Setelah lunas mencicil, ada yang menghilang begitu saja. Ada yang menyatakan diri keluar dari koperasi,” katanya.

Anggota yang keluar masuk tersebut bukan karena aturan koperasi terlalu rumit, tapi lebih karena yang bersangkutan tidak membutuhkan pinjaman. Namun  sekarang, jumlah anggota terus bertambah seiring kemampuan koperasi memberi pinjaman juga meningkat.

Daya Dobrak LPDB

Warsimin menceritakan, tahun 2010 lalu KSU Karya Sejahtera mendapat dana dari LPDB sebesar Rp 1 miliar. Peminjaman sebesar itu saat aset KSU Karya Sejahtera senilai Rp 700 juta dan karyawan pekerja tetap hanya tiga orang. Sekarang aset koperasi membesar jadi Rp 3 miliar dengan jumlah pekerja tetap dua kali lipat.

“Kami dapat pinjaman dari LPDB dan bisa kembalikan dana itu dalam dua tahun. Itu sukses dan sekarang kami lagi mengajukan pinjaman baru,” katanya. Keberhasilan mengembalikan pinjaman tepat waktu membuat KSU Karya Sejahtera sebagai mitra LPDB-KUMKM Teladan dalam Menjaga Komitmen.

Pinjaman dana dari LPDB, menurutnya sangat membantu anggota KSU Karya Sejahtera yang kebanyakan adalah pedagang usaha kecil dan menengah (UKM). Sebelum dapat dana pinjaman itu, kebanyakan anggota anggota hanya bisa meminjam dengan jumlah Rp 500.000 – Rp 1.000.000. Maksimal hanya meminjam Rp 5-10 juta. Suntikan dana dari LPDB membuat anggota rata-rata meminjam dengan Rp 2,5 juta, jarang meminjam di bawah Rp 1 juta. Bahkan ada yang meminjam hingga Rp 50 juta, terutama untuk para pedagang interior.

“Jarang terjadi gagal bayar. Mereka tahu koperasi membantu, dan mereka tidak ingin koperasi mandeg karena mereka. Bunga pinjaman koperasi kecil dan lebih cepat,” jelasnya.

Menurutnya, dengan makin besarnya jumlah pinjaman anggota, menunjukkan ekonomi masyarakat tumbuh dan berkembang. Selain itu, peminjam yang terlambat bayar cicilan terus berkurang. Hal yang menarik, kata Warsimin, anggota KSU Karya Sejahtera jarang yang tidak mencicil pinjamannya. “Hanya terlambat bayar. Tapi pasti mereka cicil,” ujarnya.

Sukses meminjam dan mengambalikan dana pinjaman dari LPDB, KSU Karya Sejahtera panen kepercayaan dari sejumlah lembaga keuangan lain. Beberapa bank BUMN dan swasta bahkan ingin meminjamkan uangnya ke KSU Karya Sejahtera. “Kami sekarang jadi lebih dipercaya sama lembaga keuangan yang lain. Bank Jateng, BRI mau kerja sama. Tapi, itu juga tantangannya. Kami di koperasi menjadi lebih hati-hati,” jelasnya.

Menurut Warsimin, LPDB memiliki standar tinggi dalam memberi pinjaman. Lembaga tersebut melakukan kontrol, monitoring dan evalasi secara berkala kepada mitranya. LPDB juga melatih KSU Karya Sejahtera menyusun laporan keuangan secara rapih dan valid. Hal ini yang tidak atau jarang dilakukan oleh lembaga keuangan lainnya.

“Dia mendobrak kami untuk melakukan berbagai hal yang sebelumnya mungkin nggak dianggap terlalu penting. Ternyata itu penting dan dampaknya besar,” katanya. Bahkan bisa saja lembaga keuangan lain membiarkan koperasi untuk gagal bayar. Sebab dengan demikian bisa sita aset. Itulah sebabnya KSU Karya Sejahtera masih utamakan LPDB dalam mendapatkan dana segar. (Inno Jemabut)