Tiwah dalam Agama Kaharingan

Tiwah dalam Agama Kaharingan

Oleh Aju

 Filsuf  Thomas Aquinas, 1225 – 1274, memperkenalkan teologinaturalis alamiah atau teologi adikodrati, menegaskan, seseorang bisa mengenal Tuhan dengan akal dan budinya. Ajaran Thomas Aquinas dipertegas di dalam Konsili Vatikan II, 1965, dengan menyebutkan, di luar Gereja Katolik ada keselamatan. Ini pula kemudian mendorong inkulturasi Gereja Katolik ke dalam kebudayaan di masing-masing negara.

Dalam pemahaman universal, kebudayaan melahirkan agama. Agama adalah produk budaya. Kebudayaan masyarakat kemudian melahirkan agama tradisi besar, dan atau agama bumi, dan atau agama samawi (agama berdasarkan wahyu dari Timur Tengah, seperti Agama Katolik dan Agama Kristen).

Dalam pemahaman ini, maka putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK-RI), Nomor 97/PUU-XIV/2016, tanggal 7 Nopember 2017, tentang pengakuan terhadap Aliran Kepercayaan di Indonesia, implikasinya sebagai bentuk pengakuan negara terhadap agama asli dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Termasuk di antaranya, pengakuan negara terhadap keberagaan Agama Kaharingan, agama asli Suku Dayak di Kalimantan. Agama asli Bangsa Indonesia, termkasuk Agama Kaharingan, sangat berjasa di dalam membentuk karakter Bangsa Indonesia, sehingga kebudayaan Indonesia dikenal kalangan luar negeri.

Agama Kaharingan di Kalimantan, diperkenalkan Marsekal Pertama TNI Tjilik Riwut. Tjilik Riwut, seorang penganut Agama Katolik, Gubernur Kalimantan Tengah, 1958 – 1967 dan Pahlawan Nasional tahun 1999.

Tjilik Riwut, ketika masih menjabat Residen Sampit berkedudukan di Banjarmasin, memperkenalkan Agama Kaharingan tahun 1944. Dalam bukunya berjudul: Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur, disunting salah satu putrinya, Nila Riwut, diterbitkan: Pustaka Empat Lima di Palangka Raya, tahun 2003, Tjilik Riwut, meletakkan pemahaman mendasar hakikat Agama Kaharingan.

Martin Georg Baier, teolog berkebangsaan Jerman, dalam bukunya: Dari Agama Politeisme ke Agama Ketuhanan Yang Maha Esa, Teologi Sistematika Agama Hindu Kaharingan: Pembahasan Kemajuan Iman dan Kehidupan Agamawi Agama Hindu Kaharingan, 2008, mengklaim, Agama Kaharingan, satu-satunya agama suku di dunia yang masih mampu bertahan di tengah-tengah globalisasi dan pembangunan.

Agama Kaharingan di Provinsi Kalimantan Barat, pernah eksis di kalangan Suku Dayak Uud Danum di Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kecamatan Sorabai (Serawai), Kabupaten Sintang, di Kecamatan Monuhkung (Menukung), Kecamatan Olla (Ella Hilir), Kabupaten Melawi, dan di kalangan masyarakat Olung Daan (stramras Dayak Uud Danum) pehuluan Sungai Monday, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas  Hulu.

Hormat alam sekitar

Sebagai agama suku, ekspresi peradaban Agama Kaharingan sangat akrab dengan alam, sangat menghormati alam sekitar. Bukit, hutan belantara, lembah dan ngarai, diyakini tempat bersemayam roh leluhur, sehingga mesti dilestarikan.

Jaminan kelestarian alam sekitar bagi pemeluk Agama Kaharingan, bertujuan mempermudah berkomunikasi secara batin dengan roh leluhur. Istilah dan jenis ritual di dalam Agama Kaharingan lebih banyak menggunakan Bahasa Dayak Ngaju. Kitab Suci Agama Kaharingan bernama Panaturan dan tempat peribadatan disebut Basarah.

Dilukiskan, manusia yang hidup di dunia, awalnya merupakan keturunan Raja Bunu, anak dari pasangan suami-istri yang hidup di alam gaib, bernama Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut danKameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Bahtu Kamasan Tambun. Salah satu lokasi kehidupan manusia di alam gaib adalah di Puncak Puruk Mokorajak.

Agama Kaharingan menganggap Puruk Mokorajak (Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya), sebagai sumber resapan air, diklaim sebagai tempat suci, karena di bagian puncak, di bagian paling atas, terdapat danum kaharingan, atau air kehidupan.  Setelah sampai saatnya, sembilan bulan sepuluh hari mengandung, Komeluh Putak Bulou, istri Manyamei Tunggul Garing, melahirkan anak laki-laki yang kembar tiga. Setelah melalui upacara nahunan  atau pemberian nama, maka ketiganya masing-masing diberi nama: (a) Raja Sangen, (b)Raja Sangiang, (c) Raja Bunu.

Atas kehendak Ranying Hatalla Langit,  atau Tuhan Yang Maha Kuasa, mereka bertiga mendapat anugerah sepotong besi yang sebagian tersembul di permukaan air dan sebagian tenggelam. Raja Sangen dan Raja Sangiang memilih besi yang tersembul di atas air atau sanaman lampang, sedangkan Raja Bunu memilih besi yang tenggelam atau sanaman leteng. Dari besi tersebut dibuatlah bagi mereka masing-masing sebuah senjata bernama bohong, sejenis tombak atau keris.

Ranying Hatalla Langitmenganugerahkan lagi seekor gajah emas yang dalam Bahasa Sangiangatau bahasa kuno disebut Gajah Bakapek Bulou. Melihat gajah emas tersebut maka ketiganya berebut ingin memilikinya. Disebutkan Raja Sangen dan Raja Sangiang menikam gajah emas tersebut dengan senjatadohong (sejenis tombak) yang dibuat dari besi timbul.

  Dari luka gajah emas itu keluarlah darah yang menghasilkan emas, intan, perak dan menyebabkan harta kekayaan bagi Raja Sangen dan Raja Sangiang yang berlimpah ruah. Kemudian bekas luka gajah bersayap emas atau gajah bakahpekbulou (bersayap emas) dipegang oleh ayah mereka bernama,Manyamei Tunggal Garing Janjahunan Laut dan luka itu menjadi sembuh tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.

Manusia keturunan Raja Bunu

Melihat hal demikian, Raja Bunumenikam gajah emas itu dengan menggunakan dohong, sejenis keris, papan bentengnya yang terbuat dari besi tenggelam atau sanaman leteng. Maka keluarlah darah gajah emas itu dan langsung menjadi emas, intan, perak dan harta kekayaan lainnya. Namun atas kehendak yang maha kuasa, maka bekas luka gajah itu tidak bisa disembuhkan.

Gajah itu terus lari dan mati di sebuah aliran air atau bahtang danum yang sebut tiawu bulou. Dengan kehendak Yang Maha Kuasa, gajah bersayap emas tesebut, berubah menjadi kayu nyaraka alam. Serta darahnya terus berhamburan mengisi pantai danum kalunen atau bumi tempat tinggal manusia yang menjadi emas, intan, perak, dan harta kekayaan lainnya yang melimpah.

Setelah beberapa hari setelah kejadian, ketiganya menceritakan hal itu kepada kedua orangtuanya. Kemudian orangtuanya menyuruh mereka memotong dahan pada sebuah pohon buah-buahan di halaman rumah.

Raja Sangen dan Raja Sangiangmemilih memotong dahan yang menghadap matahari terbit atau pambelum, dengan menggunakan senjata dohong. Mereka memotong dahan tersebut, tapi kemudian di bekas potongan dahan, tumbuh subur kembali, seperti sedia kala.

Lain halnya dengan Raja BunuRaja Bunu, memilih dahan yang menghadap ke matahari terbenam atau pambelep. Dengan menggunakan senjatanya atau sanaman leteng, Raja Bunumemotong dahan tersebut. Sekali lagi keanehan terjadi, bahwa atas kehendaknya dahan tersebut tidak bisa kembali lagi dan langsung mati.

Melihat hal itu, ayah, ibu dan kedua saudaranya merasa was-was dengan apa yang akan menimpa Raja Bunu.Manyamei Tunggul Garing danKameloh Putak Bulou, orangtua Raja Bunu memohon petunjuk kepada Ranying Hatalla Langit, atau Tuhan Yang Maha Kuasa, atas apa yang akan terjadi terhadap Raja Bunu.

Ranying Hatalla Langit berfirman kepada Manyamei Tunggul Garingdan Kameloh Putak Bulau, anak mereka bernama Raja Bunu telah memilih jalan hidupnya sendiri dan telah ditakdirkan untuk turun ke dunia. Anak keturunan Raja Bunusebagai cikal bakal menjadi manusia di muka bumi atau pantai danum kalunen.

  Ranying Hatalla Langit  berfirman, apabila sampai saatnya nanti Raja Bunu kembali kepada-Nya, makaRaja Bunu, tidak akan melewati kematian lagi. Anak keturunan Raja Bunu, walau melewati proses kematian, tetap diberikan jalan keselamatan. Keturunan Raja Sangen dan Raja Sangiang bertugas untuk menyelamatkan keturunanRaja Bunu. Mendengar jawaban dariRanying Hatalla Laut, maka legalah hati pasangan suami istri Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau.

Kehidupan Ranying Hatalla Langit, telah mengatur segala sesuatunya, untuk menuju jalan kehidupan, ke arah kesempurnaan yang kekal dan abadi. Ketika nenek moyang manusia diturunkan ke Pantai Danum Kalunen, atau lewu injam tingang atau alam tempat kehidupan manusia, terlebih dahulu mereka telah dibekali sendiri oleh Ranying Hatalla dengan segala aturan, tatacara, bahkan pengalaman langsung untuk menuju ke kehidupan sempurna yang abadi.

Itulah sebabnya ketika Raja Bunudan keturunannya diturunkan dari langit menggunakan polahkak bulou atau sangkar emas, mereka telah sangat mengerti dan paham bahwa mereka berada di Pantai Danum Kalunen, hanya untuk sementara.

Kelak apabila waktunya sudah tiba, mereka akan kembali ke lewu liauatau lewu tatu liau rumpang tulang,rundung raja isen kamalasu uhat atau rumah Ranying Hatalla Langitatau surga atau alam atas. Merekabuli atau pulang ke tempat asalnya untuk bersatu kembali dengan penciptanya, dengan sarana upacaratiwah dalam Bahasa Dayak Ngaju atau darok di dalam Bahasa Dayak Uud Danum.

Heroisme Bahen Ofang

Ritual nyolat bodohon (dialek Dayak Uud Danum di Sorabai) dan ataunyolat borohon (dialek Dayak Uud Danum di Momaluh) almarhum Sersan Mayor Bahen Ofang di Rumah Radakng, Pontianak, pukul 09.00 WIB, Senin, 21 Mei 2018, dalam konteks penghargaan dan atau pengakuan terhadap Agama Kaharingan, agama asli Suku Dayak.

Nyolat bodohon adalah ritual tiwahdan atau darok yang dipersingkat, yakni upacara menghantarkan arwah leluhur ke surga. Dalam Agama Kaharingan, roh seseorang masih gentayangan di alam bumi, sebelum dilakukan tiwah atau darok. Kalautiwah digelar minimal selama tiga hari berturut-turut, maka nyolat bodohon, cukup digelar satu hari saja, tanpa menghilangkan maknanya.

Bahen Ofang, berasal dari Dahtah Dalung, Pipin, Kecamatan Momaluh, Kabupaten Sintang, dan meninggal dunia di Pontianak dalam usia 60 tahun, tanggal 20 Maret 2000. Saat aktif di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), menjadi seorang anggota militer yang heroik, karena sangat berjasa menyelamatkan nyawa Pangdam XII/Tanjungpura Brigadir Jenderal TNI Antonius Josep Witono Sarsanto, dalam kecelakaan helikopter di Bengkayang, Ibu Kota Kabupaten Bengkayang, 29 Mei 1968.

Ketika akan mendarat, mesin pesawat helikopter bergerak tidak wajar. Melihat ada ketidakberesan, Bahen Ofang yang ikut terbang, merangkul paksa Brigjen TNI Antonius Josep Witono Sarsanto, dan menjatuhkan diri dari ketinggian sekitar empat meter.

Begitu Bahen Ofang dan Antonius Josep Witono Sarsanto menjatuhkan diri, pesawat helikopter tiba-tiba terbang tidak terkendali, sehingga terhembas dan meledak. Dua awak helikopter  tertinggal di dalam pesawat, yakni Pilot Kapten I Subagijono dan Tjapa Soenarjo (Ajudan Pangdam XII/Tanjungpura), tewas seketika.

Sedangkan Bahen Ofang dan Antonius Josep Witono Sarsanto, hanya mengalami luka lecet, karena terjatuh di tengah-tengah semak belukar. Kecelakaan kemudian memperkuat ada dugaan sabotase di dalam tubuh Kodam XII/Tanjungpura, selama operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS), 1966 – 1974. Ini mendorong pimpinan Kodam XII/Tanjungpura kemudian melakukan pembersihan di kalangan internal.

Penumpasan PGRS dinyatakan berakhir telah salah satu pentolannya, S.A. Sofian ditembak mati Tim Kala Hitam Kopassanda TNI AD pimpinan Lettu (Inf) Johanes Sudiono (pangkat terakhir Brigjen TNI)  di Sungai Kelabau, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, 12 Januari 1974.

Melalui upacara ritual nyolat bodohon almarhum Serma Bahen Ofang, sekaligus sebagai ungkapan kebanggaan bagi masyarakat Suku Dayak di Provinsi Kalimantan Barat, karena pernah berjasa menyelamatkan nyawa seorang perwira tinggi TNI-AD.

Letnan Jenderal TNI Antonius Josep Witono Sarsanto, kemudian pernah menjadi Pangdam III/Siliwangi dan Panglima Komando Wilayah Pertahanan Sulawesi dan Kalimantan (1972-1975), dan terakhir sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Jepang. A.J. Witono meninggal dunia di Jakarta karena usia lanjut, Jumat, 1 September 1989.