Nyobeng Ritual Agama Asli Suku Dayak Bidatuh Di Indonesia dan Malaysia

Nyobeng Ritual Agama Asli Suku Dayak Bidatuh Di Indonesia dan Malaysia

SHNet, JAKARTA – Pada 17 Oktober 2014, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arif Yahya, menetapkan ritual memandikan tengkorak manusia Suku Dayak Bidayuh yang bermukim di perbatasan Indonesia – Malaysia di Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Implikasinya Perayaan Nyobeng, 15 – 17 Juni tiap tahun, masuk ke dalam Kalender Pariwisata Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Karena lokasi perayaan berada di tapal batas Indonesia – Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat, maka Perayaan Nyobeng, selalu dijadikan ajang silaturahmi ribuan orang Suku Dayak Bidayuh di Indonesia dan Malaysia, karena memiliki pertalian persaudaraan.

Batas administrasi negaralah yang membatasi masyarakat Suku Dayak Bidayuh. Melalui acara nyobeng, seakan batas administrasi negara, sama sekali tidak menjadi penghalang masyarakat Suku Dayak Bidayuh dari kedua negara untuk berkumpul, melepaskan rasa rindu.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, menetapkan, 15 kriteria di dalam penentuan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, sebagai acuan dalam menetapkan suatu Karya Budaya menjadi WBTB. Lima belas kriteria, meliputi merupakan identitas budaya dari satu atau lebih Komunitas Budaya, memiliki nilai-nilai budaya yang dapat meningkatkan kesadaran akan jati diri dan persatuan bangsa.

Kemudian, memiliki kekhasan atau keunikan atau langka dari suatu suku bangsa yang memperkuat jati diri bangsa Indonesia dan merupakan bagian dari komunitas, merupakan living tradition dan memory collective yang berkaitan dengan pelestarian alam, lingkungan, dan berguna bagi manusia dan kehidupan, WBTB yang memberikan dampak sosial ekonomi, dan budaya (multiplier effect).

Di samping itu, mendesak untuk dilestarikan (unsur atau karya budaya dan pelaku) karena peristwa alam. Bencana alam, krisis sosial, krisis politik dan krisis ekonomi, menjadi sarana untuk pembangunan yang berkelanjutan dan menjadi penjamin untuk sustainable development, keberadaannya terancam punah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, memang memprioritaskan penentuan WBTB diprioritaskan di wilayah perbatasan dengan negara lain, rentan terhadap klaim WBTB oleh negara lain, sudah diwariskan dari lebih dari satu generasi, dimiliki seluas komunitas tertentu, tidak bertentangan dengan Hak Azasi Manusia (HAM) dan konvensi-konvensi yang ada di dunia dan juga peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia, mendukung keberagaman budaya dan lingkungan alam, dan berkaitan dengan konteks.

Nyobeng di sini sebagai bentuk penghargaan terhadap identitas lokal dalam integrasi nasional dan internasional. Nyobeng sebagai sebuah kebudayaan (produk agama asli Suku Dayak Bidayuh), bagian tidak terpisahkan dari produk agama asli Suku Dayak, apabila mengacu kepada pemahaman fifsuf Thomas Aquinas, 1225 – 1274, dimana ditegaskan, seseorang bisa mengenal Tuhan dengan akal dan budinya.

Agama produk budaya

Dalam pemahaman anthopologi budaya, kebudayaan melahirkan agama. Agama adalah produk budaya. Kebudayaan masyarakat dalam satu kawasan, kemudian melahirkan agama bumi, dan atau agama tradisi besar, dan atau agama samawi.

Nyobeng merupakan ritual penghormatan terhadap hasil mengayau (kayau) yang telah dilakukan sejak dahulu kala. Nyobeng adalah ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau nenek moyang. Upacara Nyobeng dilakukan Suku Dayak Bidayuh di Sebujit, Desa Hi Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat.

Dahulu kala Suku Dayak Bidayuh yang tinggal di wilayah Indonesia dan Malaysia kerap saling berperang. Tapi sekarang, lewat Gawai Dayak Bidayuh serumpun Indonesia-Malaysia, dijunjung tinggi persaudaraan dalam kemasan ritual Nyobeng untuk perdamaian. Hasil peperangan terutama ngayau disimpan warga Dayak Bidayuh Hi Buei di rumah baluq.

Tengkorak musuh itu dikumpulkan di dalam rumah adat yang letaknya di tengah kampung. Setiap tahunnya tengkorak hasil ngayau dimandikan dan dibersihkan Ada penghormatan yang diberikan secara turun temurun meski tengkorak itu dulunya adalah musuh. Ritual Nyobeng yang dilakukan setiap tahun merupakan tanda perdamaian, melingkupi perdamaian Dayak Bidayuh serumpun yang ada di Indonesia ataupun Malaysia.

Dalam setiap kesempatan digelarnya ritual Nyobeng, ada warga Malaysia yang ikut hadir dalam upacara tersebut. Memungkinkan bagi mereka (warga Malaysia) untuk ikut hadir di upacara adat tersebut selain karena masih satu rumpun dari Dayak Bidayuh, juga karena kampung Hli Buei (Sebujit) terletak dekat kawasan perbatasan.

Simlog, gendang panjang yang dipasang menembus lantai balug pun bertalu. Mengikuti hentakan kenong dan empat buah gong besar yang tergantung di dinding. Usai istirahat siang menjamu rombongan tamu yang datang, sebuah acara seremonial pun dilakukan. Saat makan siang, hidangan yang diberikan merupakan menu netral.

Artinya, hidangan untuk tamu dapat disantap semua. Hanya saja, penyajiannya memang dikemas secara tradisional. Nasi dan sayur yang dibagikan dibungkus terpisah menggunakan daun. Diletakkan berjejer di depan tamu. Selain itu, ada pula lauk yang disimpan dalam wadah bambu yang sudah diraut dan dibentuk memanjang seperti palung kecil. Kenikmatan santapan terasa meski berbumbu sederhana karena aura tradisional.

Sebelum ritual nyobeng dilakukan,setiap rumah membuat sesaji yang harus diolesi darah ayam dari sayapnya. Darah ayam dipercikkan keberbagai tempat yang dianggap sakral disekitar rumah, rumah adat, dan perkampungan. Ritual nyobeng diawali dengan memotong bambu untuk mendirikan sangiang, tempat sesajian. Ritual dianjurkan dengan memotong ayam sebagai tanda persembahan, kemudian memotong anjing untuk menolak bala.

Upacara dilaksanakan selama tiga hari, dari 15 hingga 17 Juni. Tradisi 2017 sudah ditinggalkan lama sejak tahun 1894. Upacara Nyobeng dipimpin oleh tetua adat Sebujit. Kegiatan utamanya adalah memandikan tengkorak yang disimpan di rumah adat. Upacara Nyobeng dimulai dengan tembakan senjata lantak selama tujuh kali rentetan. Letupan dari senapan tersebut berguna untuk memanggil roh leluhur, sekaligus minta izin untuk pelaksanaan ritual Nyobeng.

Proses ritual

Kegiatan utamanya adalah memandikan tengkorak yang disimpan di rumah adat. Setelah tembakan, kepala suku dan rombongan pengiring berjalan menuju rombongan tamu dari luar desa yang datang menyaksikan Nyobeng. Makna penyambutan tamu tersebut adalah mengikat tali silaturahmi antar Desa Sebujit dengan masyarakat luar desa. Tetua adat melempar anjing ke atas. Kemudian, tamu rombongan harus menebas anjing tersebut.

Jika masih hidup, maka harus ditebas di tanah. Prosesi tersebut juga dilakukan dengan menggunakan telur ayam. Tetua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Jika telur tersebut tidak pecah, maka artinya tamu yang datang tidak tulus. Sebalinya, jika telur yang dilempar pecah, maka tamu ritual tersebut ikhlas. Selama acara Nyobeng, para tamu dihormati.

Para tetua adat memandikan batok kepala manusia yang disimpan di sebuah kotak, bersama kalung babi hutan. Kepala menjadi pilihan utama karena Suku Dayak Bidayuh meyakini bagian leher ke atas adalah simbol jati diri manusia. Tengkorang kepala manusia yang telah dikeringkan bisa menjadi sihir paling kuat di dunia. Tengkorak yang telah dibubuhi ramuan, dianggap memiliki sihir cukup kuat untuk menghadirkan hujan sekaligus meningkatkan hasil panen, dan mengusir roh jahat.

Nyobeng Sebujit merupakan tradisi unik yang digelar di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Ritual ini menarik wisatawan asal Malaysia, mengingat letak Bengkayang yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Rangkaian upacara Nyobeng memperlihatkan nilai-nilai penghormatan terhadap leluhur, penghargaan terhadap perbedaan, solidaritas sosial, dan ketaatan terhadap adat istiadat. “Itu semua warisan leluhur yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan karena budaya merupakan karakter Bangsa Indonesia.

Nyobeng berasal dari kata Nibakng yang merupakan ritual adat ucapan syukur atas panen berlimpah dan juga ritual memandikan kepala hasil ngayau (memotong kepala musuh) dulu.

Bambu posisi terbalik

Ngayau merupakan tradisi perang dan mengambil kepala musuh untuk dibawa pulang ke desa sebagai bukti kemenangan. Sekarang tradisi me-ngayau sudah tidak dilakukan lagi.

Tradisi ini dimulai dengan ritual penyambutan, setelah itu kepala akan disimpan di atas bambu yang ada di sebelah balug(rumah adat). Kemudian masyarakat yang ditunjuk sebagai pejuang akan memanjat bambu dengan posisi terbalik, untuk menunjukkan kekuatan mereka.

Setelah itu, kepala akan disimpan di kotak kayu dan diletakkan di atas bumbung balug. Kepala ini diyakini akan menjadi penjaga kampung serta harus dimandikan dan diberi sesaji sebagai bentuk penghormatan.

Inti ritual ini adalah ucapan syukur kepada Tuhan (Tipaiakng) dalam bahasa suku Dayak Bidayuh, atas berkat panen padi yang melimpah. Ini merupakan tujuan sesungguhnya dari ritual Nyobeng itu sendiri. (Aju)