Gelap yang Membawa Terang ala Marsel Hasan

Gelap yang Membawa Terang ala Marsel Hasan

Rm Marsel Hasan, Pr.

SHNet, JAKARTA – Ide dan kerja kreatif adalah jalan keluar atas berbagai kesulitan yang dihadapi seseorang. Kesulitan tidak diterima begitu saja yang memaksa untuk menyerah. Sebaliknya, kesulitan adalah rangsangan, daya dorong, pemacu dan pelecut untuk memunculkan kreativitas dan inovasi. Kesulitan bisa dikelola menjadi peluang, energi positif yang menyenangkan dan menguntungkan.

Kegelapan karena tidak ada penerangan di malam hari misalnya, tak harus diterima begitu saja, menunggu pemerintah melalui perusahan listrik negara (PLN) untuk mengaliri listrik. Gelap adalah waktu untuk berpikir dan memunculkan gagasan membuat alat penerangan yang kreatif. Seperti dilakukan Marsel Hasan, rohaniwan di Keusukupan Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekali waktu generator listrik yang biasa dipakai di kediamannya rusak. Deretan kesulitannya bertambah. Tidak saja bahan bakar untuk generator yang mahal dan sulit di dapat, kini mesinnya juga rusak. Malam harus bergulat dengan gelap gulita. Namun, dalam situasi kegelapan itulah muncul ide untuk membangun PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro).

“Ketika ke kota dan signal internet cukup lancar, saya pakai untuk browshing mencari cara paling mudah membangun PLTMH. Saya cari kontak siapa yang bisa lakukan dan mendapat nomor kontak Pak R. Budi Yuwono. Perkenalan dengan Pak Budi juga membuka wawasan pendanaannya,” kata Marsel kepada SHNet di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berbekal pengetahuannya di sekolah menengah Seminari Pius XII Kisol (SANPIO), Manggarai Timur, NTT, Marsel mulai belajar potensi air yang ada di sekitar tempat tinggal, sekaligus tempatnya bekerja sebagai imam Keuskupan Ruteng tahun 2010 lalu. Ia mengurus ijin setelah mendapat restu dari atasannya, Uskup Keuskupan Ruteng.

“Setelahnya, saya menjalin komunikasi dengan Pak Budi. Sepakat, dia yang bangun dan sekaligus kepala proyeknya. Dia yang siapkan semua peralatan pengerjaan dan pemeliharaanya. Saya menggerakan masyarakat agar mereka mau dan terlibat dalam pembangunan PLTMH itu. Masyarakat setempat juga menyumbangkan tenaga. Jadi biaya lebih murah. Gereja sebagai lembaga menjadi penanggung jawab. Semuanya mendukung,” kata Marsel.

Pilot Projek

Proyek PLTMH Wae Rina di Desa Deno, Kacamatan Poco Ranaka pun sukses dibangun oleh R Budi Yuwono tahun 2012. PLTMH tersebut sekarang memiliki kapasitas 50kw, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi 143 kepala keluarga. “Ini adalah progam swadaya masyarakat. Kami butuh waktu sekitar 5 (lima) bulan untuk bangun fisiknya,” katanya.

Setelah sukses di Desa Wae Rina, Marsel Hasan mengembangkannya di tempat lain, bekerja sama dengan rekan imam yang menjadi pastor paroki (paroki: komunitas kaum beriman kristiani yang dibentuk secara tetap, berada di bawah satu keuskupan). “Kalau kembangkan di tempat lain, mesti ada usulan dari warga terlebih dahulu. Karena nanti ada soal lahan dan model partsipasi mereka. Sejauh ini banyak yang minta untuk dibangun, tapi saya harus lihat potensinya,” jelasnya.

Pada tahun 2014, pria lulusa Sekolah Tinggi Filsafat Katholik Ledalero, Maumere, NTT itu berhasil membangun PLTMH Wae Mese Wangka di Desa Ranamese, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur. PLTMH kedua ini memiliki kapasitas 100kw dan mampu menmberi penerangan kepada 400 kepala keluarga.

“Saya pikir sebagai rintisan (pilot projek), PLTMH Wae Rina dan PLTMH Wae Mese Wangka sudah bagus. Ketika dari tempat lain ada permintaan, sudah tidak banyak masalah,” ujarnya. Tahun 2016, Marsel Hasan dan R Budi Yowono membangun PLTMH Wae Laba Elar di Desa Biting, Kelurahan Tiwu Kondo dan Desa Compang Teo, Kecamatan Elar, Manggarai Timur. PLTMH Wae Laba memiliki kapasitas 80kw untuk kebutuhan listrik 319 rumah.

Pada tahun yang sama juga dibangun PLTMH Wae Lenger Menggol untuk kebutuhan listrik di Desa Melo, Desa Melo Golondaring dan Desa Wunie dengan kapasitas 50kw. Dengan kapasitas seperti itu, setidaknya 264 keluarga bisa mendapat penerangan di malam hari. “Memang tidak maksimal, seperti kebutuhan listrik yang dibayangkan banyak orang. Tapi setidaknya malam hari mereka tidak terlalu gelap. Anak-anak bisa belajar atau beraktivitas lain di rumah pada malam hari. Kalau sebelumnya pakai lampu sumbu menggunakan minyak tanah, sekarang bisa lebih baik,” kata Marsel.

Ist

Program SPARC

PLTMH yang digagas oleh Marsel Hasan bisa berjalan selain didukung oleh dana swadaya masyarakat juga memanfaatkan Program Strategic Planning and Actions to Strengthen Climate (SPARC) yang mendapat dukungan dari Global Environment Facility (GEF) dan United Nations Developmen Program (UNDP). Bantuan dana dari Program SPARC untuk PLTMH yang sudah dilakukannya sebesar Rp 1,367 miliar.

Sementara dana swadaya dari masing-masing kepala keluarga rata-rata dipungut sebesar Rp 1,7 juta. “Pemerintah Manggarai Timur juga beri bantuan sebesar Rp 170 juta untuk bangun PLTMH Wae Rina, Wae Lenger Menggol dan Wae Laba Elar. Sedangkan PPIP dan PNPM beri bantuan sebesar Rp 550 jta untuk proyek Mae Mese Wangka,” jelasnya.

Tahun 2017 lalu, Marsel Hasan bersama R Budi Yowono membangun PLTMH Wae Leming Rego, Manggarai Barat. PLTMH ini memiliki kapasitas 30kw untuk kebutuhan 164 kepala keluarga. Namun, di lokasi ini pungutan swadaya masyarakat lebih besar, yakni Rp 3,5 juta/kepala keluarga. “Karena di sini kami pinjam dana dari Bank NTT dengan bunga 0,5 persen. Warga bayar ke Bank NTT sebesar Rp 94.000/bulan selama 24 bulan.

Sekarang warga di lokasi itu bisa melewati malam dengan cahaya terang, tak kalah jauh dengan masyarakat perkotaan. Meski listrik mereka hanya menyala dari jam 16.30 hingga 07.30 pagi saja. Tentu bisa dipahami. Selain karena air harus ditampung di bendungan terlebih dahulu untuk menyalakan kincir, juga karena hampir semua penduduk bermatapencaharian bertani. Hanya beberapa di antaranya bekerja sebagai guru sekolah dasar (SD).

Kebutuhan listrik mereka tidak banyak di siang hari. Bahkan tidak ada. Mereka membayar biaya listrik per bolam lampu yang dipasang dalam rumah. Satu bolam lampu dikenai tarif Rp 10.000/bulan dengan maksimal tiga bolam.

Uang bayar listrik itu separuhnya dipakai untuk pemeliharaan dan perawatan alat-alat yang digunakan serta menggaji dua orang operator di setiap PLTMH. Sementara separuh sisanya untuk mencicil pengadaan barang yang dibeli oleh R Budi Yuwono. “Pak Budi memberi kita kwitansi pembelian alat-alat yang dia butuhkan. Kalau cicilannya sudah sesuai harga barang, ya selesai, tidak ada bunga yang dikenakan. Dia bertanggung jawab atas kerusakan selama PLTMH itu ada,” jelasnya.

Dengan menggunakan PLTMH, warga yang biasa menggunakan minyak tanah untuk penerangan malam hari bisa menghemat uang lebih dari Rp 100.000/bulan. Sementara warga yang menggunakan generator menghemet Rp 600.000/bulan. Marsel Hasan yakin, jika cicilan kepada R Budi Yuwono sudah selesai, pada waktunya nanti masyarakat akan menghemat lebih banyak lagi.

Kini tantangan Marsel selanjutnya adalah menjaga kestabilan debit air dan sedapat mungkin menambahnya. Kawasan hutan di Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat punah. Debit air terus berkurang di musim kemarau. Di musim hujan, ancaman longsor dan banjir sangat tinggi. PLTMH Wae Rina sudah mengalaminya. Kerugian karena banjir awal tahun 2018 mencapai lebih dari Rp 450 juta. “Tidak mudah, tapi kita harus terus berusaha dan berkreasi,” tutup Marsel Hasan. (IJ)