Dari Cisarua Percikan Api Dimulai

Dari Cisarua Percikan Api Dimulai

Ist

oleh Web Warouw

SHNet –  Tidak banyak yang tahu, Aristides Katoppo (Tides) ternyata ikut berperan mendorong mahasiswa dan pemuda pada paruh tahun 1980-an untuk berkonsolidasi. Ada satu masa di mana kelompok-kelompok studi semakin disorientasi dalam perdebatan retoris dalam menjawab persoalan-persoalan rakyat dimasa Kediktaktoran Soeharto saat itu. Saat itu, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga tenggelam dalam proyek-proyek donor penghibur rakyat yang ditindas militerisme. Sejarah jugalah yang mendorong lahirnya cikal bakal gerakan masa mahasiswa dan pemuda anti penindasan Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto.

Hingga suatu saat, sebuah pertemuan nasional dari berbagai kota disiapkan secara secara rahasia. Peserta hadir berdasarkan rekomendasi dari masing-masing kampus atau kota asal. Karena kalau bocor, akan membawa resiko keselamatan bagi seluruh peserta. Sudah sangat biasa bagi gendarme Orde Baru melakukan penangkapan terhadap siapapun yang dicurigai melawan pemerintahan Orde Baru. Aristides Katoppo yang dikenal dengan Tides, menyediakan tempat di vilanya yang asri di Cisarua, Jawa Barat dipertengahan tahun 1988.

Sebelumnya, satu persatu rombongan mahasiswa datang secara rahasia ke Jakarta dan menginap di Jalan Siaga, Pasar Minggu. Keesokan hari, secara berkelompok, rombongan berangkat ke Cisarua. Saat itu beda dengan hari ini,- semua orang bisa ke mana saja, bicara apa saja dan berkegiatan apa saja. Di masa Orde Baru, kewaspadaan merupakan syarat utama untuk hadir dipertemuan-pertemuan semacam itu. Setiap orang harus memasang mata dan telinga memastikan tidak ada yang mengawasi atau membuntuti rombongan.

Lepas mahgrib, rombongan kami tiba dipinggir jalan Cisarua. Dengan berjalan kaki kami masuk ke sebuah pekarangan yang agak jauh dari jalan. Seorang kawan berbisik “Itu Tides”. Seorang tua bersandal berjambang dengan rambut mulai menipis menyambut dengan ramah rombongan kami dari Yogyakarta.

Setelah bersalaman, Tides mempersilahkan masuk kedalam rumah yang terbuat dari kayu. Di dinding-dinding banyak dipajang khiasan etnik. Menandakan pemilik adalah seorang petualang yang sudah pergi ke pelosok-pelosok Indonesia. Di rumah utama sudah ada puluhan mahasiswa berkumpul sambil menikmati kopi dan ditemi ubi dan jagung.

Web Warouw (Ist)

Setelah ngobrol ringan antara mahasiswa dengan Tides, kami dipersilahkan makan malam dengan menu seadanya. Tides juga ikut bersantap bersama kami sambil bertukar pikiran tentang situasi nasional yang terbaru tentang semakin mengganaskan kediktaktoran militer dan Soeharto. Kalau tidak salah kasus Kedung Ombo sudah mulai dibicarakan saat itu. Tentang rakyat yang sudah mulai tersingkirkan  oleh proyek-proyek Orde Baru.

Malam itu beberapa nama yang masih teringat ada dari Yogyakarta seperti Bonar Tigor Naipospos, M. Thoriq, M Zuhri, Atha Mahmud, Jayadi Santoso, Eko, Sugeng Bahagijo. Dari Jakarta ada Agus Lenon, Satya Dharma, (alm) Amir Husain Daulay, (alm) Nuku Sulaiman, (alm) Sahara, Ali Imron dan Akbar. Dari Semarang, seingatku ada Putu. Juga Stanley dari Salatiga dan beberapa kawan dari Bogor, Surabaya dan Malang yang samar dan tidak teringat lagi nama-namanya.

Vila milik Tides itu masuk ke dalam jauh agak jauh dari jalan. Beberapa orang bergantian berjaga di luar, kalau-kalau ada orang asing yang mencurigakan mengintip mendengar pembicaraan kami. Di luar gelap dalam malam yang dingin dengan gemericik air di sungai kecil.

Obrolan santai menjadi diskusi serius dan dalam, tentang bagaimana gerakan harus dibangun dimasa depan. Tides membagi pengalamannya diikuti kawan-kawan lain juga. Ternyata dia seorang wartawan. Belakangan aku tahu dia salah seorang pimpinan di Harian Sore Sinar Harapan.

Koran Sinar Harapan, sudah ku kenal sejak belum bisa membaca pada tahun 1970 di sebuah Pulau bernama Bunyu, ujung utara Kalimantan Utara. Sampai di kota kecil bernama Tanjung di pedalaman Kalimantan Selatan, Sinar Harapan juga tetap menjadi bacaan sore hari kedua orang tua ku. Di Balikpapan, ketika aku sudah bisa membaca,– Koran Sinar Harapan tetap setia hadir di tengah keluarga-keluarga buruh tambang yang menghabiskan istirahat sepulang kerja sore hari.

Bagi penulis, saat itu, tumpukan Koran Sinar Harapan penting bukan karena isinya, tapi untuk bahan prakarya di sekolah. Maklum,– penulis lebih memilih membaca komik bergambar ketimbang tulisan kecil-kecil dengan bahasa orang dewasa.

Malam itu penulis hanya termangu melihat Tides, wartawan Sinar Harapan, koran yang beberapa kali dibreidel oleh rezim militer Soeharto,–musuh mahasiswa yang saat itu sedang berkumpul di Casarua.

Belakangan juga aku barusan sadar bahwa kawan-kawan yang waktu itu berkumpul di Cisarua adalah jaringan pers mahasiswa yang sudah sedikit berbeda dari kelompok-kelompok studi berisi retorika kosong di kampus-kampus. Beberapa mantan aktivis pers mahasiswa menceritakan belakangan bahwa, Tides juga sudah sering terlibat dalam training-training pers mahasiswa yang mendorong pertumbuhan pers mahasiswa di berbagai kota. Wajar kalau hari itu Tides terlihat sudah akrab dengan kawan-kawan yang hadir.

Keesokan harinya, beberapa orang lain datang secara bergelombang. Ada Yap Thiam Hien, Adnan Buyung Nasution dan Mulyana W. Kusuma,–mengisi diskusi tematik secara bergilir dari pagi sampai sore hari. Mereka memang dari dulu sudah dekat dengan kawan-kawan sampai saat ini. Penulis tidak ingat ada Arief Budiman saat itu, tapi beberapa kawan dari Salatiga adalah murid-murid atau tepatnya, kader-kader Arief Budiman.

Seusai makan malam, sebuah pertemuan dilakukan membahas rencana ke depan. Tides sudah tidak terlihat. Mungkin sudah kembali ke Jakarta bersama rombongan Buyung dan Yap. Seingatku dalam rapat itu masih ada Mulyana.

Rapat memutuskan besok akan melancarkan sebuah aksi. Isunya adalah tentang mahasiswa Indonesia di Perancis yang menjadi korban pemukulan kelompok fascis, Skin Head. Sasarannya adalah ke Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pemuda-Olahraga, Kedutaan Perancis kemudian ke DPR-RI.

Setelah itu dilakukan rapat aksi untuk pembagian tugas dari bikin poster, spanduk, selebaran, rilis media, dan memastikan juru-bicara. Sambil menyelesaikan tugas, kami disajikan acara kebudayaan rakyat. Bonar Tigor mengundang penari Jaipong. Saat itu memang tari Jaipong lagi populer di masyarakat.

Diiringi musik Jaipong 2 orang penari sunda indah menari,– sambi sesekali mengajak kami ikut menari. Suasana malam semakin larut dengan tari Jaipong. Tidak terasa tugas persiapan aksi bisa selesai dengan kegembiraan.

Belakang hari, penulis berpikir, dimasa orde baru yang penuh dengan intel dan ancaman, Tides telah berani mengambil resiko menyediakan tempat untuk pertemuan mahasiswa dari berbagai kota.

Pagi hari rombongan turun ke Jakarta, sasaran langsung ke kantor-kantor pemerintahan seperti yang direncanakan. Disetiap kantor yang kami datangi, puluhan polisi dan tentara bersenjata lengkap dengan kelompok intelejen,–lebih banyak dari jumlah kami yang melakukan aksi.

Setiap orang memegang poster, ada yang berpidato mengagitasi dan ada delegasi yang menyampaikan tuntutan. Puluhan wartawan dan aparat kepolisian dan TNI mengikuti disetiap kantor yang kami datangi. Namun, sepertinya aparat keamanan kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maklum! Itu adalah aksi mahasiswa dan pemuda pertama di Indonesia setelah Orde Baru mengurung mahasiswa dengan NKK/BKK pada tahun 1980 awal.

Dengan mudah kami berpindah dengan bis kota dari Kantor Departemen Pemuda dan Olahraga, Kantor Depertemen Luar Negeri, Kantor Kedutaan Perancis dan berakhir di DPR-RI. Semua kantor kami datangi dengan memberani-beranikan diri, karena selalu dikerubungi polisi dan tentara. Keesokan harinya, semua media massa koran dan majalah dipenuhi berita aksi kami tersebut.

Pertemuan Cisarua di vila Aristides Katoppo itu hingga sekarang selalu dikenang oleh beberapa kawan sampai hari ini. Buat ku pertemuan itu adalah perpisahan era kelompok studi dengan era gerakan mahasiswa. Dari sekedar beretorika dengan teori,– melesat maju sebagai gerakan massa mahasiswa dan rakyat, yang akan berujung pada penumbangan kediktaktoran orde baru pada Mei 1998.

Beberapa waktu kemudian ditahun 1989, Tides sempat mengunjungi kami. Saat itu, bersama Yuli Eko Nugroho dan Hendra Budiman, aku dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Kami bertiga saat itu adalah korban kekerasan militer dalam aksi membela Bonar tigor Naipospos, Bambang Isti Nugroho dan Bambang Subono yang sedang di adili dibawah pengadilan Orde Baru. Ketiga orang itu ditangkap karena ketahuan menyebarkan dan mendiskusikan buku-buku karya Pramudya Ananta Toer. Demonstrasi yang diikuti ratusan mahasiswa dari seluruh Indonesia itu digasak militer secara beringas di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta. Peristiwa itu dikenal di Yogyakarta dengan ‘Peristiwa Kusumanegara Berdarah’.

Sore hari Tides datang berkunjung bersama anak Pahlawan Revolusi, Amalia Yani. Seingatku, mereka datang beberapa hari setelah diriku sempat menjalani operasi. Saat itu yang ku ingat, Tides sempat berbisik padaku sebelum pulang, “Hei, jangan kapok ne!” katanya dengan dialek minahasanya.

Aksi anti Fascisme di Jakarta itu, mendorong mahasiswa Yogyakarta yang dimotori mahasiswa Fakultas Filsafat UGM melancarkan aksi Sumpah Pemuda yang di pusatkan di UGM, 29 Oktober 1989. Dalam aksi itu Afnan Malay menulis dan memimpin ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta membacakan ‘Sumpah Mahasiswa’

Kedua aksi diatas itulah,– yang istilahnya Danial Indrakusuma,–menjadi percikan api di ilalang kering, sampai kobaran api membesar,–mendorong aksi-aksi mahasiswa dan pemuda di berbagai kampus, di seluruh kota besar di Indonesia. Hingga pada pada bulan Mei 1998,  ratusan ribu mahasiswa, pemuda, kaum miskin kota, kaum buruh dan kaum tani menduduki gedung-gedung DPR diberbagai kota dan akhirnya juga di DPPR-RI Jakarta. Pada puncaknya gerakan massa rakyat berhasil memukul mundur Diktaktor Soeharto, turun dari singgasananya setelah berkuasa selama 32 tahun.

Akhirnya, setelah belasan tahun, pada tahun 2000, aku harus bertemu lagi dengan Tides.  Kali ini bukan untuk bicara tentang gerakan, tapi aku harus bekerja sebagai wartawan di Sinar Harapan. Tides juga yang menerimaku atas rekomendasi dari Maria Pakpahan. Dengan susah payah aku belajar menjadi wartawan sampai hari ini setelah menjalankan media Bergelora.com. Setiap kali bertemu Tides, tak bosan ia selalu mengingatkan,–agar menulis sesuai fakta! Long Live Tides!

Web Warouw, wartawan SINAR HARAPAN. (Tulisan ini juga bisa dibaca dalam buku: Tides Masih Mengembara yang diterbitkan dalam rangka ulang tahun Aristides Katoppo ke-80.)