Aristides Katoppo: Anak Alam dari Tomohon

Aristides Katoppo: Anak Alam dari Tomohon

Kota Tomohon (Ist)

oleh Eka Budianta

“Ketika membuka mata, saya melihat langit luas bertabur bintang.” Itulah peristiwa yang paling berkesan dalam hidup Aristides Katoppo.  Umurnya baru 6 tahun. Ia terbangun dari tidurnya di tepi hutan, di bawah langit biru.  Waktu itu 1944 – perang dunia sedang gencar-gencarnya. Amerika Serikat membuat pangkalan di Morotai. Daerah operasinya sampai ke Sulawesi Utara.

“Suatu hari ketika pulang sekolah, saya tak bisa pulang. Rumah kami rata dengan tanah, kena bom.  Ibu dan ayah mengajak anak-anak pergi mengungsi.” Begitu cerita Aristides, anak nomor 6 dari 9 bersaudara. Ibunya bernama Pingkan Agnes Sintje Rumokoy. Ayahnya, Elvianus Katoppo, seorang kepala sekolah dasar di Tomohon, Sulawesi Utara.

Emil Salim (Ist)

“Di pengungsian, ibu saya memasak dan saya bertugas mencari piringnya. Ada jenis daun pisang yang tidak mudah robek, pisang kate namanya.”  Untuk mendapat daun pisang itu ia harus  menyusuri sungai di hutan yang lebat. “Nah – karena itu setiap hari bertemu dengan ular.  Ada ular hijau, ular hitam, putih, merah, kuning, belang-belang.  Jadi kenal ada banyak macam ular,” ceritanya.

Dari pengalamannya dekat dengan alam, Aristides kelak dikenal sebagai pejuang lingkungan.  Ia ikut mendirikan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).  Nama panggilannya Tides – dikenal aktif oleh banyak orang, baik aktifis muda sampai pensiunan menteri.  Prof. Dr. Emil Salim menulis:

Tamu PPLH yang Pertama

Semula saya tidak mengerti mengapa Pak Harto mengajak saya naik kapal-motor berlayar keliling Teluk Jakarta di suatu pagi bulan Maret 1978. Wajah Pak Harto serius memperhatikan kumuhnya permukaan laut yang hitam pekat sana-sini dan penuh hamburan sampah serta buangan bekas minyak kapal. Beliau menarik nafas dalam dan berkata kepada saya, “Kita baru bekerja sepuluh tahun, tetapi keadaan alam lautan Teluk Jakarta sudah kotor cemar. Bagaimana nanti kalau kita membangun lima-sepuluh tahun ke depan, bagaimana keadaan Teluk Jakarta?”

Saya terdiam menyaksikan betapa kotor tercemarnya muka laut teluk ini. Tapi hati bertanya apa maksud Pak Harto mengajak saya keliling Teluk Jakarta yang kumuh itu di pagi hari ini?

Lalu Pak,Harto menoleh dan menatap muka saya dengan matanya yang tajam. “Saya minta saudara membantu saya mengatasi masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan yang sedang kita hadapi.”

Saya terkejut dan menjawab bahwa saya bukan ahli laut dan tidak faham tentang lingkungan ekologi. “Tetapi saudarakan ahli ekonomi,” jawab Pak Harto. Bukankah ekonomi mengatur “rumah tangga manusia” dan ekologi mengatur “rumah tangga alam”, sehingga ada kaitan? Sambil mengulurkan tangan memegang tangan saya, beliau berkata: Kerja kita menyelamatkan alam masih luas. Selamat bekerja !

Dan sejak Maret 1978 itu saya mengemban tugas selaku Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH).

Setelah dilantik untuk sementara waktu saya bekerja di kantor BAPPENAS di jalan Taman Suropati. Saya belum punya staf dan mulai membenahi kamar kantor sambil hati bertanya “Apa itu lingkungan hidup, bagaimana memulainya, dengan siapa, ke arah mana?”

Tugas “pengawasan pembangunan” agak lebih mudah, karena saya pernah menjabat tugas Menteri Negara Pentertiban Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas. Tetapi tugas lingkungan hidup?

Ketika berkontemplasi di meja kerja memikirkan bagaimana memulai tugas di bidang lingkungan hidup, pintu kamar diketok dan saya diberitahu ada seorang tamu ingin menemui saya.

Inilah tamu Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup yang pertama menemui saya dan yang memperkenalkan dirinya sebagai: Aristides Katoppo.

Dengan ramah ia sambut tangan saya dan memperkenalkan diri sebagai Ketua Himpunan Untuk. Kelestarian Indonesia (HUKLI). Dengan panjang lebar Bung Tides menjelaskan berbagai kegiatan yang dikerjakan oleh HUKLI.

Saya terpelongo dan dengan penuh minat mengikuti uraiannya tentang kegiatan lingkungan. Terus terang saya belum faham apa sesungguhnya itu “lingkungan hidup”. Karena itu dengan penuh minat saya ikuti uraian Bung Tides dan saya tanyakan banyak hal.

Dalam pertukaran-fikiran mengenai lingkungan yang saya tidak faham dengan seorang tokoh yang aktif berkecimpung dalam kegiatan lingkungan, terbukalah fikiran dan lahir gagasan remang-remang tentang bagaimana perlu dan bisa ditangani tugas lingkungan hidup ini.

Pertama, karena saya ketika itu belum punya staf dan selaku Menteri Negara tidak punya aparat departemen yang bersifat eksekutif, maka saya butuhkan mekhanisme sebagai substitusi. Dan di hadapan saya duduk seorang aktivis lingkungan yang memimpin institusi dengan dukungan anggota. Mengikuti pengalaman yang diceritakan Bung Tides ketika itu, terdapat banyak anak-anak muda, mahasiswa dan aktivis yang bekerja di bidang berkaitan dengan lingkungan hidup, seperti pencinta alam yang banyak terdapat di kampus. Timbul inspirasi bagaimana merangkul tokoh-tokoh muda yang bergerak sebagai pencinta alam?

Kedua, dalam pembjcaraan dengan Bung Tides tampak jelas kebanggaannya bahwa  organisasi dan kegiatannya adalah “organisasi non-pemerintah”, yang tegak hidup mandiri, terlepas dari ikatan dengan Pemerintah.

Ketiga, di samping memimpin HUKLI, Bung Tides adalah pula wartawan dan Asisten Pemimpin Umum Sinar Harapan, surat kabar yang berpengaruh di masa itu. Banyak wartawan yang sesungguhnya berminat pada masalah-masalah lingkungan. Andaikata para wartawan surat kabar bisa dirangkul dan membawa mereka serta dalam usaha lingkungan hidup, maka pemasyarakatannya menjadi terbuka.

Sambil bertukar-fikiran dengan Bung Tides, beberapa gagasan tumbuh dalam hati dan mulai terbentang di mata jalan yang mungkin bisa ditempuh dalam menangani masalah lingmungan.

Jika ada seorang Aristides Katoppo menceburkan dirinya dalam pekerjaan lingkungan hidup, maka tentu akan ada perorangan lain dalam masyarakat luas yang juga sedang atau tertarik memgembangkan lingkungan hidup.

Pelajaran utama yang saya peroleh dari diskusi dengan Bung Tides, bahwa masalah lingkungan nampaknya bukan hanya menimbulkan keprihatinan di hati Pak Harto, tetapi juga di masyarakat umum dan terutama generasi muda.

Dengan bekal gagasan yang lahir dari percakapan dengan Bung Tides pada hari pertama saya menjabat tugas Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan !ingkungan Hidup, kemudian tumbuh usaha merumuskan peran-serta masyarakat dalam pengembangan lingkungan hidup. Bahkan secara eksplisit kemudian dirumuskan dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup, hak lembaga swadaya masyarakat untuk aktif berperan serta dalam kegiatan lingmungan hidup. Dan mulailah secara legal pertumbuhan gerakan lembaga swadaya masyarakat di masa kepemimpinan Presiden Soeharto yang di masa itu dituduh sebagai rezim militer.

Tak lama kemudian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dibentuk dalam konferensi yang dipimpin dan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Dan dengan penuh rasa syukur saya menyaksikan bahwa komitmen WALHI memegang teguh kemandiriannya tetap ditegakkanya dalam memperjuangkannya kelestarian lingkungan hidup.

Sementara itu lembaga-lembaga swadaya masyarakat berkembang-biak juga di luar bidang lingkungan hidup mencerminkan semangat peran serta masyarakat kita dalam ikut membangun tanah-air.

Pada ulang-tahun Bung Tides yang ke-80 pada tangggal 14 Maret 2018 ini, perkenankan saya menyampaikan doa selamat, juga kepada Ibu, dan terima-kasih atas kisah idealisme HUKLI yang saudara pimpin puluhan tahun lalu sehingga membuka wawasan saya pada potensi juang yang hidup di hati masyarakat kita untuk secara swadaya membangun kelestarian lingkungan hidup dan jati-diri bangsa.

Jakarta, 21 Januari 2018

Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup, 1978-1993. (Tulisan ini juga bisa dibaca dalam buku Tides Masih Mengembara, yang diterbitkan dalam rangka ulang tahun Aristides Katoppo ke-80.)