Transisi Orla Ke Orba Adalah Masalah Sejarah

Aspri Presiden Mayjen Ali Murtopo

Transisi Orla Ke Orba Adalah Masalah Sejarah

Jakarta, 8 Februari 1973 – Aspri Presiden Bidang Khusus Mayjen Ali Murtopo menganjurkan agar di dalam penulisan sejarah haruslah berwujud suatu penulisan yang mempunyai nilai yang bertitik tolak kepada bangsa Indonesia sendiri dan yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

Hal ini dikemukakan oleh Mayjen Ali Murtopo Rabu siang di depan para ahli sejarah yang tengah mengadakan penataran di aula Fakultas Sastra UI Rawamangun. Seramah yang berlangsung lebih kurang 2 jam itu berjudul : Transisi Orde Lama ke Orde Baru sebagai masalah sejarah.

Proses sejarah
Dalam ceramahnya mayjen Ali Murtopo menceritakan proses sejarah daru mulai masa Orde Lama yang telah memalsukan landsan politik bangsa sampai ke masa Orde Baru, yang mengembalikan pola politik yang murni.

Tahun 1959 menurut Mayjen Ali Murtopo merupakan langkah pertama daripada kaum Orde Lama untuk menegakkan pola politik baru yang mengarah pada komunisme. Hal ini didahului oleh usaha yang salah untuk merombak tata kehidupan rakyat Indonesia, misalnya dengan politik luar negerinya yang berdasarkan kepada ambisi.

Dan juga menciptakan suatu keadaan yang dipaksakan bukan dari basis yang rasional.
Terjadilah konflik dimana 2 kekuatan, yaitu Orla yang bernasakom dan orba yang menentang nasakom. Timbullah kemudian proses tumbangnya Orde Lama, dimana juga mahasiswa memegang peranan penting dalam hal ini.

Titik sejarah kedua
Titik sejarah kedua menurut Mayjen Ali Murtopo adalah pada bulan Maret, dimana keluar SP 11 Maret yang secara yuridis formil Orde Baru mulai menggantikan Orde Lama. Menurutnay, dalam penulisan sejarah nanti terserah apakah titik tolaknya dimulai pada tahun 1965 ataukah 1966.

dalam ceramahnya itu, juga diceritakan masa setelah SP 11 Maret sampai kepada perkembangan sekarang.
Akhirnya dianjurkan oleh penceramah supaya penulisan itu didasarkan kepada kejadian dan nilainya sehingga generasi Indonesia mendatang tersebut mendapat gambaran yang sebenarnya dari pada sejarah bangsa itu.

Soal politik
Mengenai perkembangan partai politik dalam proses sejarah sekarang ini, Ali Moertopo mengatakan bahwa adanya 3 kekuatan politik seperti sekarang, merupakan suatu pertandingan yang seimbang dan bervariasi. Dalam negara yang menganut paham demokrasi Pancasila, hal ini harus dipertahankan.

Dikatakan bahwa apabila partai-partai dibiarkan berlarut-larut seperti keadaannya sebelum diadakan perombakan, partai tersebut akan hancur. Karena ada faktor yang menyebabkan kehancurannnya antara lain konsepnya yang tidak bisa dirasakan oleh rakyat banyak dan berhubungan dengan keadaan sosial sekarang ini, dimana bila ada teman yang naik malah di jegal, demikian Mayjen Ali Moertopo. (SH)