Setelah Warteg Free WiFi di Desa Hanura

Setelah Warteg Free WiFi di Desa Hanura

Ist

SHNet, JAKARTA – “Saya ingin ketika orang menyebut Desa Hanura, yang langsung diingat adalah pemanfaatan IT (information of technology). Desa IT. Bukan Partai Hanura! Hahahaha,” kata Chodri Cahyadi.

Tahukah Anda kalau nama Hanura (Hati Nurani Rakyat) sudah lebih dahulu menjadi nama sebuah desa di Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pasawaran, Lampung? Desa Hanura sudah terbentuk sejak tahun 1967, ketika Panglima ABRI Jenderal Ahmad Yani mengeluarkan kebijakan trasmigrasi TNI Angkatan Darat ke Lampung.

Usia yang jauh lebih tua dari Partai Hanura yang didirikan mantan Panglima ABRI, Wiranto, tahun 2006. “Tapi, sudahlah. Pak Wiranto sudah pernah mengakui itu. Kami senang-senang saja dan ikut berbangga. Dia pernah ajak saya bertemu dengan Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan cerita Desa Hanura,” kata Chodri, Kepala Desa Hanura kepada SHNet beberapa waktu lalu.

Desa Hanura adalah desa juara tahun 2017 untuk wilayah Sumatera pilihan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Di desa ini, Anda bisa menggunakan internet sepuasnya. “Free WiFi sampai ke manapun dalam lingkup desa,” kata Chodri.

Kepala Desa lulusan Universitas Lampung (Unila) itu menjelaskan, tahun 2016 lalu pihaknya mendapat bantuan dari Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informasi (BP3TI), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Dengan bantuan tersebut, pihaknya pun menyusun database warga secara detail dan rinci.

“Kalau Anda hendak mencari sesorang di Desa Hanura, asal tahu namanya saja, datang ke kantor desa. Jika nama yang Anda cari ada di desa kami, akan muncul di layar monitor kantor desa, dan akan dibantu dengan di layar monitor arah jalan ke rumahnya. Kalau tidak tahu nama lengkapnya, cukup kenal wajahnya juga bisa kita arahkan sampai ke rumahnya,” kata Chodri.

Hal yang menyulitkan jika warga sudah memiliki KTP ganda dan tidak masuk database desa. Hal itu karena urusannya bukan lagi domain desa, tetapi sistem IT data kependudukan milik Kementerian Dalam Negeri.

Ia mengetakan Free WiFi sangat penting dan sangat membantu warga desanya. Secara khusus, katanya, WiFi di restoran, warung makan, tempat minum kopi dan lain-lain harus terjamin. Alasannya, sekarang adalah era pasar online. Dengan signal internet yang bagus, orang bisa memasarkan barang dagangan, makanan, minuman secara online. “Di warung makan tegal juga perlu, di tempat minum kopi apalagi, biar penggunjung betah. Sekarang warteg dan tempat minum kopi jadi lebih ramai,” jelasnya.

Di desa hasil transmigrasi masa orde baru tersebut, warga bisa mengecek KTP elektroniknya sendiri di balai desa. Jika ada urusan surat dari dari desa, warga bisa mengurus sendiri di balai desa secara mandiri. “Kita siapkan semua form yang dibutuhkan. Warga tinggal mengisi saja,” katanya. Dengan demikian, tidak ada urusan yang terhambat karena tidak ada petugas desa yang bertugas.

Radio Komunitas

Ist

Selain Free WiFi, Desa Hanura juga sudah membuat radio komunitas pedagang. Radio komunitas pedagang tersebut untuk berbagi informasi tentang harga, persedian, kekurangan, keungguan, kelebihan dan lain-lain tentang komoditas tertentu yang dimiliki Desa Hanura.

“Kita ingin sesama pedagang saling perkuat. Mana yang kurang, jadi peluang usaha buat yang lainnya. Saya bisa tahu harga dengan radio ini. Kadang bisa intervensi harga kalau tidak menguntungkan sesama warga desa,” katanya.

Sekarang, Chodri juga tengah membuat radio komuditas petani. Radio ini berisi informasi harga pupuk, harga hasil pertanian dan sebagainya terkait pertanian. Selain itu juga tentang informasi keluarga berencana dan posyandu yang bekerja sama dengan BKKBN, serta layanan lainnya yang perlu bagi petani.

“Saya ingin orang di desa saya paham, mengerti dan bisa memanfaatkan teknologi informasi dengan maksimal. Sekarang zaman internet. Orang desa tidak boleh kalah. Kalau perlu lebih dari orang kota,” ujarnya. Petani juga diajak untuk menyusun jadwal kegiatan sehingga tahu kapan harus mengantar anak ikut posyandu di pos layanan desa, kapan sebaiknya menyiram pupuk untuk tanamannya, dan sebagainya.

Kedua radio komunitas yang telah tersedia cukup dengan buka aplikasi Zelo Pemdes Hanura di telepon seleluer, atau menggunakan jaringan signal HT (handy talky) yang dikombinasikan dengan dengan Anroid untuk lokasi yang tidak terdeteksi signal internet.

“Dengan demikian, saya di daerah lainpun, tetap bisa komunikasi langsung di radio dengan petani dan pedagang di desa saya,” tegasnya.

Pemanfaatan IT di Desa Hanura, membuahkan hasil yang signifikan dalam setahun terakhir. Pasar berkembang pesat, usaha rumah makan, restoran, komoditas pertanian serta bidang usaha lain lebih bertumbuh. Tahun 2016 lalu, PAD Desa Hanura sebesar Rp 166 juta. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 244 juta. PAD itu terutama berasal dari pasar yang telah ditata dan dipercantik setiap waktu.

“Kalau pasar kita bikin dengan baik, orang jadi lebih tertarik ke pasar koq. Asal saja dibuat pasarnya jadi tempat wisata dan rekreasi yang menarik. Di pasar ada Free Wifi, kan menarik,” katanya.

Chodri mengaku menata dan membangun Desa Hanura seperti sekarang karena berdiskusi dengan banyak orang. Pemanfaatan IT misalnya, ia terinspirasi oleh diskusi dengan teman istrinya yang merupakan sarjana IT dari salah satu kampus di Yogyakarta.

Demikian juga soal radio komunitas pedagang dan radio komunitas petani. Menurutnya, makin banyak bergaul dan berdiskusi dengan orang lain, inspirasi untuk melakukan sesuatu makin banyak. Hal terpenting adalah tidak membatasi diri karena berbagai macam perbedaan yang ada saat ini. Niat baik selalu mendatangkan dukungan dan bantuan yang baik pula. (Inno Jemabut)