Sekjen PB Forki: Empat Atlet Mundur Karena Kemauan Sendiri

Sekjen PB Forki: Empat Atlet Mundur Karena Kemauan Sendiri

KETERANGAN - Sekjen PB Forki, Lumban Sianipar memberikan keterangan terkait keluarnya empat karateka dari pelatnas Asian Games 2018. (SHNet/Nonnie Rering)

SHNet, JAKARTA – Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) merasa prihatin dengan mundurnya empat atlet karate dari Pelatnas Asian Games 2018. Kondisi itu pun ikut mempengaruhi persiapaan tim pelatnas karate menjadi kurang kondusif jelang multi event terbesar di Asia itu.

 Sekretaris Jendral PB Forki, Lumban Sianipar mengatakan keputusan empat atlet yaitu Sisilia Ora (kata perorangan), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra) karena tak mengikuti peraturan yang sudah di keluarkan PB Forki.

Apalagi, semuanya sempat menghilang. Pihak pengurus sudah berusaha mencari mereka untuk meminta penjelasan menyangkut alasan mereka kabur dari pelatnas.

 Akhirnya, saat dipertemukan keempat atlet itu pun memutuskan keluar dari pelatnas dengan alasan yang tak jelas. Tak hanya empat atlet, empat pelatih juga ikut mundur dari pelatnas karena kemauan sendiri tanpa alasan, termasuk Frans Nurseto.
Setelah melayangkan surat pengunduran diri, tiga jam kemudian ia justru kembali menghubungi Sekjen Forki untuk kembali dimasukan sebagai pelatih seperti semula. Tapi, permohonan tersebut sudah terlambat karena sudah dilaporkan ke Ketua Umum PB Forki, Gatot Nurmantyo.

“Terkait mundurnya 4 atlet dan 4 pelatih semuanya didasarkan pada keinginan sendiri (pilihan sendiri) dalam arti tidak ada tekanan dan tidak ada masalah di dalam PB Forki. Untuk atlet, dia beralasan tidak mau dilatih oleh pelatih yang di tunjuk oleh PB Forki dan merasa nyaman jika dilatih oleh pelatih pelatnas yang lama,” cerita Lumban di kantor PB Forki, Jakarta, Senin (12/2).

 Lumban juga mengatakan keempat atlet itu mengaku keberatan jika diseleksi kembali selama di pelatnas yang akan dilakukan dua kali. Bahkan, mereka hanya ingin pelatnas di lakukan di Belleza (tempat pelatnas yang sebelumnya).

Padahal, PB Forki telah menyusun satu program pelatnas, mulai terhitung 4 Februari lalu, seperti latihan fisik, pemeriksaan psikologis, pemeriksaan kesehatan, dan latihan teknis.

Mengingat penting dan strategisnya Asian Games untuk Indonesia, PB Forki melaksanakan program pelatnas meskipun dukungan dari pemerintah belum turun.

 Tapi, kondisi pelatnas PB Forki pada umumnya berjalan lancar, dan atlet punya semangat tinggi karena mereka merasa baru kali ini mendapatkan kompetisi secara sehat.
Karena itu, Lumban berserta pengurus lain merasa yakin tim ini akan menyumbangkan hasil terbaik untuk Indonesia.
Saat ini, tim pelatnas Karate ada 28 atlet yang diproyeksikan untuk tampil di Asian Games 2018.
Nantinya, atlet pelatnas akan dilakukan seleksi sebanyak dua kali untuk membentu tim inti Karate Asian Games 2018 pada akhir Maret (150 %), dan Mei (100%). Begitu juga dengan pelatih yang diisi delapan orang. Pada akhir Februari, akan menjadi empat pelatih dan Mei akan di ambil 3 orang pelatih untuk tim inti pasukan karate di event tersebut.

Sebelumnya, empat karateka tersebut sudah mengadu ke Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Meski sudah mundur dan menyatakan tak mau komit lagi untuk pelatnas, kepada Menpora, mereka berharap dibantu untuk bisa secepatnya kembali ke pelatnas Karate.   (Nonnie Rering)