Peremajaan ABRI Terus Dilakukan

Menhankam/Pangab Jenderal Panggabean

Peremajaan ABRI Terus Dilakukan

Anggaran Pembangunan Hankam 1974/1975 Rp. Miliar

Jakarta, 14 Februari 1974 – Menhankam/Pangab Jenderal M. Panggabean menegaskan : ada bukti kuat pada pemerintah yang menunjukkan bahwa memang terdapat ancaman yang bertujuan menumbangkan Presiden dan pemerintah dengan cara anarkis serta inkonstitusional. Mereka itu menggunakan tema dengan menonjolkan kepincangan dalam masyarakat.

Penegasan Jenderal Panggabean itu diberikan dalam rangka penjelasan atas Repelita II kepada pimpinan media massa di ibukota yang selanjutnya memperingatkan kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap adanya usaha memecah belah pimpinan ABRI. Dalam hubungan ini ditegaskan kembali bahwa ABRI adalah pembela utama Pancasila dan bersama-sama dengan partai politik serta kekuatan sosial lainnya dalam masyarakat akan selalu siap menghancurkan setiap usaha yang mengancam tegaknya Pancasila kita.

Diakui oleh Menhankam/Pangab bahwa memang masih terdapat kekurangan dalam pembangunan nasional kita tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak bekerja keras mengatasi kekurangan tadi.

Menghadapi Repelita II
Jenderal TNI M. Panggabean mengemukakan bahwa politk dan strategi yang akan dilaksanakan oleh Hankam dalam Pelita II yang akan berlangsung dari tahun 1974 – 1978 adalah kelanjutan dari politik dan strategi yang telah dilakukan dalam Pelita I.

Seluruh Pelita dimana juga termasuk di dalamnya Hankam berpangkal tolak kepada GBHN yang telah diputuskan oleh seluruh rakyat melalui perwakilan (MPR) secara musyawarah, hikmah bijaksana untuk mufakat dan yag dilaksanakan oleh Mandataris MPR yakni Presiden.

Ditegaskan, sasaran dari pada Pelita itu terutama adalah membentengi rakyat dari bahaya laten PKI dimana pembangunan dalam segala bidang dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.
Dalam Pelita I kita akui masih adanya kepincangan dalam melaksanakan pembangunan dan di dalam masyarakat kita dan dalam tubuh pemerintah serta tidak adanya keseimbangan dalam sektor pembangunan, hal mana juga terdapat di dalam tubuh ABRI sendiri.

Namun dalam Pelita II nanti kepincangan ini harus dihilangkan dan diadakan keseimbangan.

Peremajaan ABRI terus dilakukan
Demi pembinaan dan pemeliharaan keampuhan Angkatan Bersenjata peremajaan personil terus dilakukan seperti direncanakan.

Jenderal Panggabean memperkirakan bahwa jika peremajaan dilanjutkan menurut ketentuan yang ada maka sekitar tahun 1960/1982 angkatan 45 di dalam tubuh ABRI sudah tersalur dan diganti dengan personil yang lebih muda.

Anggaran Hankam dalam Pelita II
Pembiayaan dari Anggaran Pembangunan Negara untuk pembangunan Pertahanan dan Keamanan dalam tahun 1974/1975 berjumlah Rp. 18 miliar, sedang selama jangka waktu lima tahun dalam Repelita II diperkirakan berjumlah Rp. 126 miliar.

Kepala Staf Departemen Hankam Letjen A. Hasnan Habib yang mendampingi Menhankam Jenderal M. Panggabean menunjukkan bahwa jumlah Rp 18 miliar untuk tahun 1974/1975 itu sangat terbatas.
Sebagai perbandingan dikemukakan bahwa dengan jumlah sekian itu hanya dapat dibeli setengah kapal fregat dari ukuran 2000 – 3000 ton atau tiga buah kapal korvet kecil dari ukuran 400 – 700 ton.

Letjen Hasnan Habib lebih jauh menyatakan bahwa dalam waktu 30 sampai 50 tahun yang akan datang Indonesia belum bakal mampu mengembangkan suatu “deterent power” yang efektif, dalam arti dapat diciptakan keampuhan sistem pertahanan dan keamanan yang memadai guna menghadapi setiap ancaman peperangan nuklir.

Untuk itu akan diperlukan suatu anggaran biaya sedikit 10 miliar dollar pertahun, yaitu kalau hendak menjadikan diri suatu kekuatan nuklir (nuclear power), dan hal ini kiranya tak akan pernah terjadi dengan Indonesia, demikian Letjen Hasnan Habib. (SH)