Mengapa Perlu ke Malenge?

Mengapa Perlu ke Malenge?

Jembatan Papan di Pulau Papan (Ist)

SHNet – Rehatlah sejenak. Keluarlah dari rutinistas harian yang membuat hati dan pikiran terasa penat. Lepaskan lelah agar badan kembali lentur. Nikmatilah indahnya alam, mulai dari kehidupan alam bawah laut, seperti terumbu karang, jenis ikan yang berwarna-warni dan paling banyak dicari orang di muka bumi, hingga pemandangan yang membuat mata tak ingin berkedip sedikit pun.

Alami suasana yang tenang, jauh dari ingar bingar keramaian kota yang sumpek, udara bebas polusi, melewati malam dengan memandang bintang yang bertaburan di langit. Nikmati dan dalami sisi lain kehidupan raja laut, nelayan Suku Bajo, di Pulau Malenge, Kecamatan Walea Kepulauan, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah.

Tidak saja rumah mereka yang unik dan membuat terkesima serta terpesona, tetapi juga kemampuan mereka berenang dan menyelam di laut hingga berjam-jam, akan membuat takjub.

Jika Anda adalah orang yang gemar jalan-jalan dan berwisata, Teluk Tomini-Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah menjadi salah satu lokasi tujuan wisata yang perlu dikunjungi. Ada banyak lokasi wisata lain di Indonesia yang menampilkan keunikannya masing-masing. Namun menyusur kehidupan Suku Bajo di Malenge bisa jadi akan menjadi surga kecil di dunia yang bisa ditemukan.

Jika berkunjung ke Bandung, Bali, Lombok, Yogyakarta, Semarang, Puncak-Bogor, apa yang ditemukan sangatlah monoton. Rumah mewah, makanan enak, pusat belanja, kemacetan lalu lintas. Anda tak bebas bising dan mungkin hanya pindah tempat tidur. Capai di jalan, tidak sebanding dengan keindahan yang didapat.

Nah, berlayarlah ke Malenge, pedesaan berupa pulau kecil di Kecamatan Walea Kepulauan. Perjalanan panjang memang harus ditempuh untuk bisa sampai di Malenge. Namun tidak akan membuat Anda menggerutu. Perairan Tomini merupakan laut yang tenang dan menawan. Dari Kota Ampana, Ibukota Kabupaten Tojo Una Una, bisa menumpang kapal motor kayu yang berangkat dari demaga kapal kayu tiap hari pada pagi hari. Perjalanan hanya sekitar lima jam. Bisa juga menumpang kapal feri, milik PT ASDP dari dermaga kapal feri yang terletak sekitar 30 menit dari Kota Ampana naik angkutan kota.

Tarif travel Palu-Ampana Rp 150.000 per orang saat ini. Jika bepergian beramai-ramai, bisa lebih mudah karena satu mobil travel hanya memuat maksimal 10 orang. Jika menyewa mobil, tarifnya cukup mahal, tergantung perundingan dengan pemilik mobil sewaaan. Pilihan lain, jika tidak ingin capai jalan darat Poso-Ampana adalah berangkat dari Gorontalo. Dari sana bisa menumpang kapal ferry, namun tidak setiap hari. Harus menyesuaikan diri dengan jadwal. Risikonya, akan lebih lama berada di laut. Kapal feri itulah yang juga singgah di Ampana sebelum bergerak menuju ke Malenge.

Bisa juga dengan terbang langsung menuju Ampana, lalu disambung naik kapal laut atau ketingting.

Perjalanan Ampana-Malenge akan membuat mata terus membelalak. Kapal kayu atau feri kadang menyusur teluk sempit. Jika kapal feri melintas, semua perahu dan sampan miliki nelayan harus menyingkir di antara hutan bakau yang hijau. Kapal itu harus terus membunyikan klaksonnya. Tiap beberapa meter akan menjumpai ikan-ikan kecil yang bisa beterbangan hingga beberapa ratus meter.

Katinting menjadi alat transportasi utama di Teluk Tomini. Katinting ini yang selalu mengombang-ambing dengan menyenangkan bagi siapa pun yang ingin menikmati kehidupan di areal sekitar Malenge.

Resort di Kadidiri (Ist)

Di sekitar Malenge ada banyak resort. Dari resort tersebut, dengan menggunakan ketingting menyusuri berbagai sudut pulau-pulau kecil tempat Suku Bajo melego jangkar perahunya dan menancapkan tiang kayu rumahnya.

Di Kadidiri misalnya, ada sejumlah resort. Kadidiri Paradise, Black Marlin, dan Pondok Lestari. Ketiganya sudah ada sejak 1990-an dan ketiganya juga milik orang Indonesia, meski Black Marlin dikelola orang Inggris. Harganya sangat terjangkau, masih di bawah Rp 500.000/malam per kamar.

Namun, jangan berpikir resort ini seperti resort-resort di tempat-tempat wisata yang lebih populer. Resort di sini tidak luas, tidak juga memiliki kolam renang pribadi apalagi teras. Namun tidaklah penting bagi pencari kesunyian. Tempat ini menjadi sekolah untuk menghargai kesederhanaan. Anda bisa memesan paket-paket snorkeling atau diving di masing-masing resort.

Soal makanan, setiap hari yang dijamu adalah menu ikan. Ikannya segar dan kadang baru dimatikan saat hendak diolah. Ikan-ikan itu disuplai oleh sejumlah nelayan, dan sebagian hasil pancingan karyawan resort.

Jenis ikan juga bisa dipilih, misalnya ikan kerapu, ikan bobara, ikan sunu sirip biru, atau ikan sunu sirip merah yang mahal itu. Hanya sesekali disajikan dengan menu daging atau ayam. Namun tidak terasa spesial karena tentu hidup di dekat laut, mau tidak mau, ikanlah yang menjadi favorit. Apalagi disajikan dengan sambal dabu-dabu yang pedas atau sambal mangga muda yang asam-asam pedas namun segar.

Kabanyakan wisatawan ke Malenge, seperti umumnya ke Perairan Togean untuk beristirahat, snorkeling dan diving. Selain juga mencari inspirasi untuk menulis, melakukan foto prewedding, melakukan penelitian kehidupan bawah laut, membuat film dokumenter, terutama menyangkut kehidupan suku Bajo.

Nah, jika Anda tertarik ke Pulau Malenge, jangan lupa membawa uang tunai. Di sana belum ada fasilitas perbankan, tidak ATM. Di samping tentunya, obat nyamuk, pelembab kulit dan peralatan mandi, serta tissu untuk mengantisipasi tidak ada air. Jangan lupa memberi tahu pemilik katinting selama berapa hari menggunakan jasa mereka. Sangat berbahaya jika setiap dibutuhkan baru mencari katinting di dermaga. Setiap hari katinting selalu ada yang memesan. Jika mendadak, risiko tidak memiliki alat transportasi cukup tinggi. Jadi, rencanakanlah liburan ke Perairan Togean secara detail. (Inno Jemabut)