Topeng Indian dari Desa Jiwut Tembus Mancanegara

Topeng Indian dari Desa Jiwut Tembus Mancanegara

Warga Desa Jiwut, Kabupaten Blitar, Jawa Timur menyambut wisatawan dengan menggunakan baju dan topeng Indian. (Dok. Sendy Aditya Saputra)

SHNet, Blitar- Kabupaten Blitar, Jawa Timur menyimpan banyak daya tarik pariwisata. Bukan hanya wisata alam saja, tetapi juga karya-karya kreatif dari masyarakatnya, khususnya masyarakat desa.

Hal tersebut bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke desa-desa tersebut. Salah satunya adalah topeng Indian , di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Adalah Miftakhur Rohman, yang mempelopori kerajinan topeng Indian di desanya. Awalnya, dia bekerja di salah satu kafe di Bali. Sayangnya, pada 1999 saat Indonesia dilanda krisis, kafe tempat Miftakhur bekerja juga gulung tikar.

Miftakhur Rochman, pelopor kerajinan topeng Indian di Desa Jiwut, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. (SHNet/stevani elisabeth)

Dia mencoba berkreasi dengan bulu ayam dari kemoceng. “Acuan saya waktu itu tidak ada. Saya kreasi sendiri,” ujarnya.

Rochman mengaku hasil karyanya ini lebih dihargai orang luar negeri ketimbang orang Indonesia. Mayoritas pemesannya adalah warga negara Amerika dan Eropa yang sering berinteraksi dengannya melalui email dan jejaring sosial.

Satu set pakaian ala Indian dijual rata-rata Rp 20 juta. Bahannya terbuat dari kulit sapi asli. Bulunya pun dari bulu ayam kampung. Satu bulan, Rochman membutuhkan satu juta ekor ayam kampung untuk diambil bulunya.

“Jangan lihat mahalnya, tapi lihat seninya,” kata Rochman. Topeng ini dikerjakan secara manual oleh tangan manusia. Usaha ini banyak menyerap tenaga kerja dari warga desa setempat. Saat ini sudah ada 50 orang karyawannya. Dalam sebulan, rata-rata bisa memproduksi 3000 topeng Indian.

Topeng Indian dari Desa Jiwut banyak diapresiasi oleh orang-orang asing. (SHNet/stevani elisabeth)

Meski mengaku tidak memiliki inspirasi, Rochman mengatakan hasil karyanya banyak mengispirasi suku asli Indian di Amerika Serikat. “Justru orang Indian terinspirasi karya saya. Kenapa? Karena di sana kalau mau membuat topeng seperti ini, tidak ada bulu ayam dan bulu angsa. Adanya bulu kalkun. Karya saya dipandang lebih kreatif,” tuturnya bangga.

Dia menambahkan, untuk di Indonesia, topeng dan kostum Indian ini banyak disewa untuk acara 17 Agustus dan karnaval-karnaval.

Tak cuma bisa beli kostum otentik itu, wisatawan yang datang ke industri rumahan dapat berfoto ala Indian memakai warbonnet. Ke depan, dia akan mengembangkan kampung Indian. Lokasinya, tak jauh dari desanya. Selain di Blitar, galeri Rochman dapat ditemui di Bali, Kediri, dan Batu. (Stevani Elisabeth)