Tidak Benar, Stanting Dipengaruhi Faktor Genetik

Tidak Benar, Stanting Dipengaruhi Faktor Genetik

Stanting tidak dipengaruhi oleh faktor genetika. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Anggapan bahwa stanting adalah faktor genetik atau keturunan, tidaklah benar. Pernyataan ini diutarakan oleh Ahli Gizi Atmarita dalam FGD yang diselenggarakan oleh IMA World Health, di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, hanya sekitar 5-10 persen faktor genetika berperan dalam pembentukan fisik anak

“Lihat saja orang Jepang. Dulu mereka kecil dan pendek. Tetapi dengan intervensi gizi yang baik, sekarang mereka tinggi,” tukasnya.

Menurutnya, masa emas dan kritis stanting dimulai dari masa konsepsi. Jika seorang perempuan dalam kondisi optimal saat konsepsi, tentu anak yang dilahirkan akan sehat.

“Cikal bakal stanting bisa terlihat saat lahir hingga 18 tahun, sehingga pada saat konsepsi tidak boleh ada masalah. Bila ada masalah, dampaknya panjang,” ujar Ketua Bidang Ilmiah DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).

Dia mengatakan, masalah stanting di Indonesia masih cukup berat. Pasalnya, masih ada 7 wilayah di Indonesia yang memiliki persoalan gizi kurang dari 20 persen. Ketujuh daerah tersebut adalah Kabupaten Wakatobi, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Salatiga, Klungkung, Bitung dan Tana Todung.

Secara terpisah, Galopong Sianturi SKM MPH, Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi, Kementrian Kesehatan mengatakan, problem mendasar terkait gizi yang bisa mempengaruhi angka stanting, sebagian besar justru perilaku masyarakat. Masyarakat perlu disosialisasikan tentang pemenuhan gizi. (Stevani Elisabeth)