Polemik Buka-Bukaan Aib La Nyalla-Prabowo Menguak Aksi 212

Polemik Buka-Bukaan Aib La Nyalla-Prabowo Menguak Aksi 212

BUSUK - Rencana busuk La Nyalla Mattalitti dan Prabowo Subianto mendesain pemenangan Pilkada serentak dan Pemilu 2019 lewat Gerindra justru kacau balau dan berakhir dengan perseteruan. (Ist/wktr)

SHNet, JAKARTA – Terbukti aksi 212 bertujuan memuluskan jalan Anis Baswedan-Sandiaga Uno menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Hal ini dikatakan Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98), Willy Prakarsa kepada media, beberapa waktu lalu.

Itu terungkap langsung dari perseteruan pengusaha andal Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. La Nyalla tentu tak main-main dan sudah punya sejumlah kartu as sehingga berani membuka kedok permainan kotor Prabowo.

“Allah SWT akhirnya membuka kedok mereka sendiri. Lihat mereka jadi berantem sendiri, saling lapor, saling bongkar aib, kalau sudah begini ya kita tertawa saja,” ujar Willy.

Menurut Willy, gerakan yang dibangun dengan memakai aksi 212 didukung wacana koalisi permanen Gerindra, PAN dan PKS tumbang dalam perjalanan.

“Akhirnya rencana busuk mereka mendesain pemenangan Pilkada serentak dan Pemilu 2019 justru kacau balau. Sejak awal sebenarnya kami sudah banyak mengingatkan agar berpolitik secara jantan, berhentilah memproduksi isu agama sebagai alat propaganda kepada masyarakat. Tapi, kebablasan, akhirnya jadi dagelan,” papar Willy.

Willy menilai, isu agama yang dijadikan komoditas politik malah antiklimaks dan blunder buat mereka sendiri. La Nyalla yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur mengaku dimintai uang senilai Rp. 40 miliar oleh Prabowo.

La Nyalla mengatakan dalam temu media pekan lalu di Senayan kalau uang itu diduga sebagai mahar politik berkaitan dengan pencalonan dirinya sebagai Gubernur Jawa Timur dalam Pilkada Serentak Juni 2018.

“Saya dimintai uang Rp 40 miliar. Uang itu sudah harus diserahkan sebelum 20 Desember lalu agar bisa direkomendasikan,” ujar La Nyalla.

Menurut mantan Ketua PSSI ini, permintaan itu disampaikan  Prabowo pada 9 Desember, sekitar pukul 15.00 di Hambalang, Sentul, Jawa Barat. Prabowo mengundang La Nyalla datang ke rumahnya di kawasan Hambalang. Ketika ditemui, Prabowo didampingi dua ajudannya, Prasetyo dan Sugiarto.

La Nyalla mengatakan kalau ia sebenarnya  sudah menyiapkan dana senilai 300 miliar. Tapi, kata La Nyalla, ia keukeh memberikan uang itu setelah namanya resmi didaftarkan ke KPU Jawa Timur. Tapi, Prabowo menolaknya.

“Prabowo marah ibarat orang kesurupan. Ia seperti bukan Prabowo Subianto,” kata La Nyalla. Sayang, ia tak punya bukti apapun untuk menunjukkan permintaan Prabowo itu, bahkan pesan elektronik dan rekaman telepon pun tak ada. “Tapi saya siap jika ingin disumpah Pocong,” lanjut La Nyalla.

Panggung buka-bukaan aib pun dimulai. Dan, menurut Willy, masyarakan sudah makin dekat dengan kesadarannya sehingga isu agama itu justru menjadi bumerang. Masyarakat justru tak percaya dan ketika itu juga partai sudah kehilangan kepercayaan.   (Nonnie Rering)