Pintu Sudah Tertutup Bagi Gerombolan RMS

Pintu Sudah Tertutup Bagi Gerombolan RMS

Dubes RI Di Belanda, Alamsyah

Jakarta, 8 Januari 1974 – Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda Alamsyah Ratu Perwiranegara menyatakan bahwa demonstrasi gerombolan RMS 27 Desember yang lalu bukanlah demonstrasi gelap dan tidak dapat disamakan dengan “affair Wassenaar” tahun 1970.

Hal tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa empat minggu sebelumnya pihak Kedutaan Besar RI telah memberikan laporan berupa info kepada Kementerian Luar Negeri Belanda dan pihak Kepolisian tetapi ternyata bahwa demonstrasi tersebut tetap berjalan dengan ijin pemerintah Belanda.

Tentang usaha KBRI Dubes Alamsyah menyatakan bahwa ia selama dua tahun telah ikut berusaha untuk menyelesaikan persoalan para Ex. KNIL, terutama mereka yang tidak mau masuk TNI pada tahun 1945-1950. Kepada mereka oleh pihak pemerintah Indonesia telah dibukakan pintu sebesar-besarnya dan bahkan pada 17 Agustus 1973 telah dinyatakan sebagai “vergeven en vergeten” (dimaafkan/diampuni dan dilupakan), tetapi ternyata mereka masih mengadakan demonstrasi.

Tak akan ajak “beruang ketawa”
Mulai sekarang, demikian pernyataan dubes Alamsyah selanjutnya tidak akan mengajak lagi beruang ketawa, sebab bagaimanapun usaha yang dijalankan mereka tak akan mengerti dan menghargai usaha kita.

Sejak sekarang tak akan ada lagi pembicaraan yang menyangkut soal orang Maluku/Ambon di Nederland, sebab “met of zonder” mereka yang justru hanya berjumlah 30.000 orang itu. Republik Indonesia dengan 130 juta akan jalan terus.

Demonstrasi yang dilancarkan oleh apa yang menamakan dirinya RMS-Manusama menurut dubes Alamsyah telah merusak dirinya sendiri serta kepercayaan rakyat Indonesia dan pintu telah ditutup bagi gerombolan RMS kecuali kalau mereka ingin menyerbu Indonesia. Mulai sekarang semua pembicaraan yang menyangkut masalah Maluku/Ambon di Nederland tak akan kami bicarakan dan hiraukan lagi.

Sebagaimana diketahui demonstrasi yang dilancarkan oleh apa yang dinamakan dirinya RMS-Manusama tanggal 27 Desember 1973 selain melemparkan bom “molotov cocktail” juga telah menginjak-nginjak dan merobek tiga bendera Merah-Putih. Demonstrasi tersebut dilancarkan pada Keduataan Besar Republik Indonesia di Den Haag. (SH/PAB)