Petani di Rote Mengeluh Sulit Memperoleh Pupuk

Petani di Rote Mengeluh Sulit Memperoleh Pupuk

Ist

SHNet, KUPANG – Sebagian besar petani di Desa Suebela, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluh karena

kesulitan memperoleh pupuk baik bersubsidi maupun non subsidi. Para petani mengenang kembali bahwa sebelum adanya kebijakan pemerintah tentang pupuk bersubsidi untuk petani, pupuk bukan barang yang langka karena mudah didapat sebab bisa dibeli di toko-toko atau tempat usaha lainnya.

Joni Anin, warga Desa Suebela kepada SHNet mengatakan unuk memperoleh pupuk, petani harus mengusulkan melalui Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang dibentuk oleh kelompok tani. Masalahnya adalah, tidak semua petani (sawah) masuk dalam kelompok karena jumlah anggota kelompok tani juga terbatas.

“Kami kelompok tani di Dusun Saendale sudah usul sejak 2016, tapi sampai dengan 2017 belum realisasi karena sampai sekarang tidak ada pupuk. Petani di Rote kesulitan pupuk karena pupuk langka,” kata Joni, Kamis (4/1).

Dia menyampaikan sejak 2016-2017 hasil panen petani di wilayah itu menurun karena kelangkaan pupuk. Biasanya petani mengusulkan melalui RDKK namun pupuk tidak direalisasi sesuai waktu kebutuhan petani dan masa pertumbuhan tanaman padi, tetapi bisa dalam jangka waktu satu tahun. Padahal, sebelum memperoleh pupuk, petani lebih dulu menyetor uang sesuai harga pupuk yakni Rp 110.000 per sak. Tidak hanya itu, petani terkadang memperoleh pupuk setelah masa panen.

“Kami usul untuk mendapat pupuk, bisa sampai satu tahun pun belum dapat. Pupuk biasanya tiba setelah petani habis panen dan pasti hasilnya berkurang karena padi tidak dipupuk,” katanya.

Joni berharap hal ini menjadi perhatian pemerintah agar petani bisa memperoleh pupuk pada musim tanam tahap pertama tahun 2018. Sebab, dua tahun berturut-turut hasil panen petani di wilayah itu sangat menurun karena masalah pupuk. (Dis Amalo)