“Peristiwa 15 Dan 16 Januari” Bukan Tujuan Mahasiswa Dan Pelajar

“Peristiwa 15 Dan 16 Januari” Bukan Tujuan Mahasiswa Dan Pelajar

Jakarta, 19 Januari 1974 – “Peristiwa 15 Dan 16 Januari” adalah satu hasil dari proses yang panjang yang tumbuh di masyarakat disebabkan oleh penderitaan rakyat yang banyak dan ini adalah tanggung jawab kita bersama, rakyat banyak, mahasiswa, pelajar terutama penguasa.

Demikian dinyatakan oleh 20 orang mahasiswa dan pelajar dari tokoh kampus dan non kampus Jum’at sore dalam “jumpa pers” di gedung STO Senayan.

Remy Leimena yang mewakili tokoh kampus ini selanjutnya membacakan “Pernyataan 18 Januari 1974” yang menyatakan bahwa demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang ada selama ini bertujuan untuk memberikan koreksi kepada kepincangan yang ada di tengah-tengah kehidupan rakyat, bangsa dan negara.

Tidak cuci tangan
Walaupun sama sekali tidak ada maksud dan rencana mahasiswa dan pelajar untuk mengadakan aksi pengrusakan dan pembakaran, namun mahasiswa dan pelajar tidak akan mencuci tangan atas aksinya selama ini.

Selanjutnya “Pernyataan 18 Januari” itu mengemukakan, adalah satu kekeliruan besar kalau ada tuduhan yang menyatakan bahwa peristiwa 15 dan 16 Januari adalah tujuan mahasiswa dan pelajar, dan mahasiswa dan pelajar harus bertanggung jawab penuh.

Peristiwa ini adalah tanggung jawab kita bersama, demikian dinyatakan. Akibat yang disebabkan oleh peristiwa 15 dan 16 Januari harus ditanggulangi bersama dan bukan dengan usaha mencari kambing hitam.

Kami serukan kepada pemerintah Indonesia untuk dalam waktu yang dekat menarik pelajaran yang sebenarnya atas peristiwa tersebut dan bukan dengan tindakan yang akan mematikan aspirasi dan krestivitas mahasiswa dan pelajar.

Demikian bunyi dari “Pernyataan 18 Januari 1974” yang ditandatangani oleh tokoh kampus dan non kampus masing-masing Leimena (mahasiswa UKI), Pataniari (mahasiswa Trisakti) Polikamus da Lopez (mahasiswa Atmajaya), John Pangemanan (mahasiswa STO), Asmara Nababan (Eksponen Gerakan non kampus), A. Fauzi (mahasiswa Universitas Muhammadiyah), Uniulfana (mahasiswa Akademi Gizi), Karsafman (mahasiswa IPN).

Ketemu Wapangkopkamtib
Remy Leimena menjelaskan bahwa Kamis sore mereka telah bertemu dengan Wapangkopkamtib Laksamana Sudomo.
“Kita hanya omong-omong saja dengan Wapangkopkamtib”, kata Pataniari menjawab pertanyaan pers tentang apa isi pembicaraan mereka dengan Pak Sudomo.

Apa yang ada di dalam “Pernyataan 18 Januari” itu telah kita kemukakan kepada Wapangkopkamtib, kata Remy Leimena.
Adalah salah tanggapan yang mengatakan bahwa setelah dialog terjadi antara Presiden dengan Dewan mahasiswa persoalan yang diajukan oleh mahasiswa sudah selesai, kata John Pangemanan.
Tokoh Universitas Muhammadiyah Fauzi menyatakan supaya pemerintah mencamkan “Tritura 1974” yaitu : Turunkan Harga, Bubarkan Aspri dan Berantas Korupsi.

Pihak pemerintah supaya juga melaksanakan apa yang tertera dalam pasal 33 UUD 45 dalam memakmurkan rakyat secara merata. Tetapi tidak membiarkan perbedaan yang menyolok antara si kaya dan si miskin, demikian Fauzi.

Moral Force
Diingatkan oleh Remy Leimena bahwa kejadian yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah 100% tanggung jawab mahasiswa pelajar tetapi pemerintah juga harus bertanggung jawab. Saya yakin ABRI dengan aparat intelnya yang lengkap mengetahui semua suasana termasuk maksud dari mahasiswa dan pelajar. Adalah mengherankan bahwa jam 18:00 tanggal 14 Januari pihak ABRI telah memberitahukan kepada kami bahwa tanggal 15 Januari itu akan ada jam malam. “Kami tidak mengerti semua ini”, tambahnya.

Yang pasti mahasiswa dan pelajar tidak mempunyai sikap yang konfrontatif dengan pemerintah, apalagi melakukan makar, kata Pataniari.

Gerakan mahasiswa pelajar adalah “moral force” untuk memperbaiki keadaan, bukan gerakan politik yang menentang pemerintah, kata Asmara Nababan.

Akhirnya dinyatakan oleh Uniulfana bahwa sikap dari mahasiswa dan pelajar adalah untuk melakukan sosial kontrol dan harapan kita supaya lembaga DPR lebih berfungsi. (SH)