Patung “Imperialis Ekonomi” Dan “Anjing Tokyo” Dibakar

Apel Siaga 12 Dewan Mahasiswa Jakarta

Patung “Imperialis Ekonomi” Dan “Anjing Tokyo” Dibakar

Jakarta, 12 Januari 1974 – “Apel Siaga” mahasiswa dan pelajar Ibukota yang disemarakkan dengan lagu hit 1974, pembakaran patung “Imperialis Ekonomi” dan “Anjing Tokyo”, pidato berapi-api dan deklarasi berlangusung Sabtu pagi di kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) jalan Diponegoro, Jakarta.

Deklarasi
Pada apel tersebut telah dibacakan deklarasi mahasiswa yang menuntut agar pemerintahan hendaknya dijalankan dengan kepemimpinan yang lebih bersifat terbuka, lebih memperbesar distribusi kekuasaan baik secara horizontal maupun vertikal yang menjamin terhindarnya sentralisasi. Lembaga penyalur pendapat rakyat harus kuat dan berfungsi kata deklarasi tersebut serta untuk menjamin partisipasi rakyat yang maksimal.

Kedaulatan
Hendaknya pemerintah dalam sikap politik luar negerinya lebih mementingkan kepentingan dan kebanggaan nasional serta menjamin kedaulatan Indonesia untuk Indonesia. Strategi pembangunan hendaknya menjamin keseimbangan pertumbuhan bidang ekonomi, politik, sosial dan distribusi hasil pembangunan secara merata serta tumbuhnya “entrepreneur” bangsa.

Fungsi
Untuk menjamin pemerintahan yang kuat dan bersih, kepastian hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Refungsionalisasi lembaga yang konstitusional dan lembaga yang inkonstitusional harus dihapuskan serta hak azasi manusia harus terjamin dalam setiap perwujudan.

Deklarasi selanjutnya menyebutkan bahwa pendidikan adalah faktor utama kelanjutan kebudayaan bangsa, oleh karenanya harus diberikan kesempatan yang merata serta sistem pendidikan harus menunjang dan sesuai dengan pembangunan menjamin terbentuknya manusia Indonesia yang penuh dengan inisiatif, berkepribadian dan bertanggung jawab.

Terlibat
Sambil mengharapkan tindakan dari Kepala Negara, maka mahasiswa Indonesia akan terus mengamati dan terlibat dalam proses kehidupan kenegaraan dan bangsa.
Deklarasi itu ditandatangani oleh 15 Dewan Mahasiswa universitas dan perguruan tinggi yang ada di Jakarta.

13 Dewan Mahasiswa dari pelbagai universitas dan perguruan tinggi dan pelajar di Jakarta antara lain Dema UI, Trisakti, STO, STTN, Universitas Muhammadiyah dll, telah memberikan pidatonya yang pada umumnya menyatakan akan terus menerus mengadakan demonstrasi dan pelbagai aksi sebelum tuntutan mereka dipenuhi.

Tanaka
Terhadap kedatanfgan PM Jepang Tanaka di Indonesia mereka menyatakan bahwa akan menyambut dengan demonstrasi tetapi dengan tertib dan teratur.
Dalam kesempatan tersebut Ketua DM-UI Hariman Siregar memintakan agar diadakan pemboikotan film Jepang, pemboikotan berita tentang Jepang, memasang bendera setengah tiang menyambut Tanaka dan mengadakan aksi terhadap Tanaka.

Sementara apel siaga ini berlangsung para petugas keamanan satuan bantuan anti huru-hara, Tekhab, polisi, ABRI memenuhi jalan di depan kampus, sedangkan sebagian pula berada diantara mahasiswa pelajar.

Lagu top hit
Lagu perjuangan dinyanyikan pada apel tersebut diselingi dengan lagu “top hit awal tahun 74” yang antara lain berbunyi “bukan salahku, aku menuntut lagi. Cetusan hati sudah berkali-kali, kenapa kau digantung, engkau dapat komisi dari sobatmu Jepang”.

“Mari, hei, berterus terang, jangan lewat pintu belakang. Jangan, hei seenaknya jidat, jangan main sulap-sulapan”.
“Ingin marah silahkan, ingin larang silahkan, asal jangan main hakim sendiri. Mari, hei berterus terang biar rakyat hidup tentram”.

Beberapa saat sebelum upacara apel siaga ini dimulai, seorang perwira polisi dan angkatan darat, memasuki kampus. Ketika ditanya oleh para mahasiswa maksudnya memasuki kampus dijawab, untuk mencari Rektor UKI tidak berada di tempat.

Sejumlah poster telah dipampangkan di tembok UKI dan beberapa poster yang dibawa oleh UI berbunyi sebagai berikut : “Honorarium memuaskan sebagai calo negara”, “Langit makin mendung, rakyat berkabung, Minggu ini penjajah ekonomi datang berkunjung”, “Aneh negara kaya tapi rakyat sengsara”, “Indonesia kaya jadi……..kita perlu modal asing”, “Modal asing penanam kekuasaan dalam bentuk lain”, “Kerajinan rakyat milik Jepang” dan “4 hari lagi pembeli negara akan datang”. Lapor !!!! Indonesia siap dijual. (SH)