Menko Maritim Optimis Mengembangkan Danau Toba dan Borobudur

Menko Maritim Optimis Mengembangkan Danau Toba dan Borobudur

Menko Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan (kedua dari kiri) didampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya di Rakor Dewan Pengarah Badan Otorita Pariwisata Danau Toba dan Badan Otorita Borobudur (BOB), di Kampus IT Del, Tobasa , Rabu (10/1). (Dok. Humas Kemenpar)

SHNet, Tobasa – Menko Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan makin optimis, di Rakor Dewan Pengarah Badan Otorita Pariwisata Danau Toba dan Badan Otorita Borobudur (BOB), di Kampus IT Del, Tobasa , Rabu (10/1).

Didampingi Menpar Arief Yahya, Menkomar memaparkan sukses pertumbuhan jumlah wisman Indonesia dibandingkan dengan regional maupun global. “Kami berkomitmen mengembangkan destinasi wisata priotitas atau 10 Bali Baru. Salah satunya, Danau Toba, dan Badan Otorita Borobudur (BOB),” ungkapnya.

Kawasan Pariwisata Danau Toba maupun BOB masih dalam proses pengembangan. Menko Luhut terus berkoordinasi dengan Kementerian/ Lembaga terkait, seperti meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memaksimalkan Bandara Silangit. Yakni perlu tambahan kapasitas (2016: 153.135 penumpang), perlu pelebaran landas pacu. Kemudian memerintahkan Kementerian PUPR untuk segera memutuskan desain jembatan Tano Pongol.

Badan Otorita Borobudur (BOB), Menko Luhut berharap segera ada perkembangan mengenai Kelengkapan organisasi BOB hingga Kepala Divisi segera ditindaklanjuti oleh Badan Pelaksana BOB. BOB perlu segera melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan di daerah (Borobudur – Yogyakarta, Solo – Sangiran, dan Semarang – Karimun Jawa], serta Percepatan penetapan status Lahan Otoritatif 50 ha sebagai aset BOB (proses tukar-menukar kawasan hutan).

Hal ini sekaligus memperkuat komitmen pemerintah, bahwa pariwisata pantas dijadikan core economy dan leading sector ke depan. Ini juga mempertegas statement Menpar Arief Yahya, bahwa hanya pariwisata yang membuat Indonesia menjadi yang terhebat di dunia.

“Pariwisata adalah cara yang paling cepat, mudah dan murah untuk menghasilkan PDB, Devisa dan Tenaga Kerja!” ungkap Menpar Arief Yahya di berbagai forum sejak tiga tahun silam.

Bahkan Menko Luhut juga memaparkan proyeksi The World Economic Forum dan Pricewater – House Coopers yang memotret ekonomi Indonesia di 2030. Indonesia akan memiliki GDP (Gross Domestic Product) di peringkat 5 dunia, yakni sebesar USD 5,424 Triliun.

Angka ini, menurut Luhut, sudah berada di atas GDP negara maju saat ini, Jerman atau Prancis. Nomor 1 adalah Tiongkok dengan USD 38,008 triliun, sedangkan di posisi kedua adalah Amerika Serikat dengan USD 23,475 triliun.

“Kita sedang bergerak ke sana. Program pemerintah sudah on track, mulai pembangunan infrastruktur di kota maupun pedesaan, penyaluran dana desa, pengembangan pertanian, program Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, sampai Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera,” tuturnya.

“Indonesia merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia, dengan kontribusi 2,5%. Dalam 3 tahun ke depan, diperkirakan ekonomi global sebesar USD 75 Triliun akan tumbuh USD 6.5 Triliun,” lanjutnya.

Dia mengundang investasi di Indonesia. Saat inilah pertumbuhan ekonomi di Indonesia stabil dalam sepuluh terakhir ini. Investment grade oleh perusahaan ternama, dan ekonomi terbesar kelima di dunia pada tahun 2030.

Luhut menyebut investasi ke Indonesia paling banyak kedua setelah Singapura. Investasi di Indonesia mencapai sekitar USD 3 miliar (sampai Agustus 2017), lebih dari 2 kali lipat daripada tahun sebelumnya, antara 2012 – 2017.

“Ada 244 perusahaan menyelesaikan 381 kontrak, Investor akan meningkatkan investasi lebih dari 10%, serta 50% investor asing menilai Indonesia lebih menarik daripada negara-negara Asia yang lain,” papar Menko Luhut.

Menko Luhut pun menjelaskan berbagai progres Indonesia, yakni pertumbuhan kunjungan wisatawan internasionalnya mencapai 4 (empat) kali lipat pertumbuhan kawasan dan global, dengan Indonesia meningkat 25,68%, ASEAN meningkat 7%, dan Dunia meningkat 6%. (Stevani Elisabeth)