Perbaikan Gizi Terkendala Iklan

Perbaikan Gizi Terkendala Iklan

Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI

Kecenderungan masyarakat Indonesia mudah percaya dengan iklan-iklan di televisi, terutama untuk produk makanan dan minuman. Saat ini, kesadaran masyarakat untuk memperhatikan label dan zat-zat yang terkandung di dalam makanan masih kurang. Akibatnya, kebanyakan konsumen tidak tahu sebenarnya apa yang mereka makan.

Hal itu disampaikan Anggota DPR Komisi IX Siti Masrifah dalam peringatan hari gizi PP Muslimat NU Selasa (23/1) di Jakarta. Menurut Masrifah, secara regulasi, pemerintah sudah melindungi masyarakat dengan sejumlah peraturan peredaran makanan dan minuman. Hanya saja, yang masih lemah adalah  penerapan promosi produk oleh produsen kepada konsumen melalui beriklan.

“Susu kental manis, sudah memiliki izin edar dan standar BPOM. Namun, saat mereka beriklan, yang diceritakan  adalah produk ini sebagai susu yang dapat diminum sehari-hari. Padahal kita tahu susu kental manis seharusnya hanya digunakan untuk bahan makanan. Inikan semacam pembohongan melalui iklan,” ujar anggota komisi bidang kesehatan ini.

Senada dengan Siti Masrifah, Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI juga menyinggung adanya penyimpangan  yang dilakukan dalam penjualan susu kental manis. “Susu kental manis ada di seluruh dunia, tapi tidak digunakan sebagai minuman sehari-hari. Apalagi bila diberikan pada 1.000 hari pertama kelahiran, bisa fatal,” ujarnya.

1.000 hari pertama kelahiran, atau hingga anak berusia 3 tahun dijelaskan Dr, Damayanti sebagai masa penting perkembangan otak. Oleh karena itu anak harus mengkonsumsi nutrisi yang dibutuhkan oleh otak, yaitu karbohidrat, lemak dan protein. “Jika anak mengkonsumsi gizi yang salah pada masa ini, bisa berdampak perkembangan kognitif anak berkurang 10%, saat dewasanya nanti dapat memiskinkan,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menghimbau produsen makanan dan minuman dalam beriklan juga memberikan penjelasan tentang bagaimana cara yang benar menggunakan produk. Jangan sampai konsumen salah dalam menggunakan produk sehingga berakibat fatal bagi kesehatan. Ia berharap, selanjutnya tidak ada lagi anak-anak yang menderita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis seperti yang terjadi di Kendari baru-baru ini. (Nila Kurnia)