Ingat Blitar, Ingat Kampung Coklat

Ingat Blitar, Ingat Kampung Coklat

Kampung Coklat, destinasi wisata edukasi di Blitar, Jawa Timur. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Blitar- Berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, tak lengkap rasanya bila tak berkunjung ke Kampung Coklat. Destinasi wisata edukasi ini terletak di Jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar , Jawa Timur.

Kampung Coklat merupakan destinasi wisata yang hits di Blitar yang dijuluki sebagai daerah seribu prasasti. Kholik Mustofa, pemilik Kampung Coklat tak pernah menyangka kalau usahanya ini bakal terkenal seperti sekarang ini.

“Kholik Mustofa adalah sosok pekerja keras. Gagal terpilih sebagai kepala desa, tidak membuatnya patah semangat untuk berkarya,” ujar Bupati Blitar Drs H Rijanto, MM.

Kholik awalnya berusaha ternak ayam petelur. Namun, usahanya ini gagal akibat terjangkit virus flu burung pada 2004. Dia pun beralih menekuni budidaya kakao di kebun keluarga. Harga kakao pada saat itu Rp9.000 per kilogram.

Barulah pada 2014, Kampung Coklat dijadikan wisata edukasi. Dengan cukup membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang, para pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas di area seluas 5 hektar ini.

Pengunjung bisa berkreasi dengan coklat di ruang cooking class. (Dok. Sendy Adithya)

Saat memasuki areal ini, kita dapat menyaksikan hamparan pohon kakao bahkan ada yang sudah berbuah. Di areal tengah, merupakan areal kuliner. Sambil menikmati alunan musik, di bawah pohon kakao, para pengunjung dapat menyantap kuliner tradisional.

“Makanan-makanan yang disajikan secara prasmanan ini bukan dimasak oleh juru masak di warung kami, tetapi dimasak oleh warga desa di sekitar Kampung Coklat. Tiap rumah membuat satu masakan untuk disajikan prasmanan kepada pengunjung. Hasil penjualan hari itu, langsung kami berikan ke mereka,” tutur Direktur Operasional Kampung Coklat Akhsin Al Fata.

Hal ini merupakan bentuk kepedulian Kampung Coklat terhadap masyarakat desa di sekitar destinasi wisata tersebut. “Prinsipnya, jangan ada 40 rumah di dekat kami yang kelaparan,” ujarnya. Saat ini ada 300 karyawan yang merupakan warga sekitar berkarya di Kampung Coklat.

Selain mencicipi kuliner tradisional, pengunjung juga bisa berkreasi dengan coklat di area cooking class. Areal bermain untuk anak juga ada di sini. Tak jauh dari areal bermain anak, ada kolam untuk pijat ikan. Pengunjung dapat merendam kaki di kolam tersebut dan rasakan sensasi dipijat ikan.

Spot foto dan selfie di Kampung Coklat. (SHNet/stevani elisabeth)

Ingin foto-foto dan selfie, jangan khawatir. Di tempat ini juga ada lokasi untuk kamu yang suka selfie. Mau tau sejarahnya Kampung Coklat? Para pengunjung bisa mengetahuinya lewat film yang diputar di studio mini.

Kampung Coklat juga punya ruang-ruang pertemuan, ruang menyusui serta tempat-tempat untuk menikmati olahan dari coklat seperti mie coklat, nasi coklat, keripik coklat, jenang coklat, es krim coklat dan sebagainya.

Tak puas rasanya kalau belum belanja. Nah, di galery coklat, pengunjung bisa berbelanja sepuasnya. Harga coklat yang dijual di galeri ini berkisar Rp 10.000 hingga Rp 101.000. Menurut Akhsin, ada 48 varian coklat di sini. Setiap hari ada 650 kg coklat yang diproduksi.

Bahkan di hari-hari spesial, ada olah coklat yang unik disajikan untuk pengunjung. Misalnya, saat lebaran, ada tumpeng ketupat coklat. Kebayang kan, makin ramai aja yang datang ke sini.

Galery Coklat untuk kamu yang suka berbelanja. (SHNet/stevani elisabeth)

Pada hari biasa, jumlah pengunjung sekitar 1000 orang, sedangkan di akhir pekan dan hari libur bisa mencapai 15.000-19.000 pengunjung. Bahkan pada 1 Januari 2017, jumlah pengunjung bisa menembus angka 31.000 orang.

Ingin menginap di Kampung Coklat juga bisa. Di sini ada guest house yang memiliki 9 kamar. Tarifnya Rp450 rbu hingga Rp1,5 juta per malam. Minat ke sana? Yuk, ingat Blitar, ingat Kampung Coklat. (Stevani Elisabeth)