Film TV Tipuan Tentang Ambon Di Nederland

Film TV Tipuan Tentang Ambon Di Nederland

Jakarta, 20 Januari 1971 – Para pirsawan di Nederland telah tertipu oleh sebuah film yang disiarkan perkumpulan siaran radio dan televisi AVRO mengenai keadaan di Ambon dan persoalan sekitar orang Maluku, demikian Pater Albert Rutgers dalam interviewnya dengan wartawan surat kabar De Telegraaf, Frank de Jong yang tidak asing lagi dikalangan wartawan Indonesia.

Pater Rutgers adalah seorang anggota misi Khatolik, kelahiran Belanda yang sudah warganegara Indonesia dan sejak 1933 bekerja di Indonesia dan dari tahun 1952 ia bekerja di Ambon.
De Jong menulis selanjutnya bahwa menurut Pater Rutgers reportase televisi yang dibuat oleh dua wartawan AVRO, Marcel de Groot dan Piet ter Laag, tidak membayangkan keadaan sebenarnya dalam banyak hal.

Para pirsawan Belanda mendapat kesan bahwa seluruh penduduk kepulauan Maluku menyokong apa yang menamakan diri Republik Maluku Selatan, tetapi penganut itu harus dicari dengan lampu (met een lan taarntje de zoeken) alias sukar ditemukan.

Menurut Pater Rutgers tim TV itu datang dari Nederland dengan ide bahwa semua orang Maluku yang kembali ke Indonesia dari Nederland jatuh dalam kemiskinan dan tidak dapat memperoleh pekerjaan.

Abdi Gereja itu pun mengkritik film tersebut yang disiarkan bulan Desember yang lalu dimana dalam komentarnya dikatakan bahwa dok yang dibeli dari perusahaan kapal Verolme sudah menjadi besi tua oleh karena tidak tidak mempunyai pekerjaan.
Dalam film tersebut tidak diperlihatkan dok itu, keadaan sebenarnya, demikian Pater itu, ialah bahwa beberapa waktu yang lalu memang dok itu tidak bekerja karena kekurangan bahan baku tetapi itu hanya untuk sementara.

Pada umumnya banyak kapal yang direparasi di dok tersebut dan malah demikian besar permintaan akan jasa dok itu sehingga harus diadakan daftar tunggu. Menurut Frank de Jong pendapat itu diperkuat oleh A. Rijke seorang direktur perusahaan Verolme yang mengatakan bahwa dok di Ambon adalah satu-satunya diantara tiga proyek yang dibeli dari Verolme yang bekerja dan bahwa di dok tersebut banyak kapal coasters direparasi.

Dibaptis sekaligus anggota “RMS”
Mengenai orang Maluku yang sudah “naik darah” di Nederland yang beberapa waktu yang lalu menduduki Wisma Duta dan bertempur dengan polisi dan yang pula mengikuti latihan militer untuk “pembebasan Ambon”, dikatakan bahwa yang dapat mengendalikan hanyalah pemimpin Gereja Maluku di Nederland tetapi pemimpin Gereja itu malah mencampuri politik dengan agama, demikian Pater Rutgers. Sebuah contoh adalah bahwa bila Gereja itu menerima anggota baru, dia dibaptiskan dan sekaligus dijadikan warga negara Republik Maluku Selatan.

Menurut Frank de Jong KBRI belum mengajukan keberatan secara resmi terhadap latihan militer yang diberikan oleh dua orang bekas perwira Westerling kepada pemuda Maluku untuk “membebaskan Ambon”.

Namun di belakang layar diadakan tekanan terhadap Kementerian Kehakiman Belanda untuk menyelidiki kemungkinan untuk mengambil tindakan hukum. Undang-undang yang ada hanya memungkinkan tindakan hukum terhadap latihan kemiliteran yang diadakan oleh NSB sebuah organisasi oran Belanda yang pada perang dunia ke-II berkolaborasi dengan Nazi Jerman dan yang kini masih ada.

Menurut Pater Rutgers orang Maluku akan tetap merupakan golongan yang selalu hidup berkelompok, dimana pun mereka berada di dunia. Dikatakan bahwa kebanyakan orang Maluku di Nederland hanya mengenal Ambon ketika kota tersebut masih berpenduduk 20.000 orang. Sekarang kota itu sudah mempunyai penduduk 100.000 orang terdiri dari berbagai macam suku.

Pater Rutgers menyayangkan bahwa pada hari terjadinya peristiwa Wassenaar ia tidak hadir, oleh karena ia tidak akan menyembah kepada mereka tetapi ia akan mengenakan jubah putihnya dan akan mengutuk pemuda yang berada di dalam Wisma Duta.

Bila sudah kembali ke Ambon Pater Rutgers akan menganjurkan orang yang mempunyai keluarga di Nederland untuk bersurat-menyurat secara teratur dengan keluarga itu untuk memberikan penerangan mengenai keadaan sebenarnya di sana. Ia akan menganjurkan orang di Ambon untuk menulis “kembalilah ke Ambon dan buang jauh-jauh ide RMS”.

Datang dan bantulah membangun bila mau menjadi bahagia. Belajarlah untuk melihat Ambon seperti keadaanya sekarang. Pada waktu di Indonesia suku dengan spontan sedang bertumbuh saling mendekati pikiran kamu terhenti pada 20 tahun yang lalu. Pada tahun 1971 tidak diperlukan “RMS” lagi Denjntan (Stuiptrekkingen) pada kelahiran Republik Indonesia telah berlalu, demikian Antara Den Haag. (SH)