Desa Nglanggeran, Desa Wisata Terbaik di ASEAN

Desa Nglanggeran, Desa Wisata Terbaik di ASEAN

Gunung Api Purba di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta. (Ist)

SHNet, Jakarta- Tidak pernah terbayangkan oleh warga Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta bila desa mereka kini menjadi salah satu desa wisata terbaik di ASEAN.

Sebelum pariwisata berkembang di desa ini, warga desa banyak yang memilih mengadu nasib di luar daerah bahkan ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. Ada juga warga yang menebang pohon dan mengambil batu di Gunung Api Purba. Jelas, hal ini merusak lingkungan.

Pariwisata di desa ini sebenarnya sudah dirintis pada 1999. Masyarakat desa saat itu diajak untuk melakukan penghijauan di sekitar Gunung Api Purba. Namun, upaya tersebut terhenti karena sepi pengunjung.

Air terjun Kedung Kandang. (Ist)

Barulah berkembang lagi pada 2007, pasca gempa bumi yang melanda Yogyakarta. Sugeng Handoko yang kala itu menjabat Ketua Karang Taruna Bukit Putra Mandiri berhasil menggerakkan para pemuda dari tiga dusun di Desa Nglanggeran untuk mengembangkan ekowisata.

Ada 4 lokasi wisata yang bisa dinikmati wisatawan saat berada di Desa Nglanggeran yakni Puncak Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Air Terjun Kedung Kandang dan Griya Cokelat Nglanggeran.

Gunung Api Purba Nglanggeran adalah salah satu Geosite di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Keindahan dan keasrian desa di lereng Gunung Api Purba sangat mempesona dan diminati para wisatawan. Di sinilah para wisatawan dapat menyaksikan matahari terbit.

Bila ingin menyaksikan panorama matahari terbenam, kita dapat melihatnya di embung Nglanggeran. Waduk mini yang berfungsi untuk mengairi perkembunan durian montong dan kelengkeng kane ini sangat mempesona di sore hari.

Rumah Jono, salah satu home stay di Desa Wisata Nglanggeran (Dok. Desa Wisata Nglanggeran)

Di musim penghujan, para wisatawan masih bisa menikmati keindahan alam di desa ini yakni Air terjun Kedung Kandang. Air terjun ini unik karena berada di tengah terasering sawah dan berbentuk undak-undak batuan vulkanik.

Ingin mencoba kuliner khas Nglanggeran, wisatawan bisa mengunjungi Griya Cokelat Nglanggeran. Di sini kita bisa menikmati berbagai olahan dari buah kakao. Sehari memang tak cukup untuk berwisata di sini.

Tapi jangan khawatir tak bisa menginap di desa ini. Menurut Marketing Desa Wisata Nglanggeran Aris Budiyono, di sini ada 80 homestay yang dapat menampung 250 wisatawan. Biaya menginap di homestay juga tidak buat kantong jebol.

Kamar yang ada di homestay di Desa Nglanggeran. (Dok. Desa Wisata Nglanggeran)

“Biaya menginap di sini sebesar Rp 150.000 per orang per hari. Biaya tersebut sudah termasuk makan dua kali dan tiket masuk Gunung Api Purba,” kata Aris kepada SHNet.

Sementara itu, salah satu Penggagas berdirinya Desa Wisata Nglanggeran Sugeng Handoko kepada SHNet menjelaskan, Desa Wisata Nglanggeran menerima Penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award. Penghargaan diberikan di Chiang Mai, Thailand pada 26 Januari 2018. Ini merupakan serangkaian dalam kegiatan ASEAN Tourism Forum.

Penghargaan ASEAN Sustainable Tourisme Award 2018 diraih oleh Desa Wisata Nglanggeran. (Dok.Desa Wisata Nglanggeran)

“Kami merasa sangat bersyukur atas apresiasi yang diberikan ini, semoga menjadi tambahan penyemangat untuk kami bisa lebih baik lagi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Untuk bisa berkelanjutan maka pengembangan pariwisata harus melibatkan masyarakat setempat, kerjasama banyak pihak dan juga tetap harus memperhatikan daya dukung baik alam maupun budaya masyarakatnya,” ujarnya.

Penta Helix merupakan salah satu kunci sukses dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Desa Nglanggeran. “ Banyak yang kita libatkan yaitu akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media,” lanjut Sugeng.

Dia menambahkan , ada 3 prinsip dasar yang diterapkan dalam pengembangan desa wisata yakni ramah lingkungan (alam dan budaya), ramah masyarakat dan ramah wisatawan. Ia mengatakan, kehadiran pariwisata harus memberi dampak positif bagi lingkungan, baik alam maupun budaya masyarakatnya.

“Hadirnya kegiatan kepariwisataan jangan sampai membuat masyarakat sebagai tuan rumah menjadi tidak nyaman, semuanya harus bahagia baik wisatawan maupun pemilik rumahnya yakni masyarakat di kawasan wisata tersebut,” ujarnya.

Wisatawan sebagai tamu harus diterima dengan baik, pelibatan masyarakat sebagai tuan rumah yang baik akan membuat wisatawan nyaman dan betah untuk aktivitas di Desa Wisata Nglanggeran.

Tahun ini , pihak pengelola akan meningkatkan pelayanan prima terhadap wisatawan dengan melakukan pelatihan guna meningkatkan kapasitas SDM dan inovasi masyarakat. Salah satu inovasinya adalah mengolah hasil perkebunan kakao yang ada di desa ini menjadi aneka olahan coklat. (Stevani Elisabeth)