Catatan “Trader”, Insiden Ambruk Tak Surutkan Perdagangan

Catatan “Trader”, Insiden Ambruk Tak Surutkan Perdagangan

Foto diambil dari https://news.detik.com (Dok. Arie/pembaca detikcom)[SHNet/Ist].

SHNet, Jakarta – Berikut ini catatan seorang trader terkait insiden ambruknya selasar Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/1) siang, kemarin. Catatan ini sedikit banyak memberikan gambaran tragedi tersebut dari perspektif pelaku perdagangan saham (trader). Berikut ini tulisannya:

Jakarta, 15 Januari. Para trader pemula sontak panik ketika siang kemarin muncul viral berita dan video ambruknya selasar di Tower 2 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.

Grup WA dan Telegram jadi media curcol (curahan hati colongan, red) mereka. “Duh gimana, ya… bursa saham ancur donk?,” sebut Dewi, di sebuah grup Telegram. “Bisa panic selling nih. Busyet dah barusan gue pasang buy saham gorengan,” kata Ucok di grup yang sama.

Para trader terutama pemula, tentu saja panik karena insiden ambruk itu terjadi sekitar pukul 12.10, di mana market masih akan buka lagi pada sesi kedua.

Sedangkan Julius, sang broker yang mengawal grup trader itu, berusaha menenangkan semua nasabahnya. “Paling koreksi dikit, bisa buat swingan daily kok,” katanya.

Pernyataan Julius itu terbukti benar. Hingga penutupan Bursa Saham pukul 16.00, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke level 6.382,20; naik 0,19% sebesar 12,13 poin.

Saham yang ditutup naik ada 184 emiten, 176 saham turun, dan 137 saham tidak mengalami perubahan. Tercatat ada 10,78 miliar saham yang ditransaksikan sepanjang hari kemarin, dengan frekuensi 293.831 kali. Total nilainya mencapai Rp 7,91 triliun.

Adapun saham yang ditutup menguat dan masuk dalam top gainers antara lain ITMG naik sebanyak Rp 1.100 ke level Rp 24.850, disusul BYAN yang merangkak naik Rp 550 ke level Rp 10.800, kemudian ADMF meningkat Rp 525 ke level Rp 8.325.

Pihak asing pun tetap bergairah meramaikan bursa saham Indonesia. Mereka membeli terbanyak untuk saham BMRI di harga Rp 8.200 sebanyak Rp 62,88 miliar; BBCA di harga Rp 22,475 sebanyak Rp 41,23 miliar; ADHI Rp 21,73 miliar; PTBA Rp 18,62 miliar, serta WSKT Rp 15,78 miliar.

Perdagangan saham yang ternyata tetap lancar hingga sore kemarin, membuat trader pemula seperti Dewi dan Ucok yang sempat curcol, menjadi lega.

Mayan (lumayan-red) juga saham kolesterol gue. Enggak berani lepas tinggi sih, takut nyangkut hehe…,” ujar Ucok. Mahasiswa Udayana ini sempat membeli saham IKAI sebanyak 50 lot di harga Rp 111 per lembar saham, lalu dijual ketika menyentuh angka Rp 133. (Wahyu Dramastuti/whm)