Blok Ideologi Dan Pakta Militer Sudah Usang

Presiden Lantik 8 Dubes Baru Di Istana

Blok Ideologi Dan Pakta Militer Sudah Usang

Sekarang Yang menonjol Kepentingan Nasional

Jakarta, 8 Januari 1972 – Presiden Soeharto menyatakan Sabtu siang bahwa perimbangan kekuatan dunia sedang berubah dimana kekuatan baru muncul, baik kekuatan nuklir maupun kekuatan ekonomi.

Blok ideologi menurut Kepala Negara telah menjadi usang, sedangkan pakta militer tidak banyak artinya lagi.
Kepentingan nasional yang sekarang menonjol dan semua bangsa mencari kepribadiannya sendiri, baik yang telah pernah dimiliki dan kemudian seolah-olah hilang maupun yang sekarang baru sadar untuk memiliki.

Presiden Soeharto kemukakan hal tersebut ketika melantik sekaligus 8 orang duta besar berkuasa penuh Republik Indonesia di Istana negara masing-masing Harsono Tjokroaminoto untuk Konfederasi Swiss, Laksdya Laut TNI Mursalim untuk Republik Sosialis Rumania, Letjen TNI Alamsyah untuk Kerajaan Belanda, Letjen TNI (KKO AL) Mukiyat untuk Republik Demokrasi Korea, Irjen Pol. Drs. Katik Soeroso untuk Kerajaan Swedia merangkap Kerajaan Finlandia, Norwegia dan Skandinavia berkedudukan di Stockholm, Mayjen TNI Soetarto Sigit untuk Kerajaan Muang Thai, Letjen TNI Djamin Ginting untuk Kanada dan J.M. Maramis untuk Belgia merangkap Ketua Perwakilan Indonesia di pasaran bersama Eropa.

Dalam sambutannya Kepala Negara selanjutnya menekankan bahwa kita ingin membangun saling pengertian antara semua negara dan ingin memahami prinsip hidup dan persoalan bangsa lain tanpa mencampuri urusan dalam negeri mereka. Yang kita pupuk adalah persamaan, bukannya memperlebar perbedaan, sebab semua bangsa memang berbeda-beda, demikian Presiden.

Dikatakan selanjutnya bahwa pembangunan memerlukan perdamaian dan untuk itu Indonesia ikut mengambil bagian. Berkata Presiden “Kita juga yakin bahwa politik luar negeri yang bebas aktif adalah jalan yang tepat untuk mempertahankan kepribadian dan sekaligus membantu perdamaian dunia. Sebab itu kita juga menempuh non-alignment dalam arti tidak serta merta memihak salah satu kekuatan dunia”. (SH)