1971 Tahun Melawan Rasialisme

Sri Paus Pada Hari Perdamaian Sedunia

1971 Tahun Melawan Rasialisme

Jakarta, 4 Januari 1971 – Sri Paus Paulus dalam amanatnya untuk Hari Perdamaian Sedunia ke-IV telah melihat tema “Setiap orang adalah saudaraku” dan hal ini berpangkal tolak dari adanya masalah penting yang sangat aktual sehingga perlu mendapatkan perhatian semua orang yang berkehendak baik.

Berkata Sri Paus selanjutnya di dalam menghadapi gejala pelik berupa konflik rasial dan berbagai bentuk dikrimimasi lainnya yang meracuni hubungan antar manusia, kita diingatkan kembali kepada dasar hukum ke-kristenan dan peri kemanusiaan yang sudah berulang kali dilukiskan dalam ketiga ensiklik sosial baru-baru ini yaitu Nageret Nagiatra, Pacem in Terria dan Populorum Progressto.

Melalui tema Hari Perdamaian Sri Paus mengarahkan perhatian seluruh umat manusia kepada hukum sabda Injil ; Gereja mempunyai karya misi untuk mempersatukan seluruh umat manusia ke dalam satu umat Allah dalam kehidupan sejarah yaitu sebuah panggilan yang akan mencapai tujuan akhirnya di dalam “Surga baru dan dunia baru”, pada waktu mana Yesus Kristus akan mempersembahkan umat manusia baru kehadapan Bapanya.

Naskah, deklarasi dan piagam sudah sejak lama menjadi kodifikasi dari etika perdamaian organisasi internasional dengan segala kemurahan dan kebaikan hatinya berusaha keras agar naskah itu menjadi bagian yang amatt penting dalam kehidupan bangsa-bangsa.

Itupun pula sebabnya mengapa PBB sampai kepada keputusan untuk membuktikan tahun 1971 sebagai tahun perjuangan melawan rasialisme. Namun harus pula diakui bahwa rangkaian usaha ini agaknya sudah luntur yang dinamakan “Egoisme Suci”, sehingga analisa terakhir menunjukkan tiada lain daripada kurangnya kewaspadaan ekstra spritual. (SH)